Pekerja beristirahat dengan latar aktivitas bongkar muat peti kemas di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (11/12). Menteri Perdagangan Thomas T. Lembong memproyeksikan, kinerja ekspor hingga akhir tahun akan turun sebesar 14 persen dan impor turun sebesar 17 persen secara year on year. ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/foc/15.

Jakarta, Aktual.com — Perusahaan pelayaran niaga PT Djakarta Lloyd tidak lagi berfokus pada pengangkutan peti kemas sebagai inti bisnisnya dan beralih ke kargo umum.

“Beralihnya inti bisnis didorong pasar perti kemas yang saat ini semakin lesu,” ujar Direktur Utama PT Djakarta Lloyd Arham S Torik di Jakarta, Senin (25/1).

Menurutnya, ‘Banting setir’ Djakarta Lloyd dari bisnis pengangkutan peti kemas ditunjukan dengan pembelian kapal jenis lain untuk tahun ini

“Kita tidak beli kapal kontainer, kita ikuti ‘captive market’ (pasar tetap),” katanya.

Untuk tahun, ini dia mengatakan, akan menambah sekitar dua kapal jenis “supramax” dengan kapasitas 50.000 DWT dengan kebutuhan investasi sebesar Rp142,5 miliar pada Maret mendatang.

Arham mengatakan sumber dana pembelian kapal tersebut, yakni dari penyertaan modal negara (PMN) yang dikucurkan pada akhir 2015 sebesar Rp350 miliar. Sementara itu, Rp163 miliar sisanya, dia mengatakan, rencana awalnya akan digunakan untuk revitalisasi enam unit kapal.

Namun dia mengatakan, akan ada revisi rencana kerja anggaran perusahaan (RKAP), yakni dana yang digunakan untuk merevitalisasi kapal tersebut akan dialihkan untuk pembelian kapal dengan kapasitas 17.500 DWT-30.000 DWT.

Pasalnya, menurut dia, biaya untuk perbaikan kapal saat ini lebih mahal ketimbang untuk pembelian kapal di mana harga kapal sedang merosot.

“Perbaikan kapal Lhouksemawe itu biayanya sekitar Rp28 miliar, lebih baik saya beli tiga kapal sejenis enggak lebih dari Rp8 miliar,” katanya.

Arham mengaku sudah menyampaikan terkait perubahan arah bisnis tersebut kepada Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan DPR.

“Yang sedang kita proses adalah pengalihan revitalisasi jadi pengadaan, saya sangat ‘confident’ (percaya diri) akan menguntungkan,” katanya.

Pada tahun ini, ia mengatakan sudah menargetkan keuntungan sebesar Rp65 miliar.

Selain itu, Arham mengatakan pada tahun ini juga akan berfokus pada restrukturisasi finansial, investasi dan finansial dan sinergi antara BUMN.

“Kami juga akan menjalin kerja sama dengan sejumlah BUMN untuk pengangkutan kargo karena kami lebih hemat dua sampai tiga persen,” katanya.

Arham mengatakan perusahaan juga akan menambah menjadi 18 kapal pada 2018 untuk menjadi perusahaan kelas global serta melakukan penawaran saham perdana atau IPO pada 2020.

(Antara)

(Eka)