Laz Ar-Raudhah

Assalamu’alaikum wr wb.

Ustadz, bagaimana adab kita kepada orang tua ketika beliau sedang marah? Lalu bagaimana sikap yang harus dilakukan, ketika kita (sebagai anak) mengalami perbedaan pandangan dengan orang tua kita?

Farhan, Pamulang

Waalaikumussalam wr wb.

Saudara Farhan yang dirahmati Allah swt.

Syariat Islam secara konkrit telah mewajibkan anak agar berbuat baik -bahkan lebih daripada sekedar memberi materi- kepada orang tua. Kebaikan ini disebut dalam dua kata, yaitu Al-Birru dan Ihsan.

Secara sederhana, “Al-birru” berarti puncak kebajikan atau kebaikan maksimal yang bisa dilakukan seseorang, hingga tidak tersisa lagi kemampuan pada dirinya untuk melakukan kebaikan yang lebih dari itu. Sebagaimana pesan dalam hadis berikut:

أيُّ العَمَلِ أحَبُّ إلى اللَّهِ؟ قالَ: الصَّلاةُ علَى وقْتِها، قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: ثُمَّ برُّ الوالِدَيْنِ قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: الجِهادُ في سَبيلِ اللَّهِ قالَ: حدَّثَني بهِنَّ، ولَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزادَنِي

“Amal apa yang paling dicintai Allah ‘Azza Wa Jalla?”. Nabi bersabda: “Shalat pada waktunya”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”. Nabi menjawab: “Lalu birrul walidain”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”. Nabi menjawab: “Jihad fi sabilillah”. Demikian yang beliau katakan, andai aku bertanya lagi, nampaknya beliau akan menambahkan lagi (HR. Bukhari dan Muslim).

Sedangkan ihsan (husna) secara sederhana berarti kebaikan kepada seseorang walaupun orang yang diberi kebaikan melakukan keburukan kepada yang memberi kebaikan (muhsin). Dua kata inilah yang disandarkan atas kewajiban anak kepada orang tuanya. Bahkan sikap ini menempati urutan kedua setelah taat kepada Allah.

۞وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡـٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا

(Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua…) QS. An-Nisa’ : 36

Dari dua kewajiban anak di atas, maka kemarahan orang tua kepada anaknya adalah bagian dari ujian Allah SWT bagi anak lewat sikap orang tuanya. Apakah anak tersebut (kita) mampu menerapkan “al-birru” dan “ihsan” tersebut dalam keadaan demikian. Bukankah keadaan keluarga yang stabil, baik ekonomi, sosialnya dan emosionalnya belum memperlihatkan sifat asli anak dalam berbakti kepada orang tuanya?

Dalam ayat lain, Allah SWT mewajibkan agar selama orang tua kita ada di dunia, hendaknya kita memperlakukan mereka dengan baik (ma’rufa). Terlepas dari bagaimanapun keadaan orang tua kita, mungkin (beliau) emosional atau egois, bahkan kurang ilmu, jauh dari bijaksana –asal tidak memerintahkan pada kekufuran– anak tetap berkewajiban meresponnya dengan sebaik mungkin.

Mungkin saat dimarahi orang tua, kita merasa kesal. Boleh jadi pula orang tua memang salah dalam berpendapat, dan anak dalam posisibenar. Namun saat itu terjadi, mengalahlah. Di belakang mereka ada Allah SWT, karena itu mengadulah kepada Allah SWT. Tugas anak bukan untuk membuktikan benar dan salah –selama bukan kekufuran-. Tugas anak adalah berbakti.

Sesungguhnya saat menghadapi emosi orang tua dan kita masih terus merasa benar, disitulah sebenarnya bakti kita sedang diuji.

Demikian.

Mukhrij Sidqy
Dewas Pengawas Syariah Laz Ar-Raudhah.

(A. Hilmi)