Jakarta, Aktual.com — Segera setelah kumandang Adzan Maghrib terdengar dan orang-orang selesai menyantap makanan berbuka (iftar) mereka setelah seharian berpuasa selama bulan suci Ramadan, Mesir kelihatan berbeda sama sekali.

Negara Arab paling padat penduduk itu menjadi hiruk-pikuk, dimana dekorasi dan hiasan warna-warni yang bernuansa Ramadan tersebar di mana-mana dan orang keluar rumah untuk berkumpul bersama sanak-keluarga dan teman.

Semua jalan di Mesir, terutama yang berada di Ibu Kotanya, Kairo, terlihat dipenuhi kebahagiaan, hiasan warna-warni dan kesibukan selama malam bulan Ramadan.

Toko kopi membuka kembali pintu mereka buat pembeli yang ingin menikmati berkumpul pada malam hari dan menghabiskan waktu untuk bergembira setelah mereka menikmati sahur mereka, sebelum datangnya fajar.

Ratusan orang Mesir berkeliaran di luar Masjid Hussein di dekat Khan El-Khalili di pusat kota Kairo, sementara kembang api menyala, lentera penuh warna tergantung dan banyak orang duduk di depan kedai kopi yang menawarkan menu khusus selama bulan spesial.

“Ramadan adalah bulan yang indah dan saya suka sekali pergi ke daerah Hussein bersama keluarga kecil saya pada malam hari serta menyantap sahur di lingkungan yang bahagia ini,” kata Mu’tassim, pegawai yang berusia 40 tahun, demikian dikutip Xinhua di Jakarta, Senin (6/7).

Ia bersama istrinya, ibunya dan anak kecil yang mengenakan kopiah merah yang lucu di salah satu kedai kopi yang dipenuhi pengunjung di daerah Hussein.

Ibu Mu’tassim, yang berusia 65 tahun, mengatakan kepada Xinhua bahwa mereka menghabiskan siang hari dengan berpuasa, berdoa, menyembah Allah SWT dan menyiapkan iftar (makanan berbuka). Itu sebabnya mereka suka sekali keluar rumah pada malam hari untuk menghibur diri.

“Itu keseimbangan antara ibadah dan kesenangan,” kata wanita tersebut.

Karena Ramadan sangat spesial buat negara Muslim itu, kedai kopi menawarkan layanan khusus selama Ramadhan selain minuman dan shisha, sementara penyanyi jalanan menghibur pengunjung.

Reda, seorang penyanyi jalanan yang berusia 30-an tahun, sedang tampil di kedai kopi Hussein Nights di seberang Masjid dengan menara tinggi di dekat Khan El-Khalili, bersama grup bandnya, yang terdiri atas seorang pemain kecapi dan seorang pemain drum.

“Sebenarnya saya sangat gembira saat menghibur orang-orang ini selama malam Ramadhan yang sangat membahagiakan ini,” kata Reda, setelah menampilkan satu lagu terkenal buat hadirin yang menyambutnya dan ikut bernyanyi bersama dia di bagian luar kedai kopi tersebut.

Di Jalan Faisal, yang pada pengunjung, di Provinsi Giza di dekat Kairo, Harafeesh Cafe kelihatan berbeda dibandingkan dengan kedai lain di pusat kota. Tempat itu menampilkan hiasan oriental, langit-langit seperti kubah, lukisan mendiang penulis Mesir dan artis di temboknya dan lentera Ramadhan buatan tangan tergantung di setiap sudut kafe unik tersebut.

“Peran dasar bagi kedai kopi ialah hiburan, tapi Harafessh berusaha memainkan peran budaya juga. Kami menawarkan makanan budaya, terutama saat Ramadhan, termasuk lomba informasi umum, kontes keindahan dan satu band oriental profesional yang menyajikan musik asli Mesir yang unik,” kata pemilik Harafeesh Cafe Fakhry Youssef kepada Xinhua di salah satu sudut cafe. Kedai itu diberi nama yang diambil dari mendiang penulis dan peraih Hadiah Nobel Najib Mahfouz.

Lelaki tersebut menambahkan kebanyakan tamunya adalah lelaki dan perempuan yang berusia setengah baya yang menghargai seni klasik. Ia mengatakan Mahfouz sendiri datang ke Harafeesh setiap pekan dan beberapa pelukis serta penulis lain kontemporer juga mengunjungi tempat itu untuk mengarang karya mereka.

Kelompok musik melantunkan musik tradisional yang berkaitan dengan Ramadhan, seperti lagu tua “Ramadhan Gana”, yang berarti “Ramadan telah datang”.

Setelah itu tampil musik romantis dengan penyanyi terkenal seperti Omm Kolthoum, Abdel-Halim Hafez dan yang lain, berdasarkan permintaan hadirin.

Di tempat lain di Kairo, terutama di Jalan 9 di Kabupaten Maadi, kedai kopi modern juga dipenuhi pengunjung selama malam Ramadhan. Namun mereka condong ke Barat dibandingkan dengan kedai kopi unik di pusat Kota Kairo dan Giza, seperti Fishawi, Hussein Nights dan Harafeesh.

Walaupun kedai kopi adalah tujuan utama buat rakyat Mesir setelah mereka menikmati iftar selama Ramadhan, banyak orang Mesir, terutama remaja, juga suka berjalan-jalan bersama rekan sebaya mereka di tepi Sungai Nil di tempat terbuka.

Mereka membeli es krim dan berondong jagung di tengah kembang api yang meluncur ke udara.

(Ant)

()