Ilustrasi ledakan nuklir

Jakarta, Aktual.com – Dalam laporan Lembaga pemikir Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) disebutkan terjadi tren peningkatan persenjataan nuklir di dunia akibat konflik Rusia dan Ukraina ditambah lagi dukungan Barat atas kyiv memperkuat eskalasi tersebut.

“Ini adalah tren yang sangat mengkhawatirkan,” kata Direktur Program Senjata Pemusnah Massal SIPRI, Wilfred Wan, dalam buku tahunan 2022.

Menurutnya saat ini semua negara bersenjata nuklir meningkatkan persenjataan mereka dan sebagian besar mempertajam retorika nuklir serta peran senjata nuklir dalam strategi militer mereka.

Dia melanjutkan Persenjataan nuklir global diperkirakan akan tumbuh dalam beberapa tahun ke depan untuk pertama kalinya sejak Perang Dingin dengan tingkat risiko yang lebih besar.

Dalam laporan itu Rusia disebut memiliki persenjataan nuklir terbesar di dunia dengan 5.977 hulu ledak, lebih banyak sekitar 550 hulu ledak dari Amerika Serikat. Kedua negara tersebut mempunyai 90 persen lebih banyak hulu ledak dunia.

“Hubungan antara kekuatan besar dunia semakin memburuk pada saat umat manusia dan planet ini menghadapi serangkaian tantangan bersama yang mendalam dan mendesak, yang hanya dapat diatasi dengan kerja sama internasional,” kata ketua dewan SIPRI dan mantan Perdana Menteri Swedia Stefan Lofven.

Untuk diketahui, Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan penangkal nuklir mereka dalam posisi siaga penuh tiga hari setelah serangan Rusia ke Ukraina yang disebut Kremlin sebagai ‘operasi militer khusus’.

Pada kesempatan yang sama Putin memberikan peringatan keras soal konsekuensi “seperti yang belum pernah Anda lihat sepanjang sejarah Anda” bagi negara-negara yang menghalangi Rusia.

(Dede Eka Nurdiansyah)