Jakarta, aktual.com – Nama mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli sempat jadi salah satu trending di Twitter Rabu, 18 Maret 2020. Rupanya, ini imbas dari pernyataannya di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) tvOne yang secara gamblang mengkritik pemerintahan Presiden Jokowi terkait penanganan pandemi virus corona alias Covid-19.

Dalam kesempatan itu, Rizal menilai respons pemerintah relatif lambat dan terlambat. Dia menilai mungkin karena sungkan dengan Tiongkok karena kejadiannya di Wuhan, Tiongkok.

Rizal juga mencibir reaksi kebijakan pemerintah yang dianggapnya ngawur. Rizal tidak habis pikir dengan pemerintah yang ingin membayar influencer Rp72 miliar.

Kemudian, kebijakan yang dianggap ngawur lagi yaitu pemerintah ingin meningkatkan pariwisata dari negara lain. Sementara negara-negara lain justru menutup penerbangan dari negara terkena epidemi Covid-19.

Rizal juga mengkritisi masih adanya penggunaan tenaga kerja dari Tiongkok di Indonesia. Menurut dia, itu lebih karena adanya kepentingan pejabat yang merangkap sebagai pengusaha.

Dia juga sempat melontarkan pujian kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam menangani wabah virus corona.

Berikut pernyataan lengkap Rizal Ramli di ILC tvOne:

Pada awal Corona, respons Indonesia sangat lambat dan terlambat padahal di Wuhan telah terjadi akhir tahun 2019. Kelambatan tersebut terutama karena ‘sungkan’ takut menyinggung Tiongkok. Kedua, pejabat-pejabat RI mengambil sikap ‘self-denial’ (menolak kenyataan).
Kita kehilangan 2,5 bulan.

Kita kehilangan waktu yang sangat berharga, 2,5 bulan, untuk scanning, monitoring dan testing potensi penularan corona. Itulah yg menyebabkan negara-negara lain seperti Australia, Singapore, WHO tidak percaya pada statistik kasus corona di indonesia.

Respons kebijakan pertama terhadap corona sangat ngawur yaitu rencana untuk membiayai influencers senilai Rp72 miliar dan subsidi airline untuk meningkatkan turisme. Bener-bener ngawur, seluruh dunia mau kurangi turis asing, ini malah mau tingkatkan. Kualitas orang di sekitar Jokowi payah.

Masih saja izinkan pekerja-pekerja Tiongkok untuk masuk Indonesia hanya karena kepentingan bisnis pejabat-cum-penguasa.

Sing eling eui, ingat kepentingan nasional. Nora amat sih.

Sebagai bangsa memang kita terbiasa dan sangat asyik kalau membahas apa yang terjadi hari ini, tetapi tidak terlatih untuk melihat dan melakukan antisipasi terhadap masa depan. Sehingga sering terlambat  jika menghadapi shocks global seperti corona.

Jika tidak ada corona, ekonomi Indonesia memang terus anjlok karena salah kelola, mabok utang dan pengetatan makro, ekonomi hanya akan tumbuh 4 persen tahun 2020.

Kalau tindakan terhadap corona efektif, ekonomi hanya akan anjlok lagi -1 persen. Tapi jika tidak efektif, ekonomi akan anjlok -2 persen lagi.

Untuk mengurangi dampak corona terhadap ekonomi, ini waktunya untuk menggeser secara radikal dengan melakukan realokasi APBN 2020. Stop (moratorium) proyek-proyek infrastruktur besar 2020. Harus berani, jangan gengsi. Alokasikan hanya untuk sektor kesehatan, makanan dan daya beli rakyat miskin.

Indonesia saat ini bukan negara kaya, sehingga jangan lakukan ‘macro pumping’ dan jangan ada ‘buyback’ saham-saham BUMN lain-lain. Amerika saja yang negara kaya, melakukan pumping macro ratusan miliar dolar lewat FED ternyata tidak effektif, hanya kurang 2 jam index naik, habis itu anjlok.

Korea Selatan termasuk negara yang paling efektif dalam menangani pandemik corona karena mereka belajar dari kasus SARS, evaluasi apa-apa yang effektif dan siapkan SOP (Standard Procedures) ketika serangan corona, sudah ada SOP yang siap-pakai tanpa perlu banyak rapat dan koordinasi.

Gunakan momentum pandemic corona ini untuk menggenjot produksi dalam negeri, seperti pertanian, buah-buahan dan sayur-sayuran. Bantu kredit, bibit, pupuk sehingga bisa panen setiap 3 bulan. Ajak IPB untuk bantu peta kecocokan tanah. Jangan bisanya impor-impor doang.
Payah amat sih.

Nilai tukar rupiah makin anjlok, sudah Rp15.200/$, dan index IHSG sudah anjlok dari 6000-an ke 4500-an. Jangan biarkan mata uang rupiah dan index terombang-ambing dengan shocks dan volatilitas yang sangat besar.

Ubah flexible exchange menjadi fixed exchange di 15.500/$ untuk 1 tahun.

Jangan biarkan external & internal shock dengan volatilitas yang sangat besar merusak ekonomi dan korporasi nasional. Bekukan perdagangan saham sampai waktu yang belum ditentukan. Toh kalau dibuka terus, akan semakin anjlok, dan akan semakin panik.

Ini adalah momentum untuk tukar (swap) utang-utang Indonesia yang yield-nya sangat tinggi (7-8 persen), karya Menkeu ‘terbalik’ yang sangat merugikan bangsa kita. Kerugian karena bond kemahalan itu 110-120 T. Padahal yield bond di Jepang, Eropa negatif. Segera negosiasi swap bond, menghemat 110 T!

Soal penjelasan dan tindakan preventif dan kuratif menghadapi corona, pujian perlu diberikan kepada Gubernur Anies Baswedan. Bravo. Jelas, terukur dan persuasif dibandingkan pejabat-pejabat pemerintah pusat. [vivanews]

 

(Eko Priyanto)