Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Harvick Hasnul Qolbi didampingi Anggota Komisi IV DPR RI, Maria Lestari dan Bupati Sambas, Satono saat melakukan Panen Padi Varitas Unggul Baru jenis Inpari 36 dan 37 dari Balitbang Kementan di Desa Lanom, Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Kamis (19/8). (Foto: AKTUAL/Warnoto).
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Harvick Hasnul Qolbi didampingi Anggota Komisi IV DPR RI, Maria Lestari dan Bupati Sambas, Satono saat melakukan Panen Padi Varitas Unggul Baru jenis Inpari 36 dan 37 dari Balitbang Kementan di Desa Lanom, Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Kamis (19/8). (Foto: AKTUAL/Warnoto).

Jakarta, Aktual.com Wakil Menteri Pertanian, Harvick Hasnul Qolbi mengungkapkan produksi padi Indonesia hingga akhir tahun 2021 diperkirakan mencapai 55,27 juta ton GKG. Jumlah ini meningkat 1,14 persen atau 620,42 ribu ton dibanding produksi padi tahun 2020 yang sebesar 54,65 juta ton GKG.

Hal ini merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai angka sementara produksi padi 2021 yang baru saja dirilis pada Jumat (15/10).

“Alhamdulillah, puji syukur produksi padi kita pada 2021 diperkirakan sebesar 55,27 juta ton GKG naik 620,42 ribu ton atau naik 1,14 persen dibandingkan produksi padi di 2020 yang sebesar 54,65 juta ton GKG,” kata Harvick dalam keterangan tertulisnya.

Harvick mengatakan sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahwa dirinya mendapat perintah untuk terus mengawal sektor pangan. Hal ini dilakukan agar jangan sampai masyarakat kekurangan soal untuk urusan pangannya.

“Kita di Kementerian Pertanian tidak kurang-kurangnya juga mendapat arahan dari pak Presiden untuk terus mengawal sektor pangan ini agar memang jangan sampai kekurangan di masyarakat,” ungkapnya.

Selain itu, Harvick juga menuturkan untuk mencapai Ketahanan Nasional, maka Kemandirian Pangan harus lebih dulu terbentuk.

Ia pun menegaskan, semua program-program di Kementan yang saat ini sudah on the track, bukan sekedar jargon belaka.

“Karena National Resilience itu bisa terbentuk kalau memang Food Resilience-nya dulu (terbentuk). Apalagi soal kedaulatan. Ketahanannya saja harus kita capai dulu baru kedaulatan. Jadi bukan sekedar jargon tapi memang kita on the track ke situ. Dan kita harapkan masyarakat juga support,” tegasnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi di Indonesia sepanjang Januari hingga September 2021 diperkirakan sekitar 45,61 juta ton GKG, atau mengalami kenaikan sekitar 65,39 ribu ton GKG (0,14 persen) dibandingkan 2020 yang sebesar 45,55 juta ton GKG.

Sementara itu, potensi produksi sepanjang Oktober hingga Desember 2021 sebesar 9,66 juta ton GKG. Dengan demikian, total potensi produksi padi pada 2021 diperkirakan mencapai 55,27 juta ton GKG, atau mengalami kenaikan sebanyak 620,42 ribu ton GKG (1,14 persen) dibandingkan 2020 yang sebesar 54,65 juta ton GKG.

Produksi padi tertinggi pada 2021 terjadi pada bulan Maret, yaitu sebesar 9,67 juta ton GKG,
sementara produksi terendah terjadi pada bulan Januari, yaitu sebesar 2,08 juta ton GKG. Berbeda dengan produksi pada 2021, produksi tertinggi pada 2020 terjadi pada bulan April

Tiga provinsi dengan total potensi produksi padi (GKG) tertinggi pada 2021 adalah Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Sementara itu, tiga provinsi dengan potensi produksi padi terendah adalah Kepulauan Riau, DKI Jakarta, dan Papua Barat.

(A. Hilmi)