Karyawan jasa penukaran uang asing menunjukkan dolar Amerika di Masayu Agung, Kwitang, Jakarta Pusat, Jumat (2/8/2018). Nilai tukar rupiah terhadap dolar atau kurs kembali menurun, yakni dari sebelumnya sebesar Rp 14.734 per USD pada Kamis (30/8/2018) naik menjadi Rp 14.800 per USD pada pukul 07.00 WIB. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu (5/9), semakin terperosok terhadap dolar AS, yakni sebesar Rp14.920. Padahal hari sebelumnya, Selasa (4/9), rupiah dibuka Rp14.895 per dolar AS.

Chief Market Strategist FXTM, Hussein Sayed, mengatakan maraknya sentimen negatif di pasar di antaranya mengenai perang dagang serta harga minyak mentah yang meningkat membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah kembali mengalami depresiasi.

“Ketegangan perang dagang serta tingginya harga minyak memperbesar masalah di pasar keuangan negara berkembang,” katanya di Jakarta, Rabu (5/9).

Ia mengemukakan harga minyak mentah jenis Brent mendekati 80 dolar AS per barel. Diharapkan, harga minyak kembali ke rentang 60-70 dolar AS per barel guna mencegah kekhawatiran pasar terhadap perekonomian di pasar berkembang.

Ia menambahkan sentimen negatif akan bertambah bagi pasar negara berkembang apabila The Fed tidak memperlambat laju pengetatan kebijakan moneternya.

Menurut dia, salah satu reaksi yang dapat dilakukan pemerintah adalah menerapkan tindakan penghematan meski dapat menahan laju ekonomi yang lebih tinggi.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan di tengah sentimen negatif rupiah yang tinggi saat ini, akan cukup mudah rupiah menembus level baru di atas Rp15.000 per dolar AS.

“Kemungkinan pelemahan berlanjut mendekati pertemuan the Fed 24-26 September mendatang. Namun, pelemahan ini kemungkinan sementara karena nilai tukar itu menunjukkan ‘overshooting’ di mana harga dolar AS sudah sangat mahal dalam mata uang rupiah,” katanya.

 

Ant.

()