8 April 2026
Beranda blog Halaman 569

Menunggu Bukti Istana, Sulap Sampah Jadi Listrik

Aktivitas pembuangan sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (26/10). DPRD Kota Bekasi berencana memanggil Gubernur DKI Jakarta terkait klarifikasi adanya pelanggaran perjanjian kerjasama nomor 4 tahun 2009 tentang pemanfaatan lahan TPST Bantar Gebang, diantaranya persoalan standarisasi kendaraan dan jam operasional serta kewajiban Pemprov DKI tentang pembayaran tipping fee. ANTARA FOTO/Risky Andrianto/ama/15

Jakarta, Aktual.com – Dalam rapat kabinet pertengahan Oktober lalu, Presiden Prabowo Subianto menatap layar besar menampilkan citra Bantargebang. “Itu bukan hanya sampah. Itu bahan bakar masa depan kita,” kata Prabowo.

Ucapan itu menjadi simbol perubahan arah kebijakan, dari pengelolaan sampah menuju transformasi energi terbarukan. Pemerintah kini menargetkan 10 kota prioritas untuk pembangunan fasilitas Waste to Energy (WtF) dengan kapasitas total 250 megawatt hingga 2029.

Namun, di balik visi besar itu, banyak pakar mengingatkan soal kesiapan teknis dan ekonomi. Dr. Enri Damanhuri ahli dari ITB, menegaskan bahwa karakter sampah Indonesia “tidak cocok untuk dibakar langsung, karena kadar air dan organiknya tinggi,” katanya kepada aktual.com.

“Tanpa sistem pemilahan dan rantai pasokan yang stabil, WtE hanya akan jadi proyek mahal,” tambahnya.

Baca juga:

Walhi Sebut Perpres 109 2025 “Jurus Mabuk” Pemerintah Atasi Darurat Sampah

Disi lain Tiara De Silvanita, seorang pegiat lingkungan yang lama memantau isu pengelolaan sampah di Indonesia menegaskan, teknologi tak akan menyelamatkan kita tanpa tata kelola. Ia pun menambahkan, keberhasilan program ini bukan soal canggih atau tidaknya teknologi, tapi seberapa jauh pemerintah konsisten memperkuat sistem dan edukasi publik.

“Waste to Energy bisa jadi solusi tambahan, tapi bukan solusi utama. Selama perilaku konsumsi dan kebijakan pengelolaan sampah belum berubah, kita akan terus menambal masalah, bukan menyelesaikannya,” katanya.

Ia pun mengingatkan, sampah itu bukanlah musuh, tapi cermin. “Dari cara kita memperlakukan sampah, terlihat bagaimana kita memperlakukan bumi — dan sesama manusia.”

Masalah Dibalik Proyek Waste to Energy yang Revolusioner

Gunungan sampah di berbagai daerah Indonesia kini bukan sekadar tumpukan limbah, namun simbol dari dua hal sekaligus: krisis yang membusuk dan janji besar yang sedang dirancang Presiden Prabowo.

Dalam suasana penuh optimisme pasca peluncuran Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan Menjadi Energi Terbarukan, pemerintah menegaskan komitmen baru, mengubah beban ekologis menjadi sumber energi masa depan.

Namun, bagi Tiara, kebijakan itu tidak bisa hanya dilihat dari sisi teknologi dan target energi semata. Ia menilai, di balik semangat sampah jadi listrik, ada risiko besar yang belum cukup disadari publik — dari polusi udara, beban biaya, hingga ancaman terhadap mata pencaharian rakyat kecil.

“Proyek Waste to Energy memang terdengar revolusioner, tapi kalau dilakukan tanpa kehati-hatian, bisa menimbulkan masalah baru. Jangan hanya menghilangkan sampah, tapi ubah pola pikirnya,” tegasnya saat ditemui, Sabtu, (8/11/2025).

Menurutnya, penggunaan insinerator dalam proyek Waste to Energy (WtE) berpotensi menimbulkan polusi udara berbahaya seperti dioksin dan abu beracun, terutama bila pengawasan emisinya tidak ketat.

“Pengendalian emisi itu tidak murah. Kalau tidak dikelola dengan disiplin tinggi, kita hanya mengganti masalah lama dengan polusi baru,” ujarnya.

