Menurut keterangan kitab Fathul Muin dan I’anatut Thalibin, Sholat gerhana bisa dilakukan dengan tiga cara :

1. Cara Minimalis (Aqall) : Dilakukan sebanyak dua rekaat seperti sholat sunnah.
2. Cara Sempurna (Adnal Kamal) : Dilakukan dengan menambah berdiri, bacaan fatihah (dan setelah fatihah boleh membaca surat pendek atau tidak membacanya) dan ruku’ dalam setiap rekaatnya.
3. Cara Paling Sempurna (Akmal) :
seperti cara kedua, namun ditambah hal-hal berikut : saat berdiri ke-1 setelah fatihah membaca QS Al-baqarah atau semisalnya ,
saat ruku’ membaca tasbih sekira 100 ayat al-Baqarah.

Saat berdiri ke-2 setelah alfatihah membaca QS Al-baqarah (280 Ayat) atau semisalnya saat ruku’ membaca tasbih sekira 80 ayat al-Baqarah. Saat sujud ke 1 membaca tasbih sekira 100 ayat al-Baqarah, dan saat sujud ke 2 membaca tasbih sekira 80 ayat al-Baqarah.

Ketika berdiri ke-3 setelah fatihah membaca sekira 200 Ayat
saat ruku’ membaca tasbih sekira 70 ayat al-Baqarah. Setelah itu saat berdiri ke-4 setelah fatihah membaca sekira 150 Ayat.

“Saat ruku’ membaca tasbih sekira 50 ayat al-Baqarah, saat sujud ke 3 membaca tasbih sekira 70 ayat al-Baqarah, saat sujud ke 4 membaca tasbih sekira 50 ayat al-Baqarah,” terang DR Fathul.

Sekedar informasi, shalat gerhana ini dilakukan tanpa adzan dan iqamah sebelumnya. Sebagaimana Rasullulah SAW sebelum memulai sholat gerhana beliau menyuruh seseorang untuk mengumandangkan “As-Sholatu Jami’ah” lalu baginda Rasul memulai sholat.

Setelah selesai shalat barulah dilaksanakan dua khutbah sebagaimana keterangan kitab Fathul Mu’in. Dijelaskan dalam kitab I’anah [I/501] bahwa khutbah ini sama persis rukunnya seperti khutbah Jumat.

(Andy Abdul Hamid)