Jakarta, Aktual.com – Direktur Eksekutif Lembaga Survei Poltracking Indonesia Hanta Yudha mengatakan bahwa dinamika politik setelah Pemilu 2019 kini memasuki babak baru, dengan terbentuknya poros-poros baru dan kemungkinan rekonsiliasi bersyarat yang bisa dilihat pada Oktober ketika posisi kabinet dan pimpinan badan legislatif diumumkan.

“Tadinya peta politik Indonesia bipolar. Dua kutub, kontraksinya sangat keras, sangat kencang. Hanya 01,02. Pendukung Prabowo, Jokowi. Tapi mulai ke sini sudah mulai mencair, tapi berpotensi mengkristal ke polar-polar baru, poros-poros baru. Ada pertemuan di Gondangdia, di Teuku Umar, dan sebagainya,” ungkapnya, Sabtu (3/8).

Menurut Hanta Yudha, kemurnian rekonsiliasi antara kubu-kubu yang bertentangan saat pemilihan presiden, bisa terlihat ketika pelantikan anggota legislatif pada Oktober 2019.

Meski koalisi calon presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo dan Ma’ruf Amin menguasai sekitar 60 persen kursi legislatif, jika Partai Gerindra ingin masuk dalam pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) maka diperlukan komunikasi politik dengan Jokowi dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

“Kalau Gerindra, misalnya, Ahmad Muzani akan didorong menjadi pimpinan MPR, cara paling tepat untuk sukses ya memang harus membangun komunikasi dengan koalisi Jokowi, dengan Teuku Umar,” ujarnya.

(Abdul Hamid)