Danau Hantu atau Danau Begu (dalam bahasa Batak), yang terdapat di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Foto: Damai Oktafianus Mendrofa

Tapteng, Aktual.com – Danau Hantu atau Danau Begu dalam penamaan bahasa Batak, terletak di Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Tak seperti Danau-danau lain, Danau ini belum berpredikat sebagai objek wisata di daerah itu. Bagaimana tidak, Danau kecil yang berjumlah dua ini, awalnya berada di tengah kawasan hutan Tapian Nauli yang lebat dan puluhan tahun tak dijamah oleh manusia.

Hingga, penebangan pohon dan pembukaan lahan-lahan perkebunan mulai merambah kawasan itu. Danau Begu, yang dahulu ditempuh dengan menerobos hutan belantara, kini dengan mudah dijangkau dan ditemukan dengan berkendara dan berjalan kaki sejarak 500 meter saja.

Untuk tiba di Danau Begu, jika perjalanan dimulai dari Bandara Ferdinan Lumban Tobing Pinangsori, arahkan kendaraan menuju Pandan, yang merupakan ibukota Tapanuli Tengah. Dari Pandan, perjalanan kembali ditempuh menuju Kota Sibolga, dan berlanjut kearah Kecamatan Tapian Nauli. Dari Bandara hingga ke kecamatan Tapian Nauli, perjalanan ditempuh sekitar 2,5 jam.

Tiba di Desa Poriaha, kecamatan Tapian Nauli, arahkan kendaraan menuju pertigaan Mungkur, 10 meter dari sebuah jembatan kecil, arahkan kedaraan ke simpang sebelah kiri menuju PLTU Labuhan Angin. Dari pertigaan itu, pacu kendaraan dengan kecepatan sedang. Sebanyak empat jembatan akan dilalui. Sejarak 15 meter dari jembatan terakhir, arahkan kendaraan masuk ke sebuah simpang di sebelah kanan jalan. Pacu kendaraan lebih perlahan, pasalnya, jalanan yang dilalui adalah jalanan tanah dan berdebu.

Perjalanan di jalur tanah bergelombang ini, akan ditempuh selama 10 menit saja, hingga tiba di sebuah persimpangan kecil sebelah kanan. Jika membawa kendaraan roda 4, parkirlah kendaraan anda, namun jika membawa kendaraan roda 2, perjalanan sejauh sekitar 100 meter berikutnya masih dapat dilanjutkan hingga lokasi parkir kendaraan roda 2 yang tergolong sempit dan panas.

Perjalanan kembali ditempuh dengan berjalan kaki di jalur setapak bercampur tanah dan pasir. Disarankan untuk mengenakan sepatu yang cocok berjalan di kawasan hutan.

Berjalan kaki sejauh 500 meter, cuaca panas dan terik akan begitu menyengat, pasalnya pepohononan dan hutan yang dahulunya rimbun telah ditebang dan akan dijadikan sebagai kawasan perkebunan.

Tiba di tepian Danau Begu yang masing-masing Danau memiliki luas sekitar setengah hektar ini, suasana sejuk mungkin tidak akan menyapa, namun, cerita dibalik eksistensi Danau ini menjadi daya tarik tersendiri, yakni cerita rakyat yang boleh dianggap unik dan bertahan hingga hari ini. Yaitu, ihwal ditemukannya Danau ber air rawa berwarna kemerahan ini.

Penuturan warga sekitar, nama Danau Hantu sesuai dengan cerita-cerita rakyat yang mengikuti keberadaan Danau itu. Dimana proses penemuan Danau ini berawal ketika seorang penduduk sekitar tersesat di dalam hutan lebat dan rimbun yang kala itu mengelilingi dan menutupi danau.

Danau Hantu atau Danau Begu (dalam bahasa Batak), yang terdapat di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Foto: Damai Oktafianus Mendrofa
Danau Hantu atau Danau Begu (dalam bahasa Batak), yang terdapat di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Foto: Damai Oktafianus Mendrofa

“Cerita-ceritanya, ada yang tersesat di dalam hutan, dan tak sengaja ketemu dengan Danau,” ujar Sulaiman, warga Desa Makarti Nauli, Sabtu (13/2).

Menurutnya Sulaiman, ketersesatan dan kemudian menemukan Danau itu tidak sekali saja dialami. Sejumlah penduduk sekitar lainnya, beberapa kali dengan sengaja mencari keberadaan Danau, namun tak menemukannya. Danau itu hanya dapat ditemukan oleh siapa saja yang tersesat di dalam hutan.

“Hanya kalau tersesat baru ketemu. Yang sengaja mencari, pasti tak ketemu, tapi kalau ada yang tak sengaja tersesat baru bisa melihat Danau itu. makanya, Danau itu namanya seram, Begu (Hantu). Saking seramnya lah cerita-ceritanya dulu,” katanya.

Danau Begu, secara potensial kepariwisataan boleh dikatakan masih membutuhkan penataan yang ekstra, baik lokasi Danau maupun infrastruktur. Saat ini, Danau tersebut hanya kerap dijadikan sebagai lokasi pemancingan berbagai ikan air tawar oleh penduduk sekitar.

“Ada ikan Gabus, lele, mujair, yang pasti ikan tawar bang,” ujar Sulaiman.

Menurut Sulaiman, warga sekitar sebenarnya berharap Danau tersebut dapat dilestarikan dan dijaga. Apalagi jika disentuh oleh pembenahan dan pengembangan objek wisata.

“Kalau dibenahi dan diperbaiki, kan untuk tambah-tambahan penghasilan masyarakat juga, apalagi yang saya dengar, belum ada Danau di Tapteng, yah, walaupun Danau ini tergolong kecil,” harapnya.

()