Semarang, Aktual.co — Sofiyah (31), pasien rujukan RSUD Margono Soekardjo Purwokerto akibat dugaan malpraktik tindakan persalinan ditelantarkan pihak RSUP dr Kariadi Semarang. Pasien asal warga RT 05/RW 06 Kelurahan Arcawinangun, Purwokerto yang menempuh perjalanan selama lima jam untuk dirujuk ke RSUP Dr Kariyadi pada Kamis (6/11).
Sesampainya, pasien yang diduga terpotong anusnya saat melahirkan bayi laki-laki dengan kondisi normal seberat 3,1 kilogram itu tak mendapatkan perawatan medis oleh dokter.
Slamet, kakak kandung korban menceritakan sebelum dirujuk, pihak RSUD Margono sudah mengkomunikasikan dengan pihak RSUP dr Kariadi. Faktanya, pihak rumah sakit yang dirujuk tidak memberikan pelayanan apapun dan harus menunggu supaya dapat kamar.
“Pihak RSUD Margono hanya bilang sudah siapkan kamar di sini, dan telah koordinasi dengan RSUP Dr Kariyadi. Namun sesampainya di sini, malah tidak dapat pelayanan apapun dan harus menunggu hingga pukul 23.00 WIB agar dapat kamar memadai,” urainya.
Ia mensinyalir penelantaran pihak RSUP dr Kariadi terhadap adiknya itu terkait memakai kartu BJPS. Dibuktikan, setelah dirinya berdebat kusir panjang dengan petugas rumah sakit. Akhirnya, diizinkan masuk IGD dan dipindahkan ke bangsal kelas II keesokan harinya.
“Setelah diambil sampel darahnya, adik saya tidak diurus dengan baik. Sampai sekarang tidak dikasih infus dan lain sebagainya,” ujar Slamet.
Slamet berharap, adiknya bisa ditangani maksimal oleh dokter di RSUP Dr Kariyadi supaya bisa sembuh seperti semula. “Jadi hanya dikasih susu dan tidak diinfus. Pelayanan bagi adik saya kurang baik di sini. Masih terlantar dan tidak terurus,” kata Slamet.
Mendapat respon dari wartawan, pihak RSUP Dr Kariyadi langsung menggelar jumpa pers terkait pernyataan keluarga pasien yang mengadu kepada wartawan karena telah ditelantarkan.
Juru Bicara RSUP dr Kariadi, dr Darwito kepada wartawan membantah bahwa pihaknya telah menelantarkan pasien. Belum dilayani pasien karena kamar rawat inap tidak ada yang kosong.
“Tidak ada kita menelantarkan pasien. Semua itu miss komunikasi dengan keluarga pasien. Bisa anda tahu, jumlah kamar pasien membludak dan sudah tidak menampung seluruh pasien,” elak dia.
Mengenai dugaan malpraktik itu, dirinya masih menelusuri penyakit pasien tersebut. “Kita akan telusuri dulu oleh tim medis. Apakah rujukan pasien itu dugaan malpraktik atau bukan,” imbuh dia.