Baca juga:

PLN EPI Pamerkan Keunggulan Hidrogen di Ajang GHES

Selain itu mengacu pada data dari KLHK, 60 persen sampah nasional adalah organik dan basah — jenis yang tidak cocok untuk dibakar dalam teknologi WtE tanpa proses pra-pengeringan dan pemilahan.

“Kalau sistemnya tidak diubah, proyek ini bisa boros energi, mahal, dan justru tidak efisien,” tambah Tiara.

Peringatan Tiara bukan tanpa alasan. Di banyak daerah, pengelolaan sampah masih jauh dari kata ideal. Semisal di TPA Kaliwlingi, Brebes, gunungan sampah setinggi lebih dari sepuluh meter longsor dan menutup jalan utama sejak September lalu. Para petugas bekerja dengan hanya satu unit alat berat, padahal idealnya empat. TPA itu pun masih menerapkan sistem open dumping dan telah mendapat sanksi administrasi dari KLHK awal tahun ini.

Pat Gulipat Pengelolaan Sampah dari Bisnis Sampai Sosial

Selain isu lingkungan, Tiara menyoroti pergeseran tanggung jawab yang sering terjadi saat proyek besar seperti ini diluncurkan. “Industri dan pemerintah daerah bisa saja bersembunyi di balik jargon ‘sampah jadi energi’, padahal kewajiban utama mereka adalah mengurangi dan memilah sampah sejak dari sumber,” jelasnya.

Tiara menegaskan, pengelolaan sampah yang benar dimulai dari pemilahan di rumah tangga, pendidikan publik, dan pengurangan volume, bukan hanya pembakaran massal. “Kalau pendekatannya hanya membakar, masyarakat kehilangan insentif untuk memilah. Padahal pemilahan itu fondasi dari pengelolaan berkelanjutan,” paparnya.

Bagi Tiara, program WtF bukan sekadar teknis, tapi juga soal keadilan sosial. Ribuan pemulung dan pelaku daur ulang informal selama ini menjadi tulang punggung pengurangan sampah di Indonesia, meski tanpa dukungan berarti dari negara harus diperhatikan.

“Kalau semua sampah masuk ke insinerator, mereka akan kehilangan mata pencaharian. Padahal peran mereka sangat besar dalam menyelamatkan lingkungan,” ungkapnya.

Baca juga:

Indonesia dan Jepang: Jejak Berbeda dalam Transisi Energi Terbarukan

Di Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat ribuan pemulung masih mengais plastik dari gunung limbah. Sementara di Jakarta, pemerintah merancang masa depan dengan istilah baru ‘Waste to Energy’ yang digadang-gadang pemerintah di lokasi itu masih dalam tahap perencanaan.

Kasus-kasus seperti Brebes, Bantar Gebang, Suwung (Bali), dan Sarimukti (Bandung Barat) menunjukkan keterbatasan fasilitas dan tata kelola, sekaligus menjadi latar nyata di balik wacana besar ‘sampah jadi listrik.’

Suara seperti milik Tiara menjadi pengingat, bahwa solusi sejati tidak hanya lahir dari pabrik insinerator, tapi dari kesadaran kolektif untuk mengubah pola pikir dan sistem pengelolaan yang selama ini setengah hati. Karena di negeri yang menghasilkan 56 juta ton sampah per tahun, persoalan utamanya bukan pada teknologi yang belum ada — tapi pada komitmen yang belum ditepati.

Laporan: Taufik Akbar Harefa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikel ini ditulis oleh:

Erobi Jawi Fahmi
Eka Permadhi

Palestina Sebut Israel Tidak Patuhi Kesepakatan Gencatan Senjata

Ilustrasi - Dampak berbagai kerusakan akibat serangan Israel yang terus berlangsung di Gaza. (ANTARA/Anadolu/py.)

Moskow, aktual.com – Gencatan senjata di Jalur Gaza tetap sangat rapuh, karena Israel tidak sepenuhnya mematuhi ketentuan kesepakatan, kata Duta Besar Palestina untuk Austria dan peninjau tetap di PBB, Salah Abdel Shafi, kepada RIA Novosti.

“Gencatan senjata ini jelas tidak stabil, bahkan sangat rapuh. Sejak diberlakukan, Israel telah menewaskan sekitar 260 warga Palestina di wilayah yang dikontrolnya,” ujar diplomat Palestina itu.

Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku pada 10 Oktober.

Tiga hari kemudian, Presiden AS Donald Trump, Presiden Mesir Abdel Fattah Sisi, Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menandatangani deklarasi mengenai gencatan senjata di Gaza.

Dalam kerangka kesepakatan ini, Hamas membebaskan 20 sandera yang masih hidup, yang ditahan sejak 7 Oktober 2023. Sebagai imbalannya, Israel melepaskan 1.718 tahanan Palestina dari Gaza serta 250 narapidana Palestina dengan hukuman penjara panjang.

Meski pertukaran tahanan selesai, ketegangan tetap tinggi. Observasi dari berbagai pihak menunjukkan insiden kekerasan sporadis terus terjadi di wilayah yang dikontrol Israel.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa gencatan senjata bisa runtuh kapan saja.

Shafi menekankan bahwa stabilitas jangka panjang hanya bisa tercapai jika Israel benar-benar menegakkan kesepakatan dan menghentikan serangan di wilayah Palestina.

“Tanpa langkah nyata dari Israel, gencatan senjata ini hanya akan bertahan sementara,” katanya.

Situasi ini menjadi perhatian internasional, karena eskalasi lebih lanjut dapat memicu krisis kemanusiaan baru di Gaza, yang telah lama menghadapi tekanan berat akibat blokade dan konflik bersenjata.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Aliansi Pemerhati Konstitusi Laporkan Hakim MK Arsul Sani ke Bareskrim Terkait Dugaan Ijazah Doktor Palsu

Reshuffle Kabinet Indonesia Maju
Arsul Sani/DOK/NET

Jakarta, aktual.com – Aliansi Masyarakat Pemerhati Konstitusi resmi melaporkan Hakim Konstitusi Arsul Sani ke Bareskrim Polri terkait dugaan penggunaan ijazah doktor palsu. Laporan tersebut dilayangkan setelah muncul keraguan atas keabsahan gelar akademik yang digunakan Arsul saat mendaftar sebagai hakim konstitusi.

“Kami dari Aliansi Masyarakat Pemerhati Konstitusi hari ini mendatangi Bareskrim Mabes Polri dalam rangka untuk melaporkan salah satu hakim Mahkamah Konstitusi berinisial AS yang diduga memiliki atau menggunakan ijazah palsu,” kata Koordinator Aliansi, Betran Sulani kepada wartawan di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat (14/11/2025).

Betran menegaskan bahwa jabatan Hakim MK mensyaratkan integritas akademik yang tidak boleh diragukan, termasuk keabsahan gelar doktor yang menjadi salah satu syarat fundamental. Karena itu, kebenaran ijazah Arsul Sani harus diverifikasi demi menjaga kredibilitas Mahkamah Konstitusi.

“Maka apabila salah satu hakim yang kemudian memiliki ijazah palsu atau menggunakan ijazah palsu untuk mendapatkan jabatan sebagai hakim MK, maka ini adalah salah satu bentuk ataupun tindakan yang mencederai konstitusi itu sendiri. Jadi, itu yang menjadi alasan kami untuk datang dan mau membuat laporan kepolisian,” ucapnya.

Dalam laporannya, Betran menyampaikan telah menyerahkan sejumlah bukti berupa pemberitaan terkait penyelidikan universitas tempat Arsul menempuh gelar doktor. Ia menjelaskan bahwa kampus tersebut sedang diperiksa oleh otoritas antikorupsi Polandia terkait keabsahan program pendidikannya.

“Bukti yang kami dapatkan atau yang kami terima, salah satunya itu adalah pemberitaan, pemberitaan terkait dengan penyelidikan salah satu Komisi Pemberantasan Korupsi yang ada di Polandia yang coba untuk melakukan pemeriksaan terkait dengan legalitas kampus, yang mana kampus tersebut itu merupakan kampus yang di mana salah satu hakim berkuliah mendapatkan titel S3 di tahun 2023,” jelas dia.

Saat dimintai tanggapan secara terpisah, Arsul Sani memilih tidak mengomentari lebih jauh. Ia menyatakan terikat etika sebagai hakim dan menyerahkan sepenuhnya proses penanganan kepada Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK).

“Sebagai hakim saya terikat kode etik untuk tidak berpolemik. Kan soal ini juga ditangani MKMK,” tuturnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Wakil Ketua Komisi VIII DPR Soroti Lonjakan Kasus Penculikan Anak: Sistem Kita Rentan Dieksploitasi

Ilustrasi penculikan (Getty images/EyeEm)

Jakarta, aktual.com – Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Singgih Januratmoko memberikan perhatian serius terhadap meningkatnya kasus penculikan anak di berbagai daerah. Ia menilai maraknya peristiwa tersebut menunjukkan lemahnya sistem perlindungan anak yang mudah disalahgunakan oleh pelaku kejahatan.

“Penculikan anak bukan masalah lokal atau insidental, ini adalah peringatan serius bahwa sistem kita rentan dieksploitasi,” kata Singgih kepada wartawan, Sabtu (15/11/2025).

Singgih menekankan bahwa isu penculikan dan perdagangan anak harus ditempatkan sebagai prioritas legislasi sekaligus pengawasan. Ia mengingatkan bahwa eskalasi kasus yang muncul di ruang publik hanyalah sebagian kecil dari persoalan yang lebih kompleks.

“Kasus yang muncul di permukaan, seperti hilangnya balita Bilqis, kemungkinan hanya sebagian kecil dari potensi kejahatan yang lebih sistemik dan tersembunyi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti perlunya penguatan regulasi media sosial karena sejumlah kasus terjadi akibat celah pengawasan digital. Menurutnya, pemerintah bersama Komisi I serta Kementerian Komunikasi dan Informatika harus segera meninjau ulang aturan terkait platform digital.

“Pemerintah bersama Komisi I dan Komunikasi dan Informatika harus segera melakukan evaluasi regulasi platform digital. Media sosial harus bertanggung jawab atas konten ‘adopsi ilegal’ dan transaksi anak, serta memperkuat kanal pengaduan yang responsif dan transparan,” jelasnya.

Sinkronisasi antarlembaga juga menjadi perhatian Singgih. Ia menilai kerja sama yang solid antara Kepolisian, Kominfo, Kementerian Sosial, dan lembaga masyarakat sangat diperlukan untuk mengungkap jaringan pelaku.

“Tim khusus bisa dibentuk untuk menyelidiki sindikat-sindikat adopsi ilegal yang menggunakan platform digital,” ujarnya.

Selain itu, ia menegaskan pentingnya edukasi literasi digital bagi orang tua serta dukungan psikologis jangka panjang bagi anak korban penculikan. Menurutnya, DPR dapat mendorong alokasi anggaran khusus untuk layanan rehabilitasi, pendampingan hukum, serta penguatan sistem pendataan korban.

“DPR bisa mendorong penganggaran khusus untuk layanan rehabilitasi dan pendampingan hukum bagi mereka, serta memperkuat sistem pendataan korban agar bisa di-track dan dipantau,” paparnya.

Lebih jauh, Singgih meminta adanya keterbukaan data terkait penculikan dan perdagangan anak agar kebijakan pencegahan dapat dirancang secara tepat sasaran.

“Jumlah laporan, modus yang paling umum, hasil penanganan, dan rekomendasi penindakannya (dirilis). Dengan data yang jelas, kebijakan pencegahan bisa lebih efektif,” tuturnya.

Sebagai catatan, publik sebelumnya dihebohkan dengan hilangnya Bilqis, balita berusia empat tahun di Makassar, yang ditemukan hampir seminggu kemudian di Jambi setelah menjadi korban penculikan dan dijual dengan surat palsu. Selain itu, kasus hilangnya Alvaro Kiano Nugroho (6) di Pesanggrahan, Jakarta Selatan, masih menjadi misteri setelah delapan bulan belum ditemukan.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Utusan AS Rencana Temui Kepala Negosiasi Hamas Bahas Gencatan Senjata

Utusan Khusus AS Steve Witkoff berencana untuk segera bertemu dengan kepala negosiator Hamas, Khalil al-Hayya, menurut laporan pada Jumat (14/11).
Utusan Khusus AS Steve Witkoff berencana untuk segera bertemu dengan kepala negosiator Hamas, Khalil al-Hayya, menurut laporan pada Jumat (14/11).

Washington, aktual.com – Utusan Khusus AS Steve Witkoff berencana untuk segera bertemu dengan kepala negosiator Hamas, Khalil al-Hayya, menurut laporan pada Jumat (14/11).

New York Times melaporkan tanggal pertemuan tersebut belum ditetapkan, mengutip dua sumber anonim, dan bahwa rencana tersebut dapat berubah, namun salah satu pejabat mengatakan Witkoff sedang berupaya membahas gencatan senjata di Jalur Gaza yang terkepung sejak Oktober.

Pertemuan itu “menunjukkan bahwa Witkoff tidak gentar oleh kritik Israel dan Amerika yang mengatakan bahwa keterlibatan AS dengan Hamas memberikan legitimasi yang tidak beralasan kepada kelompok tersebut,” lapor New York Times.

Baik Gedung Putih maupun Hamas tidak menanggapi permintaan komentar.

Namun, pertemuan itu bukanlah yang pertama antara Witkoff dan al-Hayya. Mereka pertama kali bertemu pada Oktober menjelang penandatanganan perjanjian gencatan senjata, dan Witkoff mengatakan ia bersimpati dengan al-Hayaa atas pengalaman bersama mereka kehilangan seorang putra.

Putra Witkoff, Andrew, meninggal karena overdosis opioid pada 2011. Himam al-Hayya tewas dalam serangan Israel di Doha, Qatar, pada September yang bertujuan membunuh Khalil al-Hayya dan pejabat senior Hamas lainnya.

“Saya mengatakan kepadanya bahwa saya telah kehilangan seorang putra,” kata Witkoff dalam wawancara dengan program televisi 60 Minutes di CBS, “dan bahwa kami sama-sama bagian dari sebuah ‘klub’ yang sangat buruk, yaitu para orang tua yang telah menguburkan anak mereka.”

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Rosan Ungkap Raja Yordania Tawarkan Tiga Peluang Proyek Strategis ke Danantara

Jakarta, aktual.com – Menteri Investasi dan Hilirisasi/CEO Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan, Raja Kerajaan Yordania Hasyimiah Raja Abdullah II bin Al Hussein menawarkan tiga peluang proyek strategis kepada Danantara sebagai bentuk penguatan hubungan investasi antara kedua negara.

“Langsung dari Raja Jordan (Raja Kerajaan Yordania Hasyimiah Raja Abdullah II bin Al Hussein) juga menyampaikan potensi proyek atau kolaborasi yang ditawarkan kepada kami, kepada Danantara ada di tiga proyek,” kata Rosan usai mendampingi Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Raja Kerajaan Yordania Hasyimiah Raja Abdullah II bin Al Hussein di salah satu hotel, Jakarta, Sabtu (15/11).

Dia menyebutkan, penawaran tersebut mencakup proyek gas pipanisasi, pembangunan jalan tol, dan sektor logistik yang dinilai selaras dengan portofolio investasi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).

“Itu ada di tiga proyek, di gas pipanisasi, kemudian ada di toll road atau jalan tol, dan juga logistik,” ujar Rosan.

Rosan menjelaskan, Raja Yordania terlebih dahulu meminta gambaran mengenai proyeksi imbal hasil Danantara sebelum akhirnya menyampaikan tiga proyek yang dianggap sesuai dengan karakter investasi lembaga tersebut.

Keselarasan antara profil return Danantara dan potensi proyek dari Yordania menjadi dasar kuat bagi perusahaan untuk mempertimbangkan kolaborasi strategis yang membuka ruang kerja sama ekonomi lebih luas.

“Nah, di tiga proyek itu beliau (Raja Yordania) menawarkan. Dan sebelumnya juga beliau menanya dulu kepada kami, kepada saya, returnnya Danantara seperti apa, ternyata ini masuk dengan returnnya Danantara,” jelas Rosan.

Lebih lanjut Rosan mengatakan bahwa penawaran itu juga akan ditindaklanjuti dengan evaluasi mendalam yang dilakukan atas arahan Presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap ekspansi investasi yang produktif dan terukur.

“Sehingga beliau menawarkan dan kami akan menindaklanjuti dan juga mengevaluasi dengan blessing (persetujuan) langsung dari Bapak Presiden Prabowo untuk bisa mempelajari proyek yang ditawarkan ini oleh Kerajaan Yordania,” ucapnya.

Danantara berencana mengirim tim khusus, guna menelaah lebih detail aspek teknis, finansial, dan implementatif dari setiap proyek yang diajukan Pemerintah Kerajaan Yordania.

Proses peninjauan lapangan tersebut diharapkan menghasilkan kajian komprehensif yang dapat menjadi dasar keputusan strategis Danantara dalam memperkuat kerja sama dengan Yordania sekaligus memperluas jejak investasi internasional.

“Nanti kami akan kirim tim, kita akan kirim tim untuk mulai melihat detailnya dari proyek-proyek ini,” kata Rosan.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Berita Lain