1 Januari 2026
Beranda blog Halaman 42583

Jokowi Lebih Tahu Diri Dibanding Ahok

Jakarta, Aktual.co — Ketua DPP Partai Gerindra Arief Poyuono mengatakan, pertemuan antara Jokowi dan Prabowo, Jumat (17/10) siang tadi, langkah yang positif bagi kepentingan nasional dimana sebelumnya banyak pihak yang tidak menginginkan pertemuan ini terjadi.
Biar bagaimanapun, kata dia, Joko Widodo adalah pemimpin nasional yang terpilih yang ditemukan dan dibesarkan oleh Prabowo. Sebab, sejarah mencatat ketika Jokowi mau maju sebagai gubenur DKI Jakarta justru ditolak oleh PDIP.
“Prabowo yang meyakinkan Ibu Megawati untuk mencalonkan Joko Widodo maju sebagai Gubenur DKI Jakarta,” kata dia dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi Aktual.co, Jumat (17/10).
Seorang pemimpin yang berhasil adalah yang bisa melahirkan pemimpin baru dan itulah yang ada pada diri Prabowo ketika mengetahui pontensi kepemimpinan seorang Joko Widodo dan kenapa Prabowo mau memperjungkan Jokowi sebagai cagub waktu itu. 
Datangnya Jokowi ke Prabowo sebelum dilantik menjadi presiden adalah bentuk penghormatan yang besar bagi Gerindra dan Prabowo. Apa yang dilakukan oleh Jokowi menunjukan bahwa dirinya adalah orang yang sangat menghormati Prabowo. Joko Widodo punya sifat yang lebih baik dan tau diri dibandingkan Ahok yang kurang mengerti adat ketimuran.
“Ya semoga Jokowi bisa benar-benar menjalankan amanat rakyat dan program trisaktinya untuk kemajuan bangsa. Kedepan Joko Widodo juga harus berani menindak tegas para koruptor dan mafia migas yang banyak merugikan negara selama pemerintahan SBY,” kata dia.
“Mari kita lupakan masalah selama pilpres dan kita ‘move on’ untuk bersama sama mendukung pemerintahan Jokowi-JK dan terus mengkritisi dan menolak setiap program pemerintah dan kebijakan Jokowi-JK yang pro neolib dan merugikan kepentingan rakyat.” 

Artikel ini ditulis oleh:

Sopir Bus Harapan Jaya Dikeler ke Polres Sidoarjo

Jakarta, Aktual.co — Sopir bus “Harapan Jaya” TH akhirnya menyerahkan diri setelah sebelumnya sempat masuk dalam daftar pencarian orang, akibat melarikan diri pascakecelakaan tunggal yang menewaskan tujuh penumpangnya di Waru, di bawa ke Polres Sidoarjo, guna proses hukum.
Kapolres Kediri Kota AKBP Budi Herdi Susianto, mengatakan, yang bersangkutan saat ini sudah dibawa ke Polres Sidoarjo untuk proses hukum lebih lanjut. Polres Kediri Kota juga tidak melakukan pemeriksaan pada yang bersangkutan.
“Kami tidak sampai ke proses penyelidikan, sebab yang menangani Polres Sidoarjo. Kami hanya membantu untuk menemukan tersangka,” katanya dikonfirmasi, Jum’at (17/10).
Pihaknya mengatakan, TH akhirnya menyerahkan diri setelah menjadi buron sejak kasus kecelakaan itu pada Senin (13/10). Kecelakaan tunggal bus Harapan Jaya dengan nomor polisi AG-7900-UR itu menewaskan tujuh penumpang, sementara lainnya luka-luka.
Petugas, lanjut dia, juga langsung koordinasi dengan Polres Sidoarjo, sebab tersangka melarikan diri. Petugas bahkan juga mendatangi rumahnya di Kota Kediri, dan meminta agar keluarga membujuk yang bersangkutan untuk menyerahkan diri.
“Kami lakukan upaya pendekatan dan dari hasil koordinasi dengan keluarga, mereka akhirnya bisa komunikasi (dengan tersangka) dan petugas menjemput,” ujarnya.
Petugas, kata dia membawa TH ke kantor Polres Kediri Kota. Ia mau menyerahkan diri setelah mendapatkan jaminan dari polisi tidak akan diapa-apakan. Ia juga di antar-istri dan sejumlah keluarganya ke Polres Kediri Kota sebelum di bawa ke Polres Sidoarjo, untuk proses hukum lebih lanjut.
Kapolres juga menyebut, selama ini yang bersangkutan berada di luar kota. Ia panik setelah kejadian kecelakaan itu, sehingga melarikan diri.
“Selama ini di luar kota. Tersangka takut nanti diapa-apakan, dan kami dari polres mau menjamin, sehingga ia menyerahkan diri,” ucapnya.
Bus PO Harapan Jaya jurusan Surabaya-Trenggalek mengalami kecelakaan tunggal di Waru, Sidoarjo. Bus tersebut baru keluar dari Terminal Purabaya sekitar pukul 04.00 WIB. Angkutan umum yang saat itu penuh dengan penumpang tersebut terguling, mengkibatkan tujuh orang tewas, dan sisanya luka-luka.
Kabar yang berkembang terkait penyebab kecelakaan, bus PO Harapan Jaya yang melaju dari timur ke barat itu kejar-kejaran dengan bus lain.

