Kendaraan mengantre menuju pertigaan pertemuan antara pintu tol Brebes Timur dan jalur Pantura, Brebes, Jawa Tengah, Selasa (5/7). Empat jalur dari jalan tol tersebut dibuka untuk kendararaan menuju arah Tegal. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/aww/16.

Jakarta, Aktual.com – Kemacetan parah di Brebes, Jawa Tengah, memakan 12 korban meninggal dunia. Ke-12 korban diduga kelelahan atau kambuh dari penyakit bawaan karena mengalami kemacetan selama kurang lebih 20 jam untuk perjalanan Jakarta – Brebes.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Sri Gunadi Parwoko kepada wartawan, Selasa (5/7) kemarin mengungkapkan, penanganan terhadap korban terkendala kemacetan sehingga tidak bisa dijangkau dengan ambulans.

Menanggapi hal tersebut, Sekjen ProDEM Satyo Purwanto alias Komeng menilai Direktur Jasa Marga, Menteri BUMN, Kapolri dan Menteri Perhubungan layak dimintai pertanggungjawaban.

“Jalan tol baru itu sebenarnya belum siap menampung volume kendaraan tinggi dalam waktu relatif pendek,” tegasnya kepada Aktual.com, Rabu (6/7).

Dengan adanya kemacetan di Tol Brebes, semestinya pihak-pihak terkait melakukan antisipasi dini. Yakni dengan melakukan rekayasa lalu lintas dalam menghadapi arus mudik 2016 di jalan raya. Dengan begitu, dapat meminimalisir terjadinya kemacetan parah berikut jatuhnya korban.

“Tidak ada antisipasi rekayasa lalulintas menghadapi arus mudik di jalan tersebut, rakyat selalu menjadi korban dari ketidakbecusan aparat negara,” jelas Satyo.

“Penyelenggara jalan tol mestinya tidak hanya mengeruk keuntungan, para pengawal ekonomi liberal ini memang sangat tega,” sambungnya.

Kejadian macet parah hingga memakan jatuhnya korban seharusnya tidak perlu terjadi apabila pihak terkait tanggap dilapangan. Bukan sebaliknya, menjadikan jalan tol sebagai bentuk kesombongan dan kerakusan semata oleh para penganut ekonomi liberal.

“Jalan tol adalah bentuk kesombongan dan kerakusan penganut ekonomi liberal,” demikian Satyo.

 

Laporan: Sumitro

()