Pemerhati Politik Internasional, Surya Fermana
Pemerhati Politik Internasional, Surya Fermana

Jakarta, Aktual.com – Perang di Ukraina hanyalah perang pembuka antara Rusia vs NATO. Rusia menentang keras unilateralisme Amerika sebagai sang Adi Kuasa yang sesukanya menghukum negara yang tidak sesuai dengan keinginan mereka.

Semasa perang dingin Uni Soviet mampu mengimbangi dominasi Amerika namun ketika perang dingin berakhir Amerika mendominasi dengan mengusung nilai demokrasi.

Menurut Rusia Colour Revolution adalah strategi Amerika untuk memecah belah kekuatan negara yang tidak sejalan dengan referendum wilayah dan pergantian kepemimpinan negara.

Negara bekas Soviet dilanda musim semi colour revolution dan negara bekas Soviet antri menjadi anggota NATO. Sebagai kekuatan yg mengancam Amerika maka Rusia dijepit melalui negara bekas Soviet seperti Ukraina.

Bagi Rusia konflik dengan NATO tidak dapat dihindarkan cepat atau lambat akan terjadi. Rusia menginginkan adanya balance of power dengan menyusun kekuatan kasar maupun lembut menghadapi NATO. Dalam menghadapi NATO tidak dapat hanya dengan kelembutan tapi juga harus siap kasar. Ini bukan lagi Cold war tapi hot war kata kepala Intelijen Luar Negeri Rusia Sergey Narisykhin.

Akhirnya mereka putuskan memulai duluan preemtive strike dengan menyerang Ukraina sebagai tanda konflik terbuka dengan NATO dimulai. Rusia menggunakan strategi perang hybrid hybrid melawan NATO.

Campuran antara penggunaan senjata dan non senjata. Sebenarnya perang hybrid menurut Jenderal Valerei Gerasimov yang dianggap konseptornya adalah counter terhadap strategi Amerika yang lebih dulu menerapkannya.

Setelah Rusia menyerang Ukraina sanksi dari negara-negara NATO dan sekutunya bermunculan. Sanksi bukan hanya pada tingkat negara namun juga perusahaan swasta mereka. Sanksi tersebut membuat Rusia mengalahkan Korut dan Iran sebagai negar yang diberi sanksi. Selama Sejauh ini sanksi NATO tidak membuat Rusia berhenti menyerang Ukraina. Mampukah Rusia melawan embargo NATO?
Mantan Presiden Rusia dan sekarang Deputi Dewan Keamanan Nasional mengatakan bahwa Rusia siap menerapkan sistem autarki bila Barat menyerang mereka dengan sanksi penuh.
Rusia percaya diri bahwa Rusia terlalu besar untuk dikucilkan. Menlu Rusia Sergey Lavrov mengatakan Rusia tidak sendiri dan memiliki banyak teman. Rusia membentuk aliansi Eurasia negara-negara yang berada di sepanjang daratan Eropa-Asia sebagai imbangan kekuatan lama transatlantik. Rusia-Mongol-China-Pakistan.

Rusia juga buka hubungan ke Afrika dan Amerika Latin. Rusia turn on Asia kata Sergei Karaganov pemikir strategis Rusia. Sejauh ini Eurasia unggul sumberdaya alam sedangkan NATO unggul finansial. Sekarang mereka saling kunci dan siapa yang akan menyerah perlu dicermati dari waktu ke waktu. Jelasnya akan berdampak pada perekonomian dunia dan juga dapat berkembang menjadi turbulensi politik di negara-negara yang terdampak krisis ekonomi.

Untuk mengunci Eurasia dari sisi Asia maka Amerika berencana membentuk kekuatan transpasifik. Aliansi utama mereka Jepan, Korea Selatan, Taiwan, Australia, Selandia Baru dan Singapura. 4 negara tersebut dicatat Rusia sebagai negara yang ikut memberi Sanksi ekonomi ke mereka.

Rusia tidak hanya mengandalkan sekutunya China untuk menghadapi konflik di Pasifik namun juga membangun kekuatan angkatan laut dan mereka akan menambah kapal perang di Pasifik. Secara geografis Timur Jauh (Far East) Rusia berada di Pasifik. Konflik di Pasifik akan berdampak langsung pada Indonesia yang sejauh ini non-blok dan lebih mengutamakan ASEAN sebagai jalan mengatasi keresahan akibat jepitan dua blok besar.

Namun jelaslah Indonesia saat ini sedang diincar oleh masing-masing kekuatan. Meski secara rahasia Indonesia harus memilih kedekatan geo strategis aliansi yang akan membela bila terjadi konflik. Logic exclude middle. Logika di tengah-tengah harus dibuang ketika menghadapi ancaman strategis. Logika tersebut dikutip dari buku Filsafat Intelijen karangan AM Hendropriyono.

Oleh:

Surya Fermana

Pemerhati Politik Internasional

(A. Hilmi)