Shenzhen, Aktual.com – Pihak berwajib Tiongkok menggerebek kantor perusahaan pengelola tempat pembuangan sampah, yang longsor dan menyebabkan 76 orang hilang, sementara catatan pemerintah menunjukkan perusahaan itu tidak layak melakukan pekerjaan tersebut.

Polisi berada di dua gedung Shenzhen Yixianglong Investment Development pada Selasa (22/12), dan tidak ada tanda keberadaan karyawan perusahaan itu.

Setidak-tidaknya, satu mayat diangkat dari reruntuhan setelah banjir lumpur besar dan puing bangunan dari tempat pembuangan sampah, yang terlalu penuh, mengubur 33 bangunan di kawasan industri di kota Shenzhen pada Minggu.

Ribuan pekerja menggunakan sensor, drone dan alat penggali di daerah bencana seluas 380 ribu meter persegi untuk mencari korban selamat, yang terjebak di bawah lumpur setebal 10 meter.

Sepanjang malam, kawasan itu diterangi dengan lampu-lampu agar operasi penyelamatan bisa terus dilakukan.

Bencana tersebut merupakan bencana kedua akibat ulah manusia di Tiongkok dalam empat bulan terakhir, setelah pada Agustus setidaknya 160 orang tewas dalam ledakan bahan kimia di utara kota pelabuhan Tianjin.

Dengan meningkatnya kekhawatiran mengenai standar keamanan industri Tiongkok dan kurangnya pemantauan, Perdana Menteri Li Keqiang memerintahkan penyelidikan atas longsor lumpur di Shenzhen, kota yang mengalami ledakan pertumbuhan membahayakan di negara dengan ekonomi terbesar kedua dunia itu.

Dalam rapat pemerintah pusat di Beijing yang dihadiri Presiden Xi Jinping dan berakhir Selasa, disebutkan bahwa keamanan harus menjadi “prioritas utama” dalam pembangunan dan manajemen kota Tiongkok, demikian dilaporkan kantor berita Xinhua.

“Kepedulian soal keamanan harus terserap di setiap unsur proyek perkotaan,” katanya.

Catatan pemerintah menunjukkan bahwa sebuah perusahaan bernama Shenzhen Luwei Property Management memenangkan hak untuk mengelola lokasi pembuangan sampah di dalam kawasan industri Hengtaiyu di distrik baru Guangming, Shenzhen pada 2013.

Namun, seorang karyawan perusahaan itu mengatakan bahwa hak pengelolaan itu dijual kepada perusahaan lain, Shenzhen Yixianglong Investment Development dengan nilai 750 ribu yuan (115.766 dolar AS), bahkan sebelum mereka memenangi tender.

“Mereka mencari kita dan menghubungi kita terlebih dulu,” kata karyawan yang hanya dikenali sebagai Liu itu.

Meski demikian, deskripsi usaha Yixianglong yang terdaftar di pemerintah tidak memasukkan pengelolaan logistik di dalam wilayah operasinya. Hal tersebut merupakan salah satu prasyarat untuk mengikuti tender lokasi pengelolaan, menurut dokumen tender.

Dokumen kontrak Luwei dengan Yixianglong, menunjukkan bahwa Yixianglong setuju untuk bertanggung jawab atas kecelakaan tersebut.

Yixianglong tidak menerima panggilan telpon wartawan.

()

()