Jakarta, aktual.com – Orang beruntung jika dalam keadaan fakir maka ia akan rela dengan kedangan kefakirannya, merasa cukup dengan yang dimilikinya, sabar, menjaga diri dari keharaman dan tidak meminta-minta kepada orang lain. Sedangkan Orang celaka jika dalam keadaan fakir ia akan merasa gelisah, benci dengan keadaannya, berharap dan bergantung pada manusia.

Orang beruntung ketika dalam keadaan kaya ia akan dapat mensyukurinya, menghargai nikmat yang didapat, memakainya untuk ketaatan, memberikan hartanya di jalan yang baik. Sedangkan Orang celaka ketika dalan keadaan kaya  ia akan menjadi orang pelit, bakhil dan menggunakan kekayaannya dalam kebatilan.

Orang beruntung ketika dalam kondisi sehat ia akan bersyukur kepada Allah swt dan menggunakan kesehatannya dalam ketaatan dan ketika sakit ia akan rela, sabar dan pasrah dengan kehendak Allah. Sedangkan Orang celaka ketika dalam kondisi sehat ia akan sombong, menggunakan kesehatannya dengan sewenang-wenang, tidak giat dalam ketaatan dan memakai kesehatannya untuk kemaksiatan dan ketika sakit ia akan benci dengan keadaannya, gelisah dan tidak terima dengan ketentuan Allah.

Dari uraian diatas nampaklah jelas perbedaan antara orang beruntung dan orang celaka, orang beruntung akan selalu bersikap baik dalam segala keadaan sehingga ia mendapatkan keridaan Allah, kecintaan-Nya, kemulyaan-Nya dan segala kebaikan-Nya.

Sedangkan orang celaka ia selalu bersikap buruk dalam semua keadaan, sehingga ia disisi Allah tergolong dari hamba-hamba yang dimurkai, dibenci dan jauh dari-Nya serta dibenci oleh manusia.

al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitab al-Fushul al-Ilmiyah-nya menegaskan bahwa segala sesutau itu akan menjadi baik jika dibarengi dengan takwa dan segala sesuatu akan menjadi tercela jika tidak dibarengi dengan takwa. [Eko]

(Zaenal Arifin)