Artikel ini ditulis oleh:

FPI: Polisi Curigai Haji Lulung Danai Aksi Tiga Oktober

Jakarta, Aktual.co —Polda Metro Jaya curigai Wakil Ketua DPRD DKI Abraham Lunggana atau dikenal dengan panggilan Haji Lulung sebagai dalang di balik aksi ricuh Front Pembela Islam (FPI) 3 Oktober lalu di depan Gedung DPRD DKI di Kebon Sirih.
Informasi itu didapat Team 9 FPI dari keterangan para anggotanya yang ditahan kepolisian pasca demo menolak Ahok yang berakhir ricuh tersebut.
Kata Ketua FPI DKI Jakarta Habib Salim Al Attas, polisi saat menginterograsi sejumlah anggota FPI yang ditahan menanyakan benar tidaknya Haji Lulung yang membiayai demo.
“Masa polisi saat interograsi langsung nanya Haji lulung ya yang danain? cerita anggota FPI yang ditahan gitu. Untungnya memang anak-anak gak kenal Haji lulung, jadi cuma tau di TV. Artinya polisi menduga Haji Lulung yang danain,” ujar Salim yang dikenal dengan panggilan Habib Selon itu di DPRD DKI, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (17/10).
Tapi, mendapat laporan itu Lulung sendiri justru menilai wajar saja. Karena sejak awal dia memang sudah menduga namanya bakal disebut-sebut sebagai ‘sponsor’ aksi ricuh tersebut. 
Kendati demikian dia menegaskan kalau dirinya sama sekali tidak terlibat dengan kasus tersebut. Bahkan dia mengaku tahu adanya kericuhan itu justru dari berita di televisi. 
Namun dari hanya melihat berita yang ditayangkan salah satu stasiun televisi itu, dia mengaku sudah bisa menduga kalau kericuhan itu adalah sebuah konspirasi. “Saat saya melihat di televisi dari TV One, saya orang yang pertama mengatakan ini konspirasi,” ujarnya. 
Selain itu dia juga menilai polisi telah melakukan kesalahan prosedur dalam menertibkan kericuhan itu.
“Pasalnya di wilayah Kebon Sirih, Balaikota dan Istana Negara yang merupakan wilayah Ring 1 seharusnya kejadian seperti itu tidak boleh terjadi. Harusnya rekan dewan yang lain juga bertanya kenapa itu bisa terjadi ? Jadi bukan hanya sekedar usut dalangnya, tapi cari aktor intektualnya,” paparnya.
Selain itu, Lulung juga mempermasalahkan sikap media yang seolah-olah menempatkan bahwa desakan FPI dan berbagai ormas yang menuntut pelengseran Ahok merupakan pertarungan antara dirinya pribadi dengan Ahok.
“Pertama saat aksi yang pertama saya ikut orasi dan sejak awal media telah membentuk seolah-olah ini pertarungan ‘head to head’ antara Haji Lulung dan blokohok (Ahok). Padahal ini permasalahan Ahok dengan masyarakat, Ahok dengan DPRD.”  

Artikel ini ditulis oleh:

Busyro Percaya Kehadiran Robby Tak Ganggu Kinerja KPK

Jakarta, Aktual.co — Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Busyro Muqoddas meyakini, jika Robby Arya Brata masuk menggantikan dirinya sebagai salah satu pimpinan tak akan menghambat kinerja lembaga tersebut.
“Tidak lah, seharusnya sebelum 10 Desember kan sudah terpilih,” kata Busyro di Gedung KPK, Jumat (17/10).
Ketika dimintai komentarnya terkait dengan Robby, dosen pengajar disalah satu universitas di Jogja itu tak banyak komentar. Dia mengaku, belum kenal secara emosional dengan Robby. “Saya belum kenal, kenalnya waktu seleksi,” kata dia.
Ketika disinggung lagi, soal dirinya jika terpilih nanti menjadi salah satu pimpinan KPK, dia malah berharap salah satu pimpinan yang akan mengisi KPK merupakan warga negara yang terbaik.
“Saya memberikan satu statement saja: Saya ikuti tes ini dengan baik, mudah-mudahan terpilih yang terbaik untuk bangsa. Amin,” kata dia.
Dua nama yang akan diserahkan Presiden SBY ke DPR yakni, Busyro Muqoddas dan Robby Arya Brata. Busyro sendiri merupakan calon incumben, sementara Robby adalah Kepala Bidang Hubungan Internasional Sekretariat Kabinet.
Kedua nama ini, menyingkirkan empat orang lain dalam tes wawancara capim KPK yaitu mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah I Wayan Sudirta,  jurnalis dan advokat Ahmad Taufik, dosen hukum Universitas Pelita Harapan Jamin Ginting dan spesialis perencanaan dan anggaran Biro Rencana Keuangan KPK Subagio.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu
Nebby

