Mataram, Aktual.com – Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Agus mengingatkan para bakal calon kepala daerah yang akan bertarung dalam kontestasi pilkada di Nusa Tenggara Barat harus berani menjual program kerja yang diberikan lima tahun kedepan kepada masyarakat bukan justru sebaliknya hanya menjual tampang.

“Kalau sekedar jadi tim sukses sama kayak pasangan calon yang didukungnya. Yakni, hanya jual tampang dan keluarga untuk apa?. Ingat, ini Kota Mataram, penduduknya adalah kalangan pemilih rasional yang butuh asupan program kerja nyata,” ujarnya di Mataram, Rabu (26/8).

Diketahui, perang antar pendukung pasangan calon mulai terlihat di media sosial baik itu facebook, dan whatsaap grup. Masing-masing pendukung membela dan mengunggulkan, sehingga diprediksi pertarungan di Pilkada Kota Mataram bakal berlangsung ketat.

Mantan Komisioner KPU NTB itu mengatakan, pola kampanye yang hanya berkeliling silaturahmi ke sejumlah tokoh maupun ormas untuk menggalang dukungan di Pilkada Mataram, dirasa tidak tepat.

Agus menilai, fase pilkada Mataram saat ini, belum sebenarnya masuk pada fase pertarungan lantaran, belum dimulainya pendaftaran pasangan calon ke KPUD setempat.

“Fase awal ini, harusnya yang dijual itu adalah program kampanye kandidat. Baik di baliho, dan APK lainnya. Hal ini akan bisa membuat penasaran masyarakat untuk tahu lebih dalam dan detail lagi,” jelasnya.

Terkait kehadiran para tokoh panutan umat dan ormas dalam barisan pasangan calon sangat baik. Mengingat hal itu akan bisa mempengaruhi elektoral. Apalagi, karakter pemilih di Kota Mataram masih memilih berdasarkan sosiologis dan simbol-simbol sosial.

“Mataram ini landai di awal dan ketat di pertarungan. Jadi, jualan program kerja di baliho dan APK lainnya menjadi kunci masyarakat untuk memilih pasangan calon,” tegas Agus.

Munculnya empat figur pasangan calon di Kota Mataram. Yakni, Hj Putu Selly Andayani-TGH Abdul Manan (Salam), H Mohan Roliskana-TGH Mujiburrahman (Harum), HL Makmur Said-Badrutamam Ahda (Molah) dan Baehaqi-Diah (Muda), justru masih di dominasi figur lama.

Karena itu, jika pasangan calon Selly-Manan dan Baehaqi-Diah sebagai pendatang baru berani membuat gebrakan baru dalam sisi kampanye yang dilakukannya. Maka, pilkada kali ini akan lebih menarik.

“Jadi, saran saya ke pasangan calon pendatang baru harus berani beda tentang gaya berpolitiknya. Bila perlu tagline perubahan dan anti politik dinasti harus berani digaungkan melengkapi program dan janji kampanye jika terpilih ke depannya,” katanya. (Antara)

(As'ad Syamsul Abidin)