Jakarta, Aktual.com – Salah satu persoalan terbesar yang dihadapi oleh Perusahaan Gas Negara (PGN) adalah harga beli gas kepada perusahaan gas swasta dan asing yang sangat mahal. Sementara harga jual gas oleh PGN tidak secara leluasa dapat dinaikan. Semua mengacu kepada keputusan pemerintah.

Selain itu kenaikan harga gas yang dijual PGN sudah pasti akan mendapat penolakan dari berbagai kalangan. Sebagaimana penolakan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) baru baru ini yang menyatakan menolak kenaikan harga jual gas PGN pada tahun 2020 mendatang dan tetap akan “ngotot” membayar dengan harga lama.

Dilema Harga Jual Gas PGN

Harga pembelian gas PGN kepada kontraktor swasta dan asing ini telah diikat melalui perjanjian kontrak pembelian jangka panjang sehingga PGN tidak secara leluasa untuk membeli bahan baku gas untuk diolah menjadi gas konsumsi. Sementara harganya ditetapkan melalui formula pemerintah.

Perjanjian tersebut berlaku sampai dengan kuantitas yang diperjanjikan telah tercapai, sebagai contoh perjanjian jual beli gas (PJBG) PGN dengan ConocoPhillips (Grissik) Ltd. PJBG Corridor Block – Jawa Barat/GSPA diperjanjikan pada tahun 2004 dan kontrak pembelian tersebut akan berlaku sampai tahun 2023. Demikian juga dengan perjanjian perjanjian lain juga merupakan perjanjian jangka panjang.

Meskipun harga gas di pasar turun namun perusahaan perusahaan hulu dapat menaikan harga dengan dasar pertimbangan biaya biaya untuk menghasilkan gas mengalami kenaikan baik itu biaya investasi, biaya kurs, inflasi dan lain sebagainya.

(Abdul Hamid)