Jakarta, Aktual.com – Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, mengatakan, penguatan organisasi TNI Angkatan Laut, dibutuhkan untuk menjalankan tugasnya dalam menjaga kedaulatan NKRI serta memimpin sektor kemaritiman Indonesia.

“Hal ini juga telah menjadi salah satu program prioritas Panglima TNI yaitu membentuk empat satuan baru, yang dua diantaranya adalah satuan TNI AL yaitu Koarmada III dan Pasmar 3 Korps Marinir di Sorong beberapa waktu yang lalu,” kata Hadi dalam amanatnya saat Sertijab Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) dari Laksamana TNI Ade Supandi kepada Laksamana TNI Siwi Sukma Adji di Mabesal Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (28/5).

Penguatan organisasi TNI AL, lanjut Panglima TNI, mensyaratkan kebutuhan akan personel-personel yang kompeten dan memiliki kredibilitas, dedikasi serta loyalitas tinggi, untuk dapat mengemban tugas-tugas yang tidak ringan.

“Organisasi TNI dan TNI AL juga membutuhkan pemikiran-pemikiran kreatif, brilian, dan ‘open minded’ dari para perwira TNI AL, yang tidak terkungkung dan terjebak pada rutinitas, untuk dapat merumuskan serta memaksimalkan peran TNI AL dalam menjalankan tugas-tugas negara,” jelas Hadi.

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) ini mengatakan, pergantian pimpinan merupakan hal yang tidak terhindarkan dalam tubuh sebuah organisasi yang sehat dan selalu bergerak dalam ritme yang dinamis.

Hal ini karena setiap personel dibatasi dengan usia dan masa aktif, sehingga disyaratkan untuk kaderisasi dan keberlanjutan kepemimpinan dalam tubuh organisasi tersebut.

Menurut Hadi, organisasi TNI AL merupakan bagian dari organisasi kenegaraan yang memiliki tugas sangat penting dalam menegakkan kedaulatan negara di laut dan menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari segala ancaman dan gangguan.

“Dalam menjalankan tugas, peran, dan fungsi TNI AL pun, kita tidak terlepas dari tantangan dan hambatan yang selalu diwarnai oleh dinamika perkembangan lingkungan strategis di sekitar kita,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Panglima TNI menyebutkan, kondisi geopolitik dunia saat ini berada dalam tensi fluktuatif, dimana permasalahan strategis yang dikomunikasikan secara asertif, atau bahkan dengan tindakan koersif, disertai dengan gaya kepemimpinan eksentrik dapat mengganggu stabilitas, bahkan secara global.

“Hal ini dapat kita cermati pada isu denuklirisasi Korea dan Iran, sengketa wilayah Laut China Selatan, situasi di Palestina dan Jerusalem, perang dagang antar kawasan Asia, Amerika serta Eropa, perkembangan ancaman terorisme global dan peredaran narkoba. Peristiwa-peristiwa di berbagai belahan dunia tersebut berdampak secara langsung maupun tidak langsung terhadap Indonesia,” ujarnya.

 

Ant.

()