Ustadz Muhammad Danial Nafis, Di Maqbaroh Al Quthb Sidi Abdus Salam Al Masyisi al Hasani ,Jabal Alam - Maroko
Ustadz Muhammad Danial Nafis, Di Maqbaroh Al Quthb Sidi Abdus Salam Al Masyisi al Hasani ,Jabal Alam - Maroko

Jakarta, Aktual.com – Khadim Zawiyah Arraudhah, KH. Muhammad Danial Nafis mengurairakan Surat Al-Kahfi ayat 110 diatas, pada saat pembacaan kitab al-Anwar al-Hadi karya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, di Zawiyah Arraudhah, Selasa (10/3) Jakarta Selatan.

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” [Terjemah Kemenag 2002]

Pada ayat tersebut, tercantum dua cara agar seseorang dapat bertemu dengan Allah swt, dengan pertemuan yang baik di akhirat kelak.

Cara Pertama adalah dengan beramal shalih. “Amal shalih itu ialah amal yang sesuai dengan ajaran nabi Muhammad saw, artinya jika amal itu tidak sesuai dengan ajaran nabi Muhammad maka amalan tersebut belum dianggap amal shalih. Sehingga penting sekali bagi seorang muslim untuk belajar ilmu syariat, agar amalnya terhitung sebagai amal shalih. Apalagi bagi seseorang yang ingin dekat dengan Allah swt, maka ia harus belajar ilmu syairat terlebih dahulu, sebelum mendalami ilmu thariqah,” jelasnya

Cara kedua adalah jangan syirik. Kiyai Nafis menjelaskan bahwa kata syirik itu bukan bermakna untuk orang-orang kafir saja, tetapi bisa juga untuk orang Islam, karena syirik itu terbagi ke dalam dua bagian. “Pertama syirik jali, artinya menyembah kepada selain Allah dan kedua syirik khafi, artinya menyembah kepada Allah tapi bukan karena Allah.”

“Syirik khafi ini seperti riya, artinya mengharapkan kedudukan dan pengagungan pada manusia dengan amalan akhirat. Misalnya melaksanakan shalat, puasa, shadaqah, haji tetapi semua ibadah tersebut bertujuan agar dimuliyakan manusia.”

Sehingga Kiyai Nafis berpesan ketika beramal janganlah diceritakan, karena jika diceritakan maka pahalanya bisa lebur. “Termasuk syirik khafi adalah ujub, artinya merasa beramal shalih, karena orang yang merasa beramal shalih, ia hanya ingat dengan kekuatan dirinya yang beramal tetapi lupa kepada Allah yang memberikan kekuatan kepadanya.”

Sehinga untuk menghilangkan syirik khafi ini kata kiyai Nafis, dengan menguatkan tauhid, baik tauhidul af’al yakni meyakini bahwa semua yang terjadi itu adalah pekerjaan Allah, dan tauhidul asma’ yakni meyakini bahwa semua nama yang ada merupakan penampakan nama Allah.

“Tetapi untuk menghilangkan syirik khafi ini tidaklah mudah, karena harus dapat menjalankan thariqah sampai kepada hakikat baru bisa ikhlas,” tegasnya.

(Eko Priyanto)