18 April 2026
Beranda blog Halaman 887

Pesan Damai PBNU dan Muhammadiyah: Tahan Diri, Hindari Benturan

Suasana aksi masa pendemo di depan gedung DPR RI, Jakarta. Aktual/HO

Jakarta, aktual.com — Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, menyampaikan seruan damai menyusul tragedi meninggalnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online (ojol), dalam aksi unjuk rasa di Jakarta.

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar, menyampaikan belasungkawa dan mengajak seluruh pihak untuk menahan diri.

“Kami keluarga besar Nahdlatul Ulama turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan kesabaran,” kata Miftachul, dalam keterangannya dikutip Sabtu (30/8).

Ia menegaskan, penyampaian aspirasi adalah hak konstitusional warga negara yang harus dihormati, baik oleh aparat maupun peserta aksi. Karena itu, aparat diimbau mengedepankan kesabaran dan dialog.

“Kami minta aparat untuk senantiasa sabar dan menahan diri, agar tidak terjadi benturan yang dapat merugikan semua pihak,” ujarnya.

Rais Aam juga menyerukan agar perbedaan pendapat disalurkan dengan cara damai dan bermartabat. “Jangan sampai aksi menyuarakan aspirasi justru melahirkan korban jiwa dan merugikan bangsa dan negara,” katanya. Ia menegaskan, warga NU di semua tingkatan diminta menjadi peneduh dalam masyarakat.

“Mari kita jaga persaudaraan, keamanan, dan ketertiban. PBNU mengajak seluruh warga NU untuk menjadi peneduh di tengah masyarakat.”

Sementara itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam pernyataannya juga mengucapkan duka cita mendalam.

“Kami turut berdukacita atas meninggalnya saudara kita, Affan Kurniawan, dalam peristiwa unjuk rasa massa pada hari Kamis malam (28/8) di Jakarta. Semoga almarhum mendapat balasan terbaik di sisi Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan dapat menghadapi dengan sabar, memperoleh keadilan yang semestinya, serta tersantuni dengan sebaik-baiknya,” tulis pernyataan resmi PP Muhammadiyah, dikutip Sabtu.

Muhammadiyah menekankan pentingnya semua pihak menahan diri dan menghentikan kekerasan. “Semua pihak hendaknya mengutamakan kepentingan bangsa dan negara sebagai fondasi dan modal membangun Indonesia,” tulis pernyataan itu.

Organisasi tersebut juga menyoroti pentingnya sensitivitas elite terhadap aspirasi publik. “Kami meminta para elit politik untuk lebih mawas diri, melakukan introspeksi, dan tidak melukai hati rakyat. Publik membutuhkan keteladanan para pemimpinnya,” kata PP Muhammadiyah.

Terkait proses hukum, Muhammadiyah mendukung langkah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk mengusut tuntas insiden itu. “Kami mendukung komitmen positif Bapak Kapolri untuk mengusut tuntas dan melakukan proses hukum yang seadil-adilnya atas peristiwa meninggalnya Almarhum Affan yang disebabkan tindakan berlebihan dari aparat kepolisian di lapangan,” demikian pernyataan itu.

Muhammadiyah juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi, khususnya oleh informasi tidak jelas di media sosial. “Masyarakat hendaknya arif dan cerdas dalam menyikapi informasi dengan melakukan klarifikasi kepada pihak-pihak yang berwenang atau kepada para tokoh panutan,” tulis PP Muhammadiyah.

Muhammadiyah juga menyatakan keyakinan pada Presiden RI Prabowo Subianto. “Kami percaya pada komitmen Bapak Presiden Prabowo untuk mendengar aspirasi publik dan berpihak kepada kepentingan masyarakat kelas bawah dengan melakukan perbaikan di berbagai sektor sebagai perwujudan menjalankan amanat konstitusi,” kata PP Muhammadiyah.

Puan: Sekali Lagi, Saya Minta Maaf Jika DPR Belum Bekerja Sempurna

Jakarta, aktual.com – Ketua DPR RI Puan Maharani kembali memohon maaf apabila kinerja anggota dewan selama ini belum maksimal. Sebagai pimpinan DPR, Puan memastikan lembaganya akan berbenah diri dan berkerja lebih baik lagi untuk kepentingan rakyat.

Hal itu disampaikan Puan menyikapi gejolak massa yang terjadi dan situasi kebangsaan yang kurang kondusif beberapa hari ini.

“Atas nama anggota DPR dan pimpinan DPR, sekali lagi saya meminta maaf jika kami sebagai wakil rakyat belum bisa bekerja dengan baik secara sempurna,” ungkap Puan usai bertakziah ke kediaman driver ojek online, almarhum Affan Kurniawan, di kawasan Blora, Jakarta, Sabtu (30/8/2025).

Seperti diketahui, Affan meninggal dunia usai ditabrak mobil Rantis Barakuda Brimob saat aksi unjuk rasa yang berujung ricuh di kawasan Pejompongan, Jakarta, Kamis (28/8) malam.

Puan pun berjanji akan mengevalusi kinerja anggota DPR RI dan menerima masukan masyarakat untuk kepentingan rakyat dan kemajuan bangsa Indonesia.

“Kami akan mengevaluasi, kami akan berbenah diri, kami akan mendengar aspirasi rakyat dengan lebih sehat, lebih baik dalam membangun bangsa,” tutur perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu.

“Dan marilah kita membangun bangsa ini bersama-sama, kita berdiskusi, kita dengarkan masukan-masukan dari para tokoh bangsa,” imbuh Puan.

Puan juga mengimbau semua pihak untuk menahan diri agar suasana tetap kondusif dan tidak ada lagi korban jiwa.

“Semua harus menahan diri, dan jangan saling menyakiti, kita saling menghormati,” tegasnya.

“Kita jaga persatuan dan kesatuan bangsa bersama-sama. Jangan kita terpecah belah, jangan kita korbankan bangsa dan negara ini,” imbuh Puan.

Lebih lanjut, Puan mendorong agar semua elemen saling bergotong royong membangun bangsa.

“Kita semua rakyat Indonesia, kita bantu bangsa ini bersama-sama bergotong royong semuanya saling menahan diri. Mari kita bersihkan Indonesia,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

JATMAN DKI Jakarta: Sufi Adalah Jantung Pergerakan Islam

Jakarta,- Jamiyyah Ahlith Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyyah (JATMAN) Idaroh Wustho DKI Jakarta menggelar kajian ilmu bertema “2 Abad Perang Diponegoro (1825-2025): Refleksi Sufi Melawan Kolonialisme” yang dilaksanakan di Ruang Serbaguna Perpustakaan Nasional RI, Jl Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta, hari Sabtu (30/08/2025) siang tadi.

Acara dibuka sejak pukul 10.00 WIB, yang dimulai dari pembacaan Al Quran dan dilanjutkan Sholawat Thariqiyyah. Sambutan diuraikan oleh KH Hilmy Ashidiqi yang merupakan Mursyid thariqah Qadiriyya Arrakiyya. Beliau mengapresiasi acara kajian ilmu yang dibuat JATMAN wustho DKI Jakarta sebagai sesuatu yang progresif.

Kemudian diskusi dimulai dengan pemaparan dari KH Wahfiuddin Sakam, Mubaligh Nasional yang juga wakil talqin Thariqah Qadiriyya Naqsyabandiyya (TQN) Suryalaya. Ulama asli Betawi itu memaparkan bagaimana pentingnya kekuatan qalbu dan dzikir untuk menggapai kekuatan “Laillahaillallah.” Maka dari itu, katanya, thariqah menjadi jantung perlunya pengajaran tasawuf untuk menggapai ma’rifatullah. “Thariqah harus bergerak dan peduli terhadap masalah sosial, jika tidak perduli terhadap masalah sosial, maka thariqah itu patut dipertanyakan,” paparnya. Pangeran Diponegoro, sambungnya, merupakan contoh nyata bagaimana amalan thariqah yang bergerak menegakkan keadilan. “Thariqah harus egaliter, egaliter artinya kesetaraan, kesamaan, karena menghapuskan adanya system kasta, ketidakseimbangan, begitulah yang ditunjukkan Pangeran Diponegoro saat itu,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Irawan Santoso Shiddiq, Mudir JATMAN DKI Jakarta. Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa sejarah tentang Perang Diponegoro kini banyak dikooptasi kaum sekuler. “Sehingga nuansa kesufian dan bahwa perang Jawa adalah perangnya kaum sufi, itu banyak tak diulas oleh penulis soal Perang Diponegoro sekarang,” paparnya. Padahal, sambungnya lagi, Perang Jawa merupakan perang yang diinisiasi kaum sufi khususnya pengamal thariqah syatariyya yang kala itu berkembang pesat di Jawa dan Sumatera.

Disampaikannya, abad pertengahan adalah era kejayaan tasawuf yang merupakan kejayaan Islam. Seluruh Kesultanan Islam, sambungnya, merupakan produk dari tasawuf. “Lihat bagaimana Kesultanan Demak didirikan oleh Wali Songo, tentu dengan pengajaran tasawuf,” tegasnya. Begitu pula Kesultanan Utsmaniyya yang gagah perkasa. “Semua Sultan-Sultan Utsmaniyya, termasuk Sultan Al Fatih, itu adalah ahli thariqah dan mereka dibimbing oleh Mursyid,” tukasnya lagi. Dia menguraikan, “Lepasnya Jerusalem dari kekuasaan Islam, adalah dengan jalan menghancurkan Daulah Utsmaniyya, didahului dengan memusuhi sufi dan memfitnah tasawuf, alhasil umat Islam dijauhkan dari tasawuf, maka Yahudi bisa merebut Jerusalem,” paparnya.

Perang Jawa, sambungnya, menjadi bukti bahwa tasawuf memang menjadi pergerakan Islam setiap saat. “Saatnya kaum sufi memahami kebesaran sejarahnya sendiri, dan bergerak untuk melanjutkan pergerakan yang telah dibangun Pangeran Diponegoro dan para ulama sufi era dulu,” paparnya.

Kolonialisme kini, ujarnya lagi, tentu dikooptasi kaum Yahudi yang menguasai system perbankan. “Inilah kekuatan utama kuffar,” terangnya. “Maka kita harus menggabungkan Kembali mukasyafah dan muamalah, kini umat Islam lemah dalam muamalah, sementara thariqah sekarang hanya fokus pada muskasyafah tanpa muamalah,” tegasnya.

Dalam sesi Epilog, diisi oleh KH Muhammad Danial Nafis, Rois JATMAN DKI Jakarta yang juga mursyid thariqah Shidiqiyya Dharqawiyya Shadziliyya. Beliau memaparkan pentingnya kajian ilmu seperti ini agar wawasan ahli thariqah kini soal sejarah Islam makin terbuka lebar. “Kalau membaca buku yang ditulis Peter Carey, beliau menyebutkan bahwa jika tidak ada perang Diponegoro, maka tidak lahir Nadhlatul Ulama,” ujarnya. Menurutnya, kesufian Pangeran Diponegoro atau nama aslinya adalah Ontowiryo, hal yang tak terbantahkan. Beliau, ujarnya lagi, didampingi Kyai Mojo yang juga merupakan mursyid thariqah Syatariyya. “Peranan tasawuf sangat signifikan dalam perang tersebut, yang membuat Hindia Belanda kerepotan dan bangkrut,” tambahnya.

Tapi yang terpenting, sambungnya, bagaimana ahli thariqah kini memahami neokolonialisme. “Karena kolonialisme menjadi neokolim, yang menunjukkan bangsa ini masih terjajah, dan ini menjadi tugas utama kaum sufi,” tegasnya lagi. “Tapi penjajahan kini bukan bersifat fisik seperti dulu, melainkan dalam system, ini yang memperbudak bangsa,” tambahnya lagi.

Beliau menegaskan bahwa sufi harus melek akan sejarah kebesaran tasawuf dan wajib mendalaminya. “Pengurus JATMAN Jakarta harus paham sejarah kebesaran tasawuf,” tukasnya lagi.

Acara kajian ilmu JATMAN DKI Jakarta ini diikuti oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Tidak hanya dari anggota JATMAN belaka, tapi juga antusias datang dari masyarakat umum. “Dari acara ini saya ingin memperdalam lagi tentang tasawuf dan mengikuti tarekat,” ujar Rusydi, salah seorang peserta yang hadir.

Irawan Shiddiq menegaskan, JATMAN DKI Jakarta akan terus menggelar mudzakarah seperti ini demi kembalinya kejayaan tasawuf. “Kejayaan tasawuf berarti kejayaan Islam. Tanpa tasawuf, umat menjadi lemah,” tegasnya.

 

 

 

 

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Geruduk Rumah Sahroni Nasdem, Warga Gondol Dolar hingga Mandi di Kolam Renang

Geruduk Rumah Sahroni Nasdem, Warga Gondol Dolar hingga Mandi di Kolam Renang

aktual com- Amarah warga turut diluapkan dengan menjebol kediaman politisi Nasdem Ahmad Sahroni. Ratusan orang menggeruduk kediaman mantan pimpinan Komisi III DPR di Jalan Swasembada Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Sabtu (30/8) petang.

Warga menghancurkan mobil mewah milik Sahroni. Mengambil uang pecahan dolar AS dan Singapura, dan membagi-bagikan ke warga yang silih berganti datang. Malahan, ada warga yang berenang di kolam renang.

Ahmad Sahroni menjadi sasaran tembak lantaran umpatan kepada rencana aksi demonstrasi, mengkritik tunjangan anggota DPR. Buntut aksi yang terjadi pada Rabu (28/8), seorang pengemudi ojol Affan Kurniawan tewas terlindas rantis Brimob di kawasan Pejompongan.

Sahroni diketahui tak berada di Indonesia karena disebut-sebut pergi ke Singapura. Posisinya sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR digeser menjadi Anggota Komisi I berdasarkan Surat Fraksi Partai NasDem dengan nomor F.NasDem/768/DPR-RI/VIII/2025. (Erwin)

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Kapolri Listyo Sigit Prabowo Tegaskan Siap Mundur

Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo memberi keterangan kepada media di Jakarta, Jumat (29/8/2025). ANTARA/Khaerul Izan

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, merespons desakan publik agar dirinya mengundurkan diri menyusul tragedi tewasnya pengemudi ojek online Affan Kurniawan yang dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob saat demonstrasi di Jakarta, Kamis (28/8). Meski demikian, keputusan tersebut merupakan sepenuhnya hak presiden.

“Terkait dengan isu yang menyangkut (pencopotan) Kapolri, itu merupakan hak prerogatif presiden. Kita prajurit, kapan saja siap” ujarnya di Bogor, Sabtu (30/8).

Desakan agar Kapolri mundur mengemuka setelah koalisi masyarakat sipil yang melibatkan lebih dari 200 organisasi seperti YLBHI, ICW, KontraS, LBH Jakarta, dan AJI menyatakan bahwa Listyo Sigit telah gagal mengubah wajah represif Polri.

Mereka menilai tindakan aparat yang menyebabkan kematian Affan adalah simbol kegagalan reformasi Polri.

“Kapolri wajib mundur atau Presiden segera mencopot Sigit Listyo Prabowo sebagai Kapolri yang gagal membawa Polri menjadi institusi yang profesional dan humanis,” tegas Ketua YLBHI, Muhamad Isnur.

Tak hanya itu, Koordinator Nasional Kawal Pemilu dan Demokrasi (KPD) Miftahul Arifin menegaskan bahwa kematian Affan merupakan alarm reformasi yang tak bisa ditunda. Ia menuntut Kapolri bertanggung jawab dan Presiden Prabowo segera melakukan evaluasi internal Polri.

“Tragedi ini mencerminkan lemahnya pengawasan internal sekaligus bukti bahwa tubuh Polri berada dalam masalah serius,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Prabowo Perintahkan TNI-Polri Ambil Langkah Tegas Hadapi Aksi Anarkis

Presiden Prabowo Suabianto saat menyatakan permintaan maaf terhadap kasus Brimob menabrak ojol. Aktual/Setpres-BPMI

Kabupaten Bogor, aktual.com – Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengambil langkah tegas menghadapi aksi anarkis yang terjadi di sejumlah daerah.

“Arahan Presiden jelas, khusus untuk tindakan-tindakan anarkis, TNI dan Polri diminta mengambil langkah tegas sesuai dengan undang-undang,” kata Kapolri didampingi Panglima di Kopi Koneng, Bojongkoneng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, setelah keluar dari kediaman Presiden Prabowo, Sabtu (30/8).

Menurut Kapolri, dalam dua hari terakhir kecenderungan aksi unjuk rasa di beberapa wilayah berubah menjadi kerusuhan dengan pembakaran gedung, fasilitas umum, hingga penyerangan markas.

“Situasi seperti itu tidak lagi masuk kategori penyampaian aspirasi, melainkan perbuatan pidana,” ujarnya.

Kapolri menegaskan, TNI-Polri akan segera turun mengambil langkah di lapangan untuk mengembalikan rasa aman publik.

“Informasi yang kami terima, masyarakat sudah mulai gelisah dan takut. Karena itu, aparat akan segera bergerak memulihkan situasi,” ujarnya.

Dia menekankan bahwa langkah penegakan hukum akan dilakukan secara terukur untuk memastikan ketertiban kembali terjaga.

“Semua ini demi kepentingan masyarakat luas dan menjaga stabilitas nasional,” ucap Kapolri.

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh ajakan yang berpotensi merugikan diri sendiri maupun orang lain.

“Mari kita ciptakan rasa aman dan damai. Kalau ada masalah, selesaikan dengan musyawarah sesuai hukum yang berlaku,” kata Panglima.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Berita Lain