Petugas memeriksa pipa gas di Onshore Receiving Facilities (ORF) milik PT Pertamina Gas di Porong, Sidoarjo, Jawa TImur, Jumat (26/2). Fasilitas yang beroperasi sejak 1993 tersebut menyalurkan 320 juta kaki kubik gas per hari (mmscfd) untuk memenuhi kebutuhan gas pabrik pupuk, pembangkit listrik, industri dan jaringan gas kota untuk rumah tangga. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/ama/16

Jakarta, Aktual.com – Arahan presiden Jokowi agar pemakaian gas untuk pembangkit lebih diutamakan dinilai sudah tepat. Namun, komitmen itu harus direalisasikan dengan membangun infrastruktur gas dan juga memilih energi pembangkit paling efisien.

“Gas sebagai bahan bakar pembangkit dinilai tepat meski harga Marine Fuel Oil (MFO) atau diesel saat ini relatif rendah. Namun penggunaan bahan bakar minyak (BBM) tidak bisa lagi jadi patokan untuk dipakai sebagai energi primer pembangkit. Penggunaan BBM berimplikasi pada tingginya biaya pemeliharaan dan isu lingkungan,” ujar  Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Golongan Karya, Dito Ganinduto di Jakarta, Selasa (4/4).

Belum lagi, jika penggunaan diesel dialihkan sepenuhnya ke gas, akan ada penghematan mencapai Rp 70 triliun. Angka ini, merujuk pada dana pembelian BBM oleh PLN untuk kapasitas pembangkit total sebesar 7.000 Mega Watt (MW).

“Prioritas ke gas itu sudah tepat karena bisa menurunkan biaya pokok pembangkit, sehingga suplai energi menjadi murah,” ujar Dito.

(Eka)
1
2
3