4 April 2026
Beranda blog Halaman 43043

Jaksa Cecar Syahrul Soal Investasi Tanah

Jakarta, Aktual.co — Terdakwa Syahrul Raja Sampurnajaya mengaku, telah bekerjasama dengan PT Gerindo Perkasa terkait dengan investasi tanah.
Hal tersebut bermula ketika Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi Elly Kusumastuti mempertanyakan dakwaan ke lima yang dituduhkan kepada Syahrul Raja Sempurnajaya diamana Syahrul bekerjasama dengan Direktur Utama PT Garindo Perkasa, Sentot Susilo.
“Bapak kenal denga sodara Sentot Susilo,” tanya Jaksa Elly kepada Syahrul di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (15/10).
Syahrul pun menjawab dengan enteng. Dia menyebut perkenalan dengan Sentot karena dikenalkan oleh Komisaris Utama PT Garindo Perkasa Ida Nurraida untuk menjalin kerja sama investasi. “Saya dikenalkan itu pada bulan Mei 2012. Mereka mula-mulanya mencari investor,” kata Syahrul.
Lantas Jaksa Elly menanyakan perihal investasi tersebut kepada Syahrul. “Apakah bapak menginvestasikan kepada Gerindo?”
“Semula saya katakan ‘wah ini bukan bidang saya’. Karena mereka membutuhkan uang Rp 50 miliar, terus saya bilang ‘wah ini sulit ini, nah itu lah yang saya sampaikan. Tapi apakah tak bisa secara bertahap saya bilang juga. Nah itu lah perkenalan saya,” jawab Syahrul.
Syahrul pun mengakui telah bekerja sama dengan PT Gerindo Perkasa setelah 2 minggu pertemuan dengan Sentot. Syahrul mengatakan, Sentot bersama dengan timnya datang membawa proposal baru. “Kemudian saya baca, dan ada sekitar 20 hektar dan totalnya Rp 2,5 miliar.”
Meski sudah melakukan kerja sama dengan PT Gerindo, namun Syahrul mengaku lupa soal perjanjian kerjasama yang dilakukan itu. Dia mengaku, telah membaca semua isi perjanjian dengan PT Gerindo tersebut.
Lantas Jaksa Elly pun mengingatkan dengan membacakan Berita Acara Pemeriksaan miliknya yang menyebut, bahwa dirinya telah memakai uang untuk kepeluan perizinan dan perinsip-prinsip. “Apakah setelah berinvestasi bapak menginvestasikan kepada Gerindo seperti yang bapak katakan tadi Rp 2,5 miliar. Bagaimana penyerahan uangnya?”
“Pertama saat saya mulai menandatangani, saya memberikan 50 ribu dollar dan sisanya melalui rekening milik ibu Herlina Triana Diehl yang ditransfer ke PT Gerindo,” kata dia menjawab pertanyaan jaksa.
Lantas Jaksa Elly pun menanyakan perihal uang tersebut. “Apakah uang tersebut diberi tahu, uangnya untuk diduganakan mengurus izin, kepada kepal dinas?”
“Tidak,” kata Syahrul.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu
Nebby

MA Tolak Kasasi Chairun Nisa

Jakarta, Aktual.co — Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan kasasi Chairun Nisa dan menolak perbaikan kasasi jaksa penuntut umum dalam kasus penyuapan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar.
“Dengan ditolaknya kasasi tersebut, berati kembali ke putusan pengadilan sebelumnya,” kata Kabiro Hukum dan Humas MA Ridwan Mansyur di Jakarta, Rabu.
Namun, Ridwan belum bisa menjelaskan secara rinci pertimbangan majelis hakim atas penolakan permohonan kasasi ini.
“Putusan masih dalam proses minutasi, sehingga saya tidak tahu pertimbangannya apa,” ucap Ridwan.
Perkara nomor 1240 K/PID.SUS/2014 itu diputus pada 7 Oktober 2014 oleh majelis kasasi yang diketuai Artidjo Alkostar dengan anggota MS Lumme dan Leopold Luhut Hutagalung.
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta telah memvonis Chairun Nisa, yang didakwa menjadi perantara suap terhadap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar, selama empat tahun penjara dan denda Rp100 juta subsider tiga bulan kurungan.
Chairun Nisa dinyatakan terbukti melanggar Pasal 11 Undang-Undang nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 20 Tahun 2001 juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.
Chairun Nisa selaku anggota DPR RI terbukti menerima suap Rp75 juta dari Bupati Gunung Mas Hambit Bintih.
Uang tersebut diberikan Hambit kepada Nisa karena terdakwa telah membantu Hambit Bintih menghubungi dan mendekati Akil Mochtar untuk mempengaruhi putusan MK terkait gugatan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Dua Tahun Jokowi-Ahok, Ini Komentar Pengamat

