19 April 2026
Beranda blog Halaman 884

Isu Sri Mulyani Mundur dari Menkeu, Cak Imin Beri Tanggapan

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan keterangan Pemerintah pada Rapat Paripurna ke-21 Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2024-2025 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/7/2025). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/rwa/aa.

Jakarta, aktual.com – Setelah ramai pemberitaan mengenai rumahnya yang dijarah massa, kini muncul kabar bahwa Sri Mulyani Indrawati mengundurkan diri dari jabatan Menteri Keuangan.

Informasi yang beredar menyebut Sri Mulyani siang ini bertemu Presiden Prabowo Subianto untuk menyampaikan niat mundur dari Kabinet Merah Putih. Versi lain menyebutkan justru Prabowo yang memanggil Sri Mulyani ke Hambalang guna menanyakan alasan pengunduran dirinya.

Menanggapi isu tersebut, Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar angkat bicara.

Saat ditanya oleh awak media, pria yang akrab disapa Cak Imin itu hanya memberikan jawaban singkat karena mengaku tidak tahu menahu mengenai kabar tersebut.

“Ah nggak tahu saya,” ucapnya ketika ditemui jurnalis di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Minggu (31/8/2025).

Sebagai catatan, kediaman pribadi Sri Mulyani di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, belum lama ini sempat didatangi sekelompok orang tak dikenal. Rumahnya bahkan dijarah oleh sebagian dari kelompok itu pada dini hari.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, puluhan prajurit TNI dikerahkan berjaga ketat di sekitar rumah Sri Mulyani. Penjagaan dilakukan dengan menempatkan personel berseragam di gang masuk menuju kediaman serta melarang warga maupun wartawan mendekat.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Aliansi Dosen Indonesia Serukan Hentikan Kekerasan Dan Sentil Polri-DPR Sebar Provokasi

Aliansi Dosen Indonesia Serukan Hentikan Kekerasan Dan Sentil Polri-DPR Sebar Provokasi

Jakarta, aktual.com – Aliansi Dosen Indonesia menyuarakan ungkapan keprihatinan menyikapi situasi di Tanah Air dalam beberapa waktu terakhir. Mereka menyerukan hentikan kekerasan dan  menyatakan mendukung publik dalam menyuarakan pendapat serta menyentil Polri dan DPR yang memprovokasi rakyat.

Puluhan dosen lintas universitas antara lain dari UI, Airlangga, 11 Maret dan Hasanuddin menilai situasi yang terjadi belakangan ini bukan spontanitas, melainkan puncak dari akumulasi kekecewaan massa khususnya pada akar rumput. Celakanya, elite tak peka dan memihak pada aspirasi mereka.

“Banyak kebijakan serta sikap dari aparat pemerintah dan wakil rakyat di parlemen yang seolah tidak peduli dan tidak berpihak
kepada kepentingan serta kebutuhan hidup rakyat sehari-hari,” kata anggota aliansi, Mohammad Novrizal, di Jakarta, Minggu (31/8).

Baca Juga:

Hindari darurat Militer, Setop Penjarahan!

Seluruh elemen masyarakat, lanjut Novrizal, kecewa atas kepongahan dan keengganan anggota DPR dalam menanggapi aspirasi masyarakat. Mereka tak sadar akan kedudukannya sebagai wakil rakyat, yang seharusnya bertindak untuk kepentingan rakyat. Belakangan, warga menyantroni kediaman sebagian anggota DPR dan mencoba untuk menjarah sebagai bentuk kekecewaan.

Amarah publik juga dipicu dari produk kebijakan DPR dan pemerintah dalam menentukan besaran tunjangan keuangan bagi pejabat negara secara berlebihan dalam Undang-Undang APBN, sehingga melanggar asas nemo judex in causa yang melarang pejabat publik membuat kebijakan yang menguntungkan dirinya sendiri, termasuk dalam masalah finansial.

“Tetap terjadinya korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan dalam berbagai lini pemerintahan yang terjadi secara terstruktur, sistematis dan masif. Politisasi kasus-kasus hukum yang mencederai rasa keadilan, sehingga telah menghilangkan rasa kepercayaan masyarakat kepada hampir semua lembaga pemegang cabang kekuasaan negara, baik di ranah legislatif, eksekutif, bahkan yudisial,” tuturnya.

Baca Juga:

Bertemu Prabowo 16 Ormas Islam Sepakat Menenangkan Masyarakat

Aliansi dosen menuntut agar Polri melakukan pengusutan terhadap tewasnya pengemudi ojol Affan Kurniawan di tengah aksi pada Kamis (28/8) lalu. Tewasnya Affan turut memancing kemarahan publik hingga meluas. Para dosen meyakini penyelesaian kasus ini menjadi salah satu solusi untuk menenangkan publik.