Lengser dari Menko, CT Fokus Jadi Pengusaha

Jakarta, Aktual.co — Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Chairul Tanjung menyatakan dirinya akan kembali fokus menangani bisnis dan menjalani rutinitas sebagai pengusaha setelah tidak lagi menjadi pejabat negara.

“Saya sudah menyampaikan sejak awal bahwa saya akan kembali ke dunia saya karena saya punya tanggung jawab yang harus diselesaikan,” katanya saat ditemui di Jakarta, Jumat (17/10).

Meskipun tidak lagi menduduki jabatan di pemerintahan, Chairul mengatakan bahwa dirinya siap untuk memberikan bantuan apabila negara membutuhkan kontribusi dan pengalamannya sebagai pengusaha nasional.

“Saya tetap akan membantu pemerintahan, dalam artian, di mana pun posisi saya berada,” kata pengusaha nasional pemilik kelompok perusahaan CT Corp ini.

Mengenai pengganti dirinya, Chairul enggan menyebut nama tertentu karena hal tersebut merupakan hak prerogatif dari presiden. Namun, dia mengharapkan figur yang terpilih memiliki kompetensi sebagai Menko Perekonomian.

“Kita berharap posisi khusus di perekonomian itu diisi oleh orang yang kompeten. Kalau dia tidak mempunyai kemampuan untuk menjalankan tugas dan fungsinya, tidak mengerti apa tugasnya, kan susah, mau dibawa ke mana nantinya,” katanya.

Selain itu, menurut Chairul, sosok Menko Perekonomian yang baru harus memiliki sifat kepempimpinan yang kuat dan kemampuan manajerial yang baik, serta tidak memiliki konflik kepentingan dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

“Kalau figurnya tidak punya ‘leadership’ yang kuat, bagaimana nantinya? Berikutnya orangnya tidak punya ‘conflict of interest’ karena kalau dia memiliki ini, pasti orang ini tidak akan mampu menjalankan tugas dan fungsinya,” ujarnya.

Chairul Tanjung resmi menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sejak 19 Mei 2014 menggantikan Hatta Rajasa yang maju dalam pemilihan presiden sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Seleksi Menteri, Jokowi Kalah dengan SBY

Jakarta, Aktual.co — Dalam proses pembentukan kabinet, Indonesia Corruption Watch (ICW) lebih mengapresiasi bentukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dibanding presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi).
Pada era SBY, dimana pembentukan postur kabinet lebih transparan dan terbuka. Tidak seperti Jokowi yang melakukan dengan sistem tertutup.
“Jokowi masih kalah membangun postur kabinetnya dibanding SBY. Kalahnya Jokowi itu ada di proses,” kata peneliti ICW, Donal Fariz, dalam konferensi pers bertema “Jangan Pilih Anggota Kabinet Bermasalah”, di Kantor ICW, Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (17/10).
ICW pun kecewa dengan sikap Jokowi yang hingga saat ini belum terbuka soal siapa calon menteri yang akan membantunya dalam menjalankan pemerintahan.
“Jokowi berjanji transparansi, tapi sampai sekarang belum dilakukan. Kami mau ingatkan Jokowi untuk menunjukkan janji tersebut,” kata Donal.
Donal mendesak agar Jokowi segera melakukan transparansi dalam pembentukan menterinya. Meskipun pengangkatan menteri merupakan hak prerogatif presiden, semangat Jokowi untuk menghadirkan pemerintahan yang transparan dan akuntabel harus dimulai sejak sekarang.
Sekedar informasi, Jokowi sudah menyerahkan sebanyak 43 calon anggota kabinetnya kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Nantinya, calon para pembantu Jokowi-Jusuf Kalla itu akan ditelusuri kedua lembaga tersebut.
Namun, Jokowi tetap tidak mau mengungkap siapa saja 43 orang itu. Jokowi meminta publik menunggu pengumuman pada Selasa (21/10), atau sehari setelah pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih. 

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain