Kabareskrim Polri yang juga calon Kapolri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo bersiap mengikuti Uji Kelayakan dan Kepatutan Calon Kapolri di ruang Komisi III DPR, Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/1/2021). Calon Kapolri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo merupakan calon tunggal Kapolri yang diajukan Presiden Joko Widodo ke DPR untuk menggantikan Jenderal Pol Idham Aziz yang memasuki masa pensiun. ANTARA FOTO/Pool/Galih Pradipta/foc.

DPR RI telah menyetujui Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri baru. Prosesnya  terbilang mulus tanpa hambatan. Namun, di masyarakat ada yang mempertanyakan apa alasan paling rasional sehingga Jokowi memilih Komjen Sigit dari 5 nama yang diusulkan Kompolnas.

Pertanyaan itu antara lain datang dari Riyan Hidayat, Sekretaris Jenderal Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK).

“Mohon pak Jokowi kasih statemen yang rasional. Prestasi apa yang membuat pak Sigit bisa melangkahi senior-seniornya menjadi Kapolri?”, ujar Ryan dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (22/01/2020).

Menurut Ryan, track record Komjen Sigit selama ini biasa saja, tidak ada prestasi yang menonjol atau istimewa. “Selama menjadi Kapolda Banten biasa saja. Kadiv Propam standar saja. Lalu saat menjadi Kabareskrim masih banyak kasus yang mengawang. Emosi Publik soal kasus hukum Joko Candra belum selesai. Terbunuhnya 6 Laskar FPI juga belum selesai. Belum lagi kasus kerusakan alam disebabkan oleh eksploitasi perusahaan kongolomerasi yang semakin parah yang hari ini membuat bencana terjadi dimana-mana,” ungkap sosok yang merupakan mantan Ketua BEM UIN Jakarta itu.

Lanjut dia, dengan track record yang terbilang tidak istimewa seperti itu, mengapa sosok Sigit bisa melampaui senior-seniornya dari angkatan 87 sampai 90. Padahal, banyak diantara seniornya itu merupakan peraih Bintang Adhi Makayasa atau lulusan terbaik di angkatannya dan punya prestasi cemerlang selama berkarir di Polri.

“Menurut saya, Pak Jokowi terlalu jauh masuk ke internal Polri, terpilihnya Pak Sigit patut diduga sangat politis, karena berdasarkan kedekatan dengan Presiden. Sistem rekruitmen ini jelas  menjadi preseden buruk dalam pengangkatan pimpinan polri. Karena itu bagi perwira Polri lainnya, tak perlu memperbanyak prestasi untuk memiliki karir bagus di Polri, cukup mendekatkan diri dengan penguasa atau politisi saja. Kalo begitu Untuk apa ada pelembagaan Adhymakayasa? Kita berdoa semoga Polri tidak sampai membentuk Parpol.” tutup Riyan.

(Ridwansyah Rakhman)