“Polri dan lembaga penegak hukum lainnya dapat memberikan sanksi dan tindakan yang tegas kepada pihak-pihak yg bersalah dalam insiden yang telah menyebabkan meninggalnya dan terlukanya para pengemudi ojek online di Jakarta, sesuai aturan/hukum yang berlaku,” ujarnya.

Para dosen juga mengingatkan rentetan aksi demonstrasi yang terjadi di banyak daerah tak lepas dari lemahnya kaderisasi, Maka partai politik diminta melakukan rekrutmen dan kaderisasi dengan metode yang lebih baik agar dapat menyediakan wakil rakyat yang berkualitas untuk dipilih rakyat untuk duduk di DPR.

Baca Jakarta:

Damailah! Cukup Luka, Mari Jaga Persatuan

Selain itu, DPR dan pemerintah harus mengubah kebijakan anggaran dan insentif yang menguntungkan diri mereka sendiri.

“Kami mengusulkan agar seluruh gaji pokok dan tunjangan yang diterima pejabat negara, khususnya anggota parlemen wajib dikenakan pajak yang dibebankan kepada penerimanya dan tidak lagi dibebankan ke APBN, serta melakukan reformasi “take home pay” bagi mereka,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah diminta meninjau kembali secara komprehensif semua kebijakan dan harga-harga kebutuhan pokok kehidupan masyarakat, demi mengurangi beban hidup yang semakin terasa berat bagi banyak kalangan akhir-akhir ini.

“Kebijakan DPR dan Pemerintah harus pro rakyat karena keberadaan kedua Lembaga negara ini ada karena rakyat,” ujarnya. (Erwin)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Ungkapan Keprihatinan Aliansi Dosen Indonesia: Dukung Aspirasi Publik, Sentil Polri-DPR

Sejumlah aparat TNI membuat barikade untuk menutupi pagar yang jebol di kompleks parlemen, Jakarta, Jumat (29/8/2025). ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi

Jakarta, aktual.com – Aliansi Dosen Indonesia menyuarakan ungkapan keprihatinan menyikapi situasi di Tanah Air dalam beberapa waktu terakhir. Mereka menyatakan mendukung publik dalam menyuarakan pendapat dan menyentil Polri dan DPR yang memprovokasi rakyat.

Puluhan dosen lintas universitas antara lain dari UI, Airlangga, 11 Maret dan Hasanuddin menilai situasi yang terjadi belakangan ini bukan spontanitas, melainkan puncak dari akumulasi kekecewaan massa khususnya pada akar rumput. Celakanya, elite tak peka dan memihak pada aspirasi mereka.

“Banyak kebijakan serta sikap dari aparat pemerintah dan wakil rakyat di parlemen yang seolah tidak peduli dan tidak berpihak kepada kepentingan serta kebutuhan hidup rakyat sehari-hari,” kata anggota aliansi, Mohammad Novrizal, di Jakarta, Minggu (31/8).

Seluruh elemen masyarakat, lanjut Novrizal, kecewa atas kepongahan dan keengganan anggota DPR dalam menanggapi aspirasi masyarakat. Mereka tak sadar akan kedudukannya sebagai wakil rakyat, yang seharusnya bertindak untuk kepentingan rakyat. Belakangan, warga menyantroni kediaman sebagian anggota DPR dan mencoba untuk menjarah sebagai bentuk kekecewaan.

Amarah publik juga dipicu dari produk kebijakan DPR dan pemerintah dalam menentukan besaran tunjangan keuangan bagi pejabat negara secara berlebihan dalam Undang-Undang APBN, sehingga melanggar asas nemo judex in causa yang melarang pejabat publik membuat kebijakan yang menguntungkan dirinya sendiri, termasuk dalam masalah finansial.

“Tetap terjadinya korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan dalam berbagai lini pemerintahan yang terjadi secara terstruktur, sistematis dan masif. Politisasi kasus-kasus hukum yang mencederai rasa keadilan, sehingga telah menghilangkan rasa kepercayaan masyarakat kepada hampir semua lembaga pemegang cabang kekuasaan negara, baik di ranah legislatif, eksekutif, bahkan yudisial,” tuturnya.

Aliansi dosen menuntut agar Polri melakukan pengusutan terhadap tewasnya pengemudi ojol Affan Kurniawan di tengah aksi pada Kamis (28/8) lalu. Tewasnya Affan turut memancing kemarahan publik hingga meluas. Para dosen meyakini penyelesaian kasus ini menjadi salah satu solusi untuk menenangkan publik.

“Polri dan lembaga penegak hukum lainnya dapat memberikan sanksi dan tindakan yang tegas kepada pihak-pihak yg bersalah dalam insiden yang telah menyebabkan meninggalnya dan terlukanya para pengemudi ojek online di Jakarta, sesuai aturan/hukum yang berlaku,” ujarnya.

Para dosen juga mengingatkan rentetan aksi demonstrasi yang terjadi di banyak daerah tak lepas dari lemahnya kaderisasi, Maka partai politik diminta melakukan rekrutmen dan kaderisasi dengan metode yang lebih baik agar dapat menyediakan wakil rakyat yang berkualitas untuk dipilih rakyat untuk duduk di DPR.

Selain itu, DPR dan pemerintah harus mengubah kebijakan anggaran dan insentif yang menguntungkan diri mereka sendiri.

“Kami mengusulkan agar seluruh gaji pokok dan tunjangan yang diterima pejabat negara, khususnya anggota parlemen wajib dikenakan pajak yang dibebankan kepada penerimanya dan tidak lagi dibebankan ke APBN, serta melakukan reformasi “take home pay” bagi mereka,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah diminta meninjau kembali secara komprehensif semua kebijakan dan harga-harga kebutuhan pokok kehidupan masyarakat, demi mengurangi beban hidup yang semakin terasa berat bagi banyak kalangan akhir-akhir ini.

“Kebijakan DPR dan Pemerintah harus pro rakyat karena keberadaan kedua Lembaga negara ini ada karena rakyat,” ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Hindari Darurat Militer, Setop Penjarahan!

Jakarta, aktual.com – Ketua Dewan Nasional Setara Institut Hendardi meminta masyarakat untuk menghentikan aksi penjarahan. Jangan sampai brutalitas yang terjadi direspons negara dengan memberlakukan darurat militer.

Hendardi mengingatian bahwa penjarahan bukan demonstrasi. Aksi tersebut tak dibenarkan oleh hukum. “Betapapun rakyat marah dengan para pejabat negara. Harus dipisahkan aksi demonstrasi konstitusional mahasiswa, buruh, ojol dan elemen sipil lainnya yang damai,” kata Hendardi, di Jakarta, Minggu (31/8).

“Aksi anarkis malam hari, dini hari, dan targetted adalah pola yang hanya bisa digerakkan oleh orang-orang terlatih. Kerumunan massa anarkis adalah fakta permukaan saja,” sambungnya.

Dinamika yang terjadi belakangan ini, kata Hendardi, menunjukkan adanya kontestasi kepentingan yang diduga menggerakkan aksi-aksi anarkis. “Ada ketegangan elite, ada kontestasi kekuasaan, ada avonturir politik dan juga conflict entrepreneur yang memanfaatkan faktor-faktor penarik (push factor) yang menjadikan aksi damai tereskalasi menjadi anarkis,” tuturnya.

Baca Juga:

Damailah! Cukup Luka, Mari Jaga Persatuan

Aparat diminta mengambil alih situasi dan melakukan tindakan tegas serta terukur, didahului dengan peringatan keras. Tindakan tegas tidak berarti penembakan, tetapi juga blokade teritori dan pencegahan yang serius dan sungguh-sungguh. Bukan pemadam yang datang belakangan dan hanya menonton.

“Aksi anarkis yang bergulir dibiarkan, akan mengundang aksi lanjutan yang menyasar pada kelompok-kelompok lain dan rentan,” ungkapnya.

Baca Juga:

Bertemu Prabowo 16 Ormas Islam Sepakat Menenangkan Masyarakat

Kecepatan tindakan dan pemulihan oleh aparat harus dilakukan untuk menjaga, harkat manusia, jiwa manusia, perekonomian dan tidak mengundang lahirnya kebijakan represif baru, seperti darurat sipil, darurat militer dan pembenaran-pembenaran tindakan militer lanjutan.

“Momentum ini tidak boleh menjadi dasar pemberangusan kebebasan sipil dan kemunduran demokrasi semakin terpuruk,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Ketua DPRD NTB Sebut Seluruh Dokumen dan Aset Gedung Habis Terbakar

Ketua DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Hj. Baiq Isvie Rupaeda dikonfirmasi wartawan usai pertemuan dengan Gubernur NTB, H. Lalu Muhamad Iqbal bersama jajaran Forkopimda dan sejumlah elemen masyarakat di Pendopo Gubernur NTB di Mataram, Sabtu (30/8/2025) malam. ANTARA/Nur Imansyah.
Ketua DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Hj. Baiq Isvie Rupaeda dikonfirmasi wartawan usai pertemuan dengan Gubernur NTB, H. Lalu Muhamad Iqbal bersama jajaran Forkopimda dan sejumlah elemen masyarakat di Pendopo Gubernur NTB di Mataram, Sabtu (30/8/2025) malam. ANTARA/Nur Imansyah.

Mataram, aktual.com – Seluruh dokumen dan aset yang ada di Gedung DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat habis terbakar dan dijarah massa saat aksi unjuk rasa pada Sabtu (30/8) siang.

Ketua DPRD Provinsi NTB Baiq Isvie Rupaeda membenarkan tidak ada satu pun dokumen dan aset yang bisa diselamatkan akibat aksi pembakaran dan penjarahan.

“Tidak ada yang bisa diselamatkan, semua hancur, semua habis,” ujarnya di Mataram, Minggu (31/8).

Meskipun seluruh dokumen dan aset yang ada di gedung DPRD ludes terbakar dan dijarah massa, dia belum bisa menaksir nilai nilai kerugian dari seluruh aset, dokumen, gedung yang terbakar, dirusak, dan dijarah oleh massa itu.

“Kalau kerugian, kami belum tahu ya karena gedung dan aset itu merupakan milik pemerintah provinsi,” terang Isvie.

Walaupun sekarang DPRD NTB sudah tidak memiliki kantor, Isvie memastikan seluruh anggota dewan dalam melaksanakan tugas dan fungsi kedewanan akan tetap berjalan seperti biasa.

“Kinerja dan kerja DPRD harus tetap berjalan, kami perlu kantor, kami perlu sekretariat, meskipun kecil untuk menjalankan tugas-tugas kedewanan. Insyaallah semua akan berjalan dengan baik,” tegas politisi dari Dapil Kabupaten Lombok Timur ini.

Isvie mengatakan agar kinerja DPRD tetap berjalan, dirinya bersama pimpinan dan anggota dewan lainnya akan bekerja di tenda darurat yang dipasang di halaman gedung DPRD.

“Sementara kami buat tenda untuk sekretariat. Tapi, kalau untuk paripurna, kami pinjam Gedung Sangkareang yang berada di Kantor Gubernur NTB. Setiap hari kami berharap akan pakai tenda saja dulu,” kata Isvie.

Aksi unjuk rasa yang berujung pembakaran dan penjarahan yang dilakukan ribuan massa di Gedung DPRD NTB terjadi pada Sabtu (30/8) siang. Terdapat dua gedung yang dibakar massa aksi, yakni gedung utama DPRD yang sehari-hari dipakai rapat dan sidang paripurna, serta gedung Sekretariat DPRD yang sehari-hari dipakai karyawan atau ASN.

Sejumlah bagian gedung dewan porak poranda setelah dihancurkan dan dijarah dalam demonstrasi yang berlangsung sejak siang dan berakhir dengan pembakaran gedung dan penjarahan.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Surya Paloh Berhentikan Sahroni dan Naffa Urbach

Bendahara Umum Partai NasDem Ahmad Sahroni berjalan ke luar ruangan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (22/3/2024). ANTARA FOTO/Reno Esnir/tom/am.

Jakarta, aktual.com – Memang lidah tak bertulang. Setelah rumah dijarah massa, imbas mengumpat massa yang menuntut pembubaran DPR, karier politik politisi Nasdem Ahmad Sahroni di parlemen kini terhenti, setelah partai menonaktifkannya. Selain Sahroni, Nasdem juga menerapkan kebijakan tersebut kepada Naffa Urbach.

Penonaktifan keduanya dari parlemen diketahui dari surat keterangan pers yang diteken Ketum Nasadem Surya Paloh dan Sekjen Hermawi Taslim, tertanggal Minggu (31/8). Sahroni dan Naffa tak lagi menjadi anggota Fraksi Nasdem terhitung sejak 1 September 2025.

Menurut Hermawi, keputusan tersebut diambil bukan hanya mencermati dinamika yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, tetapi menyerap aspirasi publik.

“Sesungguhnya aspirasi masyaraat harus tetap menjadi acuan utama dalam perjuangan Partai Nasdem,” kata Hermawi.

Keputusan menonaktifkan Sahroni dan Naffa Urbach bakal ditindaklanjuti dengan pergantian antar waktu (PAW) terhadap keduanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Berita Lain