Jakarta, Aktual.co —Pengamat perkotaan, Yayat Supriatna, menilai dalam dua tahun memegang tampuk pimpinan di jajaran Pemerintah Provinsi DKI pasangan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) masih lambat dalam penanganan sistem transportasi massal untuk mengurangi kemacetan di Jakarta.
Selain itu, dia juga menilai Jokowi-Ahok masih lambat dalam upaya relokasi warga yang terkena program normalisasi sungai.
Namun diakuinya untuk mengubah Jakarta jadi lebih baik memang tidak cukup hanya dengan satu atau dua tahun saja. 
Kata Yayat, pemerintahan Jokowi-Ahok memang terlihat berusaha membuat nilai baru di masyarakat berupa terobosan baru terhadap kebijakan, penataan kelembagaan, hingga manajemen. 
Sayangnya terobosan baru itu berhadapan dengan nilai lama yang enggan mengikuti nilai baru. Sehingga menimbulkan konflik antara pemerintah dengan warga atau lembaga masyarakat.
“Ini merupakan masa transisi untuk menuju tata kelola baru tetapi ada resistensinya. Ada yang tidak terima, yang terganggu zona nyamannya karena tidak semua orang menyukai perubahan nilai. Birokrasi pemerintahan takut dengan terobosan yang baru, ada konflik antara nilai lama dan baru dalam upaya perbaikan sistem,” ujar Yayat kepada Aktual.co, Rabu (15/10).
Soal pelayanan kepada masyarakat, Yayat mengakui memang banyak perubahan yang dilakukan Jokowi-Ahok. 
Di mana masyarakat tidak perlu proses yang lama dan rumit untuk melakukan pengaduan masalah. Sehingga warga bisa langsung mengadu ke gubernur untuk masalah yang mereka alami di Jakarta. 
Dengan begitu, kualitas pelayanan di Jakarta akan semakin baik karena ada kedekatan antara masyarakat dengan pemimpin.  
“Orang jadi lebih terbuka karena sekarang mengadu ke gubernur pun bisa dilakukan,” ujarnya.
Menurut Yayat, secara garis besar untuk membangun Jakarta bukan hanya mengandalkan pemimpin saja. Tapi juga membutuhkan usaha dari masyarakatnya juga untuk bersama-sama mau melakukan perubahan. 
Karena jika tidak diindahkan oleh masyarakat, segala kebijakan baru yang dilakukan oleh pemerintah guna membangun Jakarta yang baru akan menjadi sia-sia.
“Masih ada harapan. Ada kemajuan meskipun terkesan lamban. Oleh karena itu, semua orang harus mau dan sama-sama berubah. Pembangunan harus berjalan dengan benar untuk membangun perilaku manusia menuju Jakarta yang baru,” ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Kapolri Kumpulkan Kapolda Se-Indonesia di PTIK

Jakarta, Aktual.co — Kapolri Jenderal Sutarman mengumpulkan para Kepala Kepolisian Daerah se-Indonesia di Gedung Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, di Jakarta, Rabu (15/10).
Terpantau Kapolda Kalimantan Barat Brigadir Jenderal Arief Sulistyanto sudah hadir di gedung tersebut. Bekas Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Badan Reserse Kriminal Polri ini mengatakan bahwa nantinya akan diberikan pengarahan oleh Kapolri Jenderal Sutarman.
“Tadi dari acara di Sentul. Ini di sini nanti akan diberikan pengarahan oleh Bapak Kapolri,” tegas Arief di gedung Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, (PTIK) Jakarta Selatan, Rabu (15/10).
Seperti diketahui, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertemu dengan seluruh jajaran pejabat dari tingkat kota, kabupaten, provinsi hingga pusat, dalam acara silaturahim bertajuk ‘Menuju Pembangungan Nasional yang Berkelanjutan’, di Sentul International, Convention Centre, Rabu (15/10).
Acara ini dihadiri seluruh Kapolres, Kapolda hingga Kapolri serta Jaksa Agung dan TNI serta para gubernur dan bupati se-Indonesia.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Jika Benar Rekrut SMI, Jokowi Terjangkit Virus Neolib

