Jakarta, Aktual.com – Pada saat krisis melanda USA dan Eropa pada tahun 2008 lalu, Indonesia menerima dampak krisis ini. Singkatnya pemerintah melakukan “bailout” bank Century yang dianggap berdampak sistemik dan dapat memicu krisis perbankkan dan sektor keuangan. Kasus yang kemudian berujung menjadi skandal korupsi.

10 tahun berlalu krisis kembali menyergap ekonomi global. Krisis dipicu oleh pelemahan dalam ekonomi Tiongkok, yang berdampak pada pelemahan pertumbuhan ekonomi global. Ekonomi Tiongkok yang selama satu dekade terakhir menjadi penopang ekonomi global sekarang mengalami kelesuan dan berdampak global.

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok 2020 diperkirakan akan berada dibawah satu digit. Pertumbuhan ekonomi Singapura melemah ke angka 0-1 persen pada tahun 2019 ini. Pertumbuhan ekonomi global tahun ini diprediksi IMF hanya 3 %, dipangkas dari 3,3 persen. Ekonomi dunia berada dalam kondisi mengkuatirkan. Faktor faktor yang dapat memicu pertumbuhan ekonomi hampir tidak ada. Semua lesu.

Resesi Menuju Krisis

Mengapa pertumbuhan ekonomi yang rendah itu dianggap membahayakan? Karena pertumbuhan ekonomi yang rendah saat ini berbanding terbalik dengan kewajiban negara, perusahaan dan individu yang meningkat besar.

Faktor penyebabnya adalah utang negara yang besar, utang dan kewajiban swasta yang besar dan utang individu yang juga besar. Pelemahan pertumbuhan ekonomi berarti melemahnya revenue dan pendapatan negara, penerimaan perusahaan dan income individu. Inilah yahg diaebut denga resesi. Resesi adalah lawan dari boom atau prosperity.

(Abdul Hamid)