Ribuan narapidana dan petugas lapas melaksanakan Shalat Idul Fitri di Rutan Kelas I Cipinang, Jakarta, Minggu (25/6/2017). Hari Raya Idul Fitri 1438 H disambut umat Muslim dengan melaksanakan Shalat Id di sejumlah masjid dan tempat terbuka. AKTUAL/Munzir

Jakarta, Aktual.com – Shalat Idul Fitri merupakan salah satu ibadah yang sangat disunnahkan (sunnah muakkadah) dilakukan secara berjamaah. Selain itu, ibadah ini juga menjadi salah satu syiar Islam yang patut dijaga dan dilestarikan.

Namun, dalam situasi wabah Covid-19 saat ini, pelaksanaan ibadah shalat Idul Fitri secara berjamaah menjadi terbatas dan tidak serta merta bisa dilakukan di masjid, mushalla ataupun tempat khusus lainnya oleh seluruh lapisan masyrakat muslim di Indonesia.

Pelaksanaan ibadah shalat Idul Fitri bagi masyarakat yang berada di wilayah positif Covid-19 (Zona Merah) atau berpotensi besar terkena sebaran Covid-19 maka hanya bisa dilakukan secara berjamaah di rumah masing-masing. Hal ini dalam rangka menghambat penyebaran virus tersebut.

Adapun untuk wilayah yang terkendali atau bebas dari Covid-19 baik di perkampungan/pedesaan, perumahan terbatas yang homogen, maupun tempat yang diyakini tidak terjadi penularan maka shalat bisa dilakukan di masjid, mushalla, maupun tempat pelaksanaan khusus lainnya.

Namun, dalam tehnis pelaksanaan harus tetap mengikuti protokol kesehatan dan menghidari terjadinya potensi penularan. Hal ini sebagaimana merujuk Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 28 Tahun 2020 tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi Covid-19.

Lalu, bagaimana kaifiyat atau tata cara shalat Idul Fitri? Berikut penjelasan singkatnya:

 

  1. Sebelum Pelaksanaan Shalat

Dalam lituratur Fikih Ibadah madzhab Syafi’i, sebelum melaksanakan shalat Idul Fitri disunnahkan melakukan amaliah sebagai berikut:

  1. Mandi, memotong kuku dan mencukur (merapikan) rambut
  2. Memakai pakaian terbaik, lebih utama berwarna putih
  3. Memakai wangi-wangian terbaik bagi laki-laki
  4. Makan terlebih dahulu, lebih utama dengan kurma
  5. Mengumandangkan takbir hingga menjelang shalat

Lafazh takbir:

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَلِلهِ الحَمْدُ

  1. Melintasi jalan yang berbeda antara pergi dan pulang

 

  1. Saat Pelaksanaan Shalat

Shalat Idul Fitri berjumlah dua rakaat dengan rincian sebagai berikut:

  1. Rakaat Pertama
  1. Niat saat Takbiratul Ihram

Lafal niat shalat Idul Fitri:

اُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ الفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا/مَأْمُوْمًا للهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatan li Idil Fitri rak‘atayni mustaqbilal qiblati imāman/ma’mūman lillāhi ta‘ālā.

Letak niat adalah di dalam hati. Maka saat takbiratul ihram, yaitu melafalkan اللهُ أَكْبَرُ  (Allāhu akbar), saat itulah hati kita berniat shalat sunnah Idul Fitri sebagai imam atau makmum lillahi ta’ala. Adapun pelafalan niat sendiri hukumnya sunnah.

 

  1. Membaca Doa Iftitah

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيْفاً مُسْلِماً، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ، إِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، لَا شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ، وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ.

Allāhu akbar kabīrā, walhamdu lillāhi katsīrā, wa subhānallāhi bukratan wa ashīlā, innī wajjahtu wajhiya lilladzī fatharas samāwāti wal ardha hanīfan musliman, wa mā ana minal musyrikīn, inna shalātī wa nusukī wa mahyāya wa mamātī lillāhi rabbil ālamīn, lā syarīka lahū wa bi dzālika umirtu, wa ana minal muslimīn.

  1. Membaca takbir (tambahan), اللهُ أَكْبَرُ (Allāhu akbar), sebanyak 7 (tujuh) kali. Saat jeda diantara takbir dianjurkan membaca:

سُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Subhânallâh, walhamdulillâh, walâ ilâha illallâh, wallâhu akbar.

  1. Membaca surah Al-Fatihah, setelah itu membaca surah yang pendek dari Al-Qur’an, jika hafal disunnahkan surah Al-A’la.
  2. Rukuk, i’tidal, sujud, duduk diantara dua sujud, dan seterusnya (dengan thuma’ninah) hingga berdiri lagi untuk rakaat kedua.

 

  1. Rakaat Kedua
  1. Sebelum membaca surah Al-Fatihah, disunnahkan membaca takbir (tambahan), اللهُ أَكْبَرُ (Allāhu akbar), sebanyak 5 (tujuh) kali selain daripada takbir qiyam (takbir saat berdiri selepas sujud menuju rakaat kedua). Saat jeda diantara takbir dianjurkan membaca dzikir sebagaimana di rakaat pertama.
  2. Membaca surah Al-Fatihah, setelah itu membaca surah yang pendek dari Al-Qur’an, jika hafal disunnahkan surah Al-Ghasyiyah.
  3. Rukuk, i’tidal, sujud, duduk diantara dua sujud, dan seterusnya (dengan thuma’ninah) hingga salam.

 

Selepas salam, khatib yang telah ditentukan berdiri untuk menyampaikan khutbah Idul Fitri secara singkat. Adapun jamaah tetap khusyu’ mendengarkan khutbah yang disampaikan khatib.

 

  1. Pelaksanaan Shalat Tanpa Khutbah

                Bagi yang melaksanakan shalat Idul Fitri berjamaah di rumah dan belum bisa melaksanakan khutbah, maka shalat Idul Fitri berjamaah tetap sah. Namun, alangkah afdhal jika khutbah Idul Fitri tetap diupayakan untuk dilaksanakan.

 

Wallahua’lam bis-shawab.

 

Rujukan:

  1. Fathul Mu’in bi-Syarhi Qurratul ‘Ain bi-Muhimmati ad-Din karya Imam Ahmad Zainuddin bin Abdul Aziz al-Ma’bari al-Malibari
  2. Kifayatul Akhyar fi Hilli Ghayati al-Ikhtishar (Syarah Matan Imam Abi Syuja’) karya Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Hishni al-Husaini ad-Dimsyiqi
  3. Al-Mu’tamad fi al-Fiqhi as-Syafi’I karya Prof. Dr. Muhammad az-Zuhaili
  4. Fatwa MUI No. 28 Tahun 2020

Al-Ustadz Ali Syahbana Lc. M.A.

(As'ad Syamsul Abidin)