Ratusan massa Hizbut Tahrir Indonesia melakukan aksi tolak pembantaian muslim Rohingya di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (24/11/2016). Dalam aksinya Hizbut Tahrir Indonesia mendesak Jokowi untuk segera mengusir Duta Besar Myanmar dari Indonesia. AKTUAL/Munzir

Jakarta, Aktual.com-Pegiat Advokasi Rohingya di Indonesia, Heri Aryanto, menilai Presiden Jokowi harus sudah menyatakan sikap tegas kepada Pemerintah Myanmar. Mengingat tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar sudah menuai kecaman dan keperihatinan dari masyarakat internasional. Tak terkecuali, Indonesia.

“Rohingya telah diperlakukan tidak manusiawi selama berdekade-dekade lamanya, tetapi sengaja dibiarkan,” ujar Heri di Jakarta, Kamis (24/11).

Menurutnya, Pemerintah dan kelompok penduduk mayoritas Myanmar dibawah kendali Gerakan 969, merupakan pihak yang paling bertanggung jawab atas insiden pembantaian itu. Pasalnya, mereka membunuh anak-anak Rohingya yang tak berdosa secara keji. Begitupun perempuan dan laki-laki Rohingya dibunuh dengan cara biadad seperti hewan, rumah-rumah dihancurkan, dan tempat Ibadah pun dimusnahkan.

“Ini bukan kejahatan biasa, ini kejahatan genosida yang sistematis, namun kondisi ini sengaja dibiarkan untuk berbagai kepentingan”, tegas Advokat yang tergabung di SNH Advocacy Center ini.

Karenanya, Heri meminta Presiden Jokowi untuk bersikap tegas melakukan langkah-langkah penyelesaian dan perlindungan terhadap etnis Rohingya, sebagaimana sikap tegasnya mendukung bangsa Palestina. Begitupula, sikap tegas Presiden mengutuk kejahatan genosida di Myanmar seperti ketika mengutuk kejahatan Bom Perancis.

Jika pemerintah Myanmar tak menggubris, kata Heri, maka langkah terbaik adalah memulangkan Kedubes Myanmar kembali ke Negaranya.

“Kalau Presiden Jokowi tidak didengar, usir Kedubes Myanmar dari Indonesia,” cetusnya.

*Nailin In Saroh

Artikel ini ditulis oleh: