Surabaya, Aktual.com – Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) dukung rencana impor gula mentah (raw sugar) untuk PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Impor gula mentah sebanyak 381 ribu ton dianggap bisa jadi solusi, atas terhambatnya pabrik akibat adanya gangguan pasokan tebu.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat APTRI Abdul Wachid mengatakan impor gula juga dapat menjaga rendemen agar tidak melorot tajam. Kata dia, dengan impor gula mentah secara tidak langsung petani dapat meningkatkan pendapatan melalui pola subsidi di saat produksi tebu menurun tajam akibat anomali cuaca pada musim tanam 2015/2016.

“Ini sebagai konsekuensi dari program pemberian jaminan pendapatan petani setara dengan rendemen 8,5 persen,” ujar Anggota Komisi VI DPR RI ini, di Surabaya, Rabu (25/5).

Wakil Ketua Panja Gula DPR RI ini mengatakan pasokan gula mentah juga akan menyelamatkan PG dari kemungkinan alami ‘idle capacity’. “Sesuai prediksi BMKG ini khan sudah masuk periode La Nina, musim penghujan siklus lima tahunan. Kondisi ini menjadi gangguan pasokan tebu kepada pabrik gula yang tengah menjalani musim giling,” lanjut Abdul.

Saat ini, klaim dia, petani sudah mulai menikmati keuntungan menanam tebu. Kondisi ini menurut dia perlu dijaga agar petani tidak lari ke komoditas lain.

Abdul meminta pemerintah fokus pada peningkatan pendapatan petani dan revitalisasi pabrik-pabrik gula. Diingatkan dia, pemerintah sudah menggagas program percepatan swasembada gula, agar tidak terjebak agenda tersembunyi pihak tertentu.

Jadi, kata dia, patut diwaspadai bila ada kelompok yang mengatasnamakan petani, tiba-tiba menolak PTPN untuk melakukan impor raw sugar. Padahal, impor merupakan upaya meningkatkan kesejahteraan petani. “Itu hal yang patut diwaspadai. Apalagi merekalah yang sebelumnya menyetujui impor jutaan ton untuk industri gula non PTPN,” kata Abdul.

Dia merujuk pada kasus pengajuan permohonan impor raw sugar oleh 7 PG swasta di 2015 lalu. Yang angkanya mencapai 775 ribu ton dengan alasan sebagai fasilitasi investasi dan ‘commitioning test’ serta pemanfaatan idle capacity untuk investasi revitalisasi PG.

Anehnya, lanjut dia, pengajuan impor raw sugar oleh PG swasta yang jelas-jelas tidak berperan secara signifikan terhadap petani tebu malah didiamkan. Bahkan mendapat rekomendasi dari pihak penentang yang mengatasnamakan petani tebu tersebut. Sementara impor yang jumlahnya proporsional dan ditujukan untuk mensubsidi pendapatan petani, untuk mensejahterakan petani dan dilakukan oleh BUMN justru ditentang.

()