Gunung Semeru terlihat dari Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Selasa (7/12/2021). (ANTARA/Fiqih Arfani)

Indonesia dalam sepekan terakhir ini tengah digemparkan dengan meletusnya Gunung Semeru. Yakni Gunung tertinggi yang ada di pulau Jawa. Sebelumnya dalam satu dekade terakhir ini juga sering kita dengar berita meletusnya Gunung Merapi di Jawa Tengah, kemudian ada juga Gunung Kelud Jawa Timur yang sempat meletus di periode tahun 2013. Tak jarang juga gempa bumi sering terjadi dengan skala besar maupun kecil.

Ada apakah sebenarnya di balik gemuruh gunung-gunung berapi di Pulau Jawa akhir-akhir ini seringkali bererupsi? Jika dikaji secara ilmiah tentu kita mendapatkan jawaban, bahwasannya Pulau Jawa memang terletak di pertemuan dua buah lempeng Asia dan Australia. Pulau Jawa juga mendapat julukan Ring of Fire dimana banyak sekali gunung-gunung api yang masih aktif.

Dalam tulisan editorial kali ini, Aktual.com ingin menyajikan dengan perspektif berbeda, yakni cerita Jawa Kuno dimana telah terjadi perjanjian antara seorang ulama utusan Khalifah Turki Utsmani yang ditugaskan untuk menyebarkan Agama Islam di Pulau Jawa yang bernama Syekh Subakir dengan penunggu belantara tanah Jawa yang sudah hidup 9.000 tahun lamanya terkenal dengan nama Ki Semar Badranaya sang Danyang tanah Jawa atau biasa disebut Sabda Palon.

Kisahnya dimulai saat Sultan Muhammad I, bermimpi mendapat wangsit untuk menyebarkan dakwah Islam ke tanah Jawa. Adapun ulama yang diutus diharuskan berjumlah sembilan orang. Jika ada yang pulang atau wafat maka akan digantikan oleh ulama lain asal tetap berjumlah sembilan.

Sehingga dikumpulkanlah beberapa ulama terkemuka dari seluruh dunia Islam waktu itu. Para ulama yang dikumpulkan tersebut mempunyai keahlian masing-masing. Ada yang ahli tata negara, berdakwah, pengobatan, tumbal atau rukyah, dan lain-lain.

Beberapa kali utusan untuk menyebarkan agama Islam tapi pada umumnya mengalami kegagalan. Masyarakat Jawa saat itu sangat memegang teguh kepercayaannya. Sehingga para ulama yang dikirim mendapatkan halangan karena meskipun berkembang tetapi ajaran Agama Islam hanya dalam lingkungan yang kecil, tidak bisa berkembang secara luas. Selain itu konon, Pulau Jawa saat itu masih merupakan hutan belantara angker yang dipenuhi makhluk halus dan jin-jin jahat.

Syekh Subakir adalah termasuk salah satu dari sembilan ulama yang dikenal dengan sebutan Wali Songo generasi awal. Dia memiliki keahlian dalam merukyah, ekologi, meteorologi dan geofisika ke tanah Jawa. Beliau diutus secara khusus menangani masalah-masalah gaib dan spiritual yang dinilai telah menjadi penghalang diterimanya Islam oleh masyarakat Jawa ketika itu.

Berdasarkan Babad Tanah Jawa, setelah sampai ke Pulau Jawa, Syekh Subakir yang menguasai ilmu gaib dan dapat menerawang makhluk halus mengetahui penyebab utama kegagalan para ulama pendahulu dalam menyebarkan ajaran Islam karena dihalangi para jin dan dedemit penunggu tanah Jawa.

Para jin, dedemit dan lelembut tersebut bisa merubah wujud menjadi ombak besar yang mampu menenggelamkan kapal berikut penumpangnya dan menjadi angin puting beliung yang mampu memporakporandakan apa saja yang berada di depannya.

Selain itu para jin kafir dan bangsa lelembut tersebut juga bisa berubah wujud menjadi hewan buas yang mencelakakan para ulama pendahulu tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut, konon Syekh Subakir membawa batu hitam dari Arab yang telah dirajah.

Lalu batu dengan nama Rajah Aji Kalacakra tersebut dipasang di tengah-tengah tanah Jawa yaitu di Puncak Gunung Tidar, Magelang. Karena, Gunung Tidar dipercayai sebagai titik sentral atau pakunya tanah Jawa. Efek dari kekuatan gaib suci yang dimunculkan oleh batu hitam tersebut menimbulkan gejolak.

Alam yang tadinya cerah dan sejuk, matahari bersinar terang, damai dengan kicau burung. Tiba-tiba berubah drastis selama tiga hari tiga malam. Cuaca mendung, angin bergerak cepat, kilat menyambar menimbulkan hujan api. Gunung-gunung bergemuruh tiada henti.

Lelembut, setan, siluman lari menyelamatkan diri. Jin, peri, banaspati, kuntilanak, jailangkung, semua hanyut dalam air karena tak kuat menahan panasnya pancaran batu hitam tersebut. Makhluk halus yang masih hidup pun mengungsi ke lautan. Sebagian jin yang lain ada yang mati akibat hawa panas dari tumbal yang dipasang Syekh Subakir tersebut.

Melihat hal itu, konon Sabda Palon, yang telah 9.000 tahun bersemayam di Puncak Gunung Tidar terusik dan keluar mencari penyebab timbulnya hawa panas bagi bangsa jin dan lelembut. Sabda Palon lalu berhadapan dengan Syekh Subakir. Sabda Palon lalu menanyakan maksud pemasangan batu hitam tersebut.

Sang ulama menyatakan, maksud dia, menancapkan batu hitam itu untuk mengusir bangsa jin dan lelembut yang mengganggu upaya penyebaran ajaran Islam di tanah Jawa oleh para ulama utusan khalifah Turki Utsmaniyah.

Setelah terjadi perdebatan mereka segera mengadu kesaktian. Konon pertempuran antara keduanya terjadi selama 40 hari 40 malam, hingga Sabda Palon yang juga dikenal sebagai Ki Semar Badranaya sang Danyang tanah Jawa ini merasa kewalahan dan menawarkan perundingan.

Sabda Palon mensyaratkan beberapa hal dalam upaya penyebaran Islam di tanah Jawa. Isi kesepakatan antara lain, Sabda Palon memberi kesempatan kepada Syekh Subakir beserta para ulama untuk menyebarkan Islam di Tanah Jawa, tetapi tidak boleh dengan cara memaksa.

Kemudian Sabda Palon juga memberi kesempatan kepada orang Islam untuk berkuasa di tanah Jawa namun dengan catatan. Para Raja Islam itu silahkan berkuasa, namun jangan sampai meninggalkan adat istiadat dan budaya yang ada. Silahkan kembangkan ajaran Islam sesuai dengan kitab yang diakuinya, tetapi biarlah adat dan budaya berkembang sedemikian rupa.

Jika syarat ini tidak dipenuhi maka Sabda Palon akan muncul dalam 500 tahun lagi dengan membawa goro-goro. Maksudnya kejadian alam yang bertujuan untuk mengingatkan manusia dan masyarakat tanah Jawa dikarenakan telah membuat kerusakan di muka bumi.

Cerita Jawa Kuno ini memang bukanlah hal ilmiah, sehingga tidak boleh ditelan mentah-mentah. Namun dari cerita Jawa Kuno ini setidaknya memberikan kita hikmah, bahwa ketika Islam datang di tanah Jawa, telah berkuasa sebelumnya Kerajaan Majapahit yang bercorakkan agama Hindu memiliki wilayah kekuasaan cukup luas di seluruh penjuru Nusantara.

Namun saat hendak terjadi pergantian kekuasaan dari kerajaan Hindu ke kerajaan Islam, bahwa telah terjadi perang saudara dimana-mana. Manusia sudah meninggalkan ajaran leluhur Jawa yang mengedepankan budi pekerti.

Meskipun situasinya berbeda, namun tampaknya kemiripan peristiwa benar adanya. Bahwa manusia mulai meninggalkan nilai-nilai kesucian dalam hubungan antar manusia, yang lebih banyak mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok ketimbang kepentingan orang banyak.

Manusia lebih mementingkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan, tanpa memikirkan orang dan lingkungan di sekitar.

(Redaksi Aktual)