Jakarta, Aktual.co — Srikandi Centurygate Sri Mulyani Indrawati (SMI) masuk dalam nominasi calon menteri Joko Widodo. SMI diyakini menjadi kandidat kuat dalam tim ekonomi kabinet Jokowi-JK.
Lamen Hendra Saputra Ketua Umum LMND dalam siaran pers yang diterima redaksi, Kamis (15/10), masuknya nama SMI dalam bursa calon menteri diduga atas desakan kubu neoliberal alias mafia Barkeley.
“Jika benar Jokowi-JK dan Megawati benar-benar menarik Sri Mulyani dalam kabinet sudah pasti kabinet Jokowi-JK akan terjangkit virus neolib,” tegasnya.
Dan dapat dipastikan, imbuhnya, tidak akan ada perubahan yang signifikan untuk kesejahteraan rakyat. Karena yang dilakukan Sri Mulyani pasti akan melanjutkan program ekonomi era SBY yang hanya mampu melakukan pencabutan subsidi dan memberi subsidi kepada orang. Tidak pernah berfikir bagaimana Indonesia menjadi bangsa yang produktif, dapat menyerap tenaga kerja yang luas. 
“Lalu apa bedanya SBY-Boediono dan Jowowi-JK? Mungkin fisiknya saja beda, kebijakannya tetap dan tidak mampu melawan tekanan IMF/Bank Dunia dan kaum neolib,” demikian Lamen.

Wali Kota Lhokseumawe Boikot Ekspor Gas Arun

Banda Aceh, Aktual.co — Pemerintah Kota Lhokseumawe memboikot pengapalan terakhir PT Arun LNG ke Korea Selatan, Rabu (15/10) di pelabuhan khusus Blang Lancang Lhokseumawe.
Pernyataan tegas itu disampaikan Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya pada situs resmi kota tersebut di laman www.lhokseumawekota.go.id. Dalam keterangannya, mantan pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) mengajak seluruh jajarannya agar tidak hadir pada acara pengapalan terakhir LNG ke Korea Selatan. 
Alasannya, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) dan Pertamina  tidak melibatkan Pemerintah Aceh serta Pemerintah Kota Lhokseumawe dalam rencana pengembangan kilang Arun kedepan.
“Kita ajak seluruh jajaran tidak menghadiri pengapalan gas terakhir itu. Karena mereka tak pernah mengajak pemerintah Aceh dan Pemko Lhokseumawe untuk pengembangan kilang Arun seperti regasifikasi,” tulis Suadi Yahya.
Sementara itu, manajemen PT Arun akhirnya menemui puluhan demontran dari mahasiswa dan masyarakat eks Blang Lancang Lhokseumawe di pintu gerbang perusahaan itu di Lhokseumawe. Hal itu ditegaskan Vice President Director PT Arun, Del Yuzar didepan puluhan pendemo.
“Kami akan mempertemukan masyarakat dengan PT Pertamina dan pemerintah pusat untuk membahas persoalan ini. Kita harap, persoalan ini bisa segera menemukan titik temu,” ujar Del Yuzar didepan demonstran.
Namun, ide itu ditolak oleh demonstran. Mereka meminta agar Del Yuzar berani menandatangani perjanjian hitam di atas putih agar berkekuatan hukum. Sehingga, masyarakat bekas Blang Lancang itu bisa mendapatkan haknya. Namun, sampai berita ini dikirimkan, Del Yuzar belum bersedia menandatangani perjanjian tersebut. Sementara demonstran masih menduduki pintu masuk perusahaan itu.
Seperti diberitakan sebelumnya, puluhan mahasiswa dan masyarakat berdemonstrasi di depan pintu gerbang PT Arun NGL. Pasalnya, sejak 35 tahun silam, masyarakat belum menerima ganti rugi akibat pembangunan perusahaan yang mengolah gas tersebut. Persoalan ini telah diperjuangkan sejak tahun 2009, namun hingga kini belum ada realisasi dari janji pemerintah pusat untuk memberikan lahan pengganti pada masyarakat.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain