Nama Edhie Baskoro dan Puan Maharani muncul dalam kasus dugaan korupsi e-KTP. (ilustrasi/aktual.com)

Jakarta, Aktual.com – Pusaran badai korupsi e-KTP tampaknya tidak terhenti pada Setya Novanto saja. Bergulirnya bola panas kasus korupsi yang diduga terjadi pada medio 2011-2012 lalu pun telah menyasar kepada beberapa nama besar lainnnya.

Sebelumnya, pusaran badai e-KTP juga telah menyasar kepada sejumlah politikus asal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yaitu Ganjar Pranowo, Yasonna Laolly, Olly Dandokambey dan Arif Prabowo.

Keempat nama di atas muncul dalam dakwaan terhadap dua mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Irman dan Sugiharto, pada tahun lalu.

Dalam dakwaan tersebut, keempat orang di atas disebut telah menerima aliran dana korupsi e-KTP, masing-masing sebesar 1,2 juta dollar AS (Olly), 520 ribu dollar AS (Ganjar), 108 ribu dollar AS (Arif) dan 84 ribu dollar AS (Yasonna).

Namun, belakangan telah muncul nama-nama lain yang ikut ‘diseret’ dalam kasus dugaan korupsi yang telah merugikan negara lebih dari Rp 5 triliun ini. Bahkan nama yang terseret bukanlah politisi biasa, melainkan calon pewaris dua partai politik besar di Indonesia, yaitu Puan Maharani Soekarnoputri dan Edhie Baskoro Yudhoyono.

Keterlibatan keduanya diungkapkan dalam waktu yang berdekatan. Bedanya, nama Puan diungkapkan usai persidangan, sedangkan Ibas dibuka dalam pengadilan.

Terseretnya nama Ibas dan Puan tentunya kembali memanaskan badai e-KTP yang mengguncang tanah air dalam setahun terakhir.

Ibas dan Puan sendiri merupakan anak dari dua parpol besar di tanah air, yaitu Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Kedua tokoh yang sama-sama pernah menjabat sebagai Presiden RI ini diketahui sebagai seteru politik, selama satu dekade terakhir.

PDIP Meradang

(Nebby)