Briket kelapa (Foto: Istimewa)
Briket kelapa (Foto: Istimewa)

Jakarta, Aktual.com – Nilai tukar rupiah sepanjang 2018 telah terdepresiasi lebih dari 10% terhadap dolar AS. Hal ini tentu saja mengganggu APBN, perencanaan bisnis, bahkan eksekusi bisnis itu sendiri. Salah satu bisnis pendulang devisa yaitu Industri Briket Batok Kelapa yang digarap berbagai UMKM. Namun bisnis berbahan baku kelapa ini masih terperangkap dalam bisnis tradisional, kelapa cenderung untuk konsumsi langsung, setelah itu sampahnya dibuang begitu saja.

“Batok kelapa dijadikan briket yang nilai jualnya bisa mendatangkan dolar AS, di masyarakat internasional dikenal dengan briket arang batok kelapa (coconut charcoal). Coconut charcoal adalah batok kelapa yang dijadikan powder atau bubuk, kemudian diadoni dengan campuran tepung, setelah itu dicetak seperti kotak-kotak seukuran sekepal. Kemudian dikeringkan dalam oven sehingga siap pakai sebagai bahan bakar ramah lingkungan. Bahkan tak hanya mampu mendatangkan devisa, coconut charcoal juga bisa menyerap lapangan tenaga kerja yang cukup besar,” ujar Yogi Abimanyu, Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Arang Kelapa Indonesia (PERPAKI) dalam keterangan yang diterima Aktual di Jakarta, Minggu (23/9).

Menurutnya, prospek dan peluang bisnis briket arang batok kelapa yang sangat strategis. Namun selama ini kurang dilirik masyarakat, terutama belum mendapat sentuhan kebijakan pemerintah. Padahal potensinya begitu besar untuk mendatangkan devisa dan menyerap tenaga kerja.

“Ini potensi ekspor yang belum tersentuh regulasi,” terangnya.

Pada tahun 2016, Indonesia menghasilkan 14,5 miliar butir kelapa, sampai 2018 diperkirakan jumlah tersebut belum banyak berubah. Jumlah itu kalau dikonversi menjadi 457,41 ribu ton arang asalan (raw material charcoal). Dari jumlah tersebut, sebanyak 273,11 ribu ton (40,97%) arang asalan diekspor secara raw yang nilainya rendah (low value product). Sisanya 40,95 ribu ton arang diserap oleh konsumsi domestik seperti tukar sate dan warung Padang, sebanyak 135,55 ribu ton arang diserap industri karbon aktif dalam negeri, 217 ribu ton diserap oleh industri briket dalam negeri yang nilainya sangat tinggi (high value products).

“Sehingga terjadi defisit suplai sebesar 209,20 ribu ton bagi kebutuhan dalam negeri,” tambahnya.

Dia menggambarkan komposisi penggunaan butir kelapa di Indonesia secara bisnis belum maksimal. Masih terkonsentrasi untuk diekspor berupa raw material charcoal, atau ekspor masih dalam bentuk gelondongan. Padahal yang dibutuhkan adalah produk yang sudah mendapat sentuhan sehingga memberi nilai tambah (value added) bagi para pebisnis, seperti briket arang batok kelapa ataupun berupa karbon aktif. Total raw material charcoal yang diekspor pada 2016 mencapai 273,11 ribu ton, sementara yang diekspor berupa karbon aktif hanya 22,63 ribu ton.

Buat Indonesia, ungkap Abimanyu, jika bahan baru arang kelapa tidak diregulasi oleh pemerintah, maka berdasarkan data Asian Pacific and Coconut Community (APCC) atas trend ekspor arang kelapa selama 2011-2016 diproyeksikan pada 2032 seluruh industri arang dalam negeri terancam punah karena kehabisan bahan baku. “Karena itu perlu ada sentuhan regulasi pemerintah agar orientasi ekspor difokuskan pada nilai tambah, menyerap tenaga kerja sekaligus mengangkat martabat bangsa dimata internasional,” jelasnya.

(Eka)