Dalam kitab Fathul Bari disebutkan beberapa catatan dari hadits tersebut:

a. Selesainya fenomena gerhana yang ditandai dengan kembalinya bentuk matahari/bulan yang sempurna tidak menggugurkan kesunnahan melaksanakan khutbah. Hal ini berbeda dengan pelaksanaan sholatnya, selesainya gerhana menggugurkan kesunnahan melaksanakan sholat gerhana.

b. Relevansi. Tatkala beliau menyerukan kepada kaum muslimin untuk menolak bala’ dengan dzikir, doa, sholat dan sedekah maka selanjutnya beliau menyeru umatnya untuk menjauhi maksiat yang mana maksiat itu adalah penyebab datangnya bala’.

c. Masalah zina disebutkan secara khusus dalam khutbah beliau karena zina termasuk bagian maksiat terbesar.

d. Sabda “Wahai Ummat Muhammad” adalah bentuk kasih sayang beliau dalam menasehati ummatnya layaknya seorang bapak yang penuh kasih sayang menasehati anaknya dengan berkata “wahai anakku” kendati disini Rasul saw tidak mengatakan “wahai ummatku”.

Hal ini dikarenakan perkataan “wahai ummatku” mengandung unsur memuliakan sedangkan khutbah yang beliau sampaikan adalah peringatan untuk menjauhi maksiat dan Rasullulah SAW tidak akan memuliakan seseorangpun dalam urusan maksiat.

Sebut contoh sabda beliau “Wahai Fatimah putri Muhammad, mintalah kepadaku harta yang engkau inginkan namun aku tidak mampu menolongmu sedikitpun dari (murka) Allah (jika kau bermaksiat kepadaNya).

(Andy Abdul Hamid)