Petugas menata uang rupiah di Cash Center Bank BNI 46, Jakarta Selatan. Nilai tukar rupiah melemah 22 poin atau 0,16% ke Rp13.390 per dolar AS seiring pergerakan IHSG pada pembukaan perdagangan hari ini, Selasa (4/7/2017). Nilai tukar rupiah melemah 22 poin atau 0,16% ke Rp13.390 per dolar AS seiring pergerakan IHSG pada pembukaan perdagangan hari ini. AKTUAL/Munzir

Jakarta, Aktual.com – Direktur Eksekutif INDEF, Enny Sri Hartati menyebut utang yang banyak untuk membangun proyek infrastruktur telah menjadi ancaman bagi perekonomian Indonesia.

Apalagi kemudian utang-utang tersebut dikantongi oleh investor asing individu bukan utang dari negara bilateral atau multilateral. Kondisi justru lebih membahayakan bagi perekonomian Indonesia ke depannya.

“Hal itu menjadi persoalan besar bagi pemerintah. Bukan dipegang oleh bilateral atau multilatetal. Tetapi lebih banyak dari SBN (Surat Berharga Negara), sehingga akan lebih banyak tergantung pada psikologis pasar. Itu jauh lebih bahaya,” kata Enny saat dihubungi, di Jakarta, Sabtu (30/12).

Menurutnya, kalau utang dari bilateral maupun multilateral, itu dilakukan negosiasi ulang terhadap utang-utang itu, baik itu melalui debt swap rescheduling atau lain-lainnya.

“Artinya kita bisa melakukan dalam skema antisipasi dari segi risiko utang itu. Tapi selama ini kan ketika pemerintah mengeluarkan bond 40 persen yang beli juga asing. Ini yang tak mudah dikontrol karena dipegang asing. Jadi risiko fiskal ini akhirnya tidak termitigasi secara penuh oleh pemerintah,” papar dia.

Di saat bersamaan, kata dia, jika dilihat dari defisit keseimbangan primer itu ternyata beban bunga dan cicilan ini sudah cukup besar. Sehingga karena penerimaan pajak juga terus menurun maka konsekusninya untuk memenuhi bunga dan cicilan, maka sebagiannya itu harus mengambil dari utang yang baru lagi.

“Masalahnya lagi debt to service ratio (DSR) juga rendah. Yaitu rasio utang terhadap pendapata , sehingga hal ini membuat utang yang ada semakin membahayakan,” cetus dia.

(Reporter: Busthomi)

()

(Eka)