Lebih jauh daripada itu, beredar rumor di media sosial menyebut bahwa bongkar-pasang di Pertamina saat ini tidak terlepas daari intrik Ari Soemarno. Sebagai mantan Dirut Pertamina (2006-2009) ia diyakini mempunyai pengaruh kuat hingga membentuk polarisasi di tubuh Pertamina.

Kakak kandung Menteri BUMN itu dikatakan mempunyai andil pada pemenangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam Pilpres 2004. Kala itu Ari menjabat sebagai Direktur di Pertamina. Untuk mendapat dukungan Amerika Serikat ke SBY, ia disebut berperan mengatur pelepasan Blok Cepu ke Exxon apabila SBY menang. Benar saja, SBY memenangkan Pilpres dan kala itu Ari diangkat menjadi Dirut Pertamina.

Karenanya, pada kasus pencopotan Dwi Soetjipto (DS), Ari dikatakan berada dibalik sekenario tersebut. Pada awal menjabat, DS memberi ruang bagi Ari untuk ‘bermain’. Sikap itu dilakukan DS sebagai strategi mengamankan posisi. Ari yang mempunyai pengaruh kuat pada Integrated Supply Chain (ISC) bermain pada impor minyak. Namun belakangan DS mulai membangun bisnis pertamina ke arah yang lebih sehat, transparan dan akuntabel serta mulai mempersempit gerak Ari Soemarno.

Puncaknya DS menolak ajuan impor 2 juta barel minyak jenis Mesla-Sarir dan mencoret Glenncore sebagai pemasok ke Pertamina. Dikatakan hal ini membuat Ari Soemarno marah besar, dan meminta Rini Soemarno untuk mencopot DS apapun yang terjadi. Implementasinya, melalui adiknya selaku Menteri BUMN yakni Rini Soemarno, diangkat Ahmad Bambang sebagai Wadirut Pertamina dengan tujuan mengamankan proyek Ari dan sekaligus menjadi biang konflik dengan DS dalam kasus Matahari Kembar.

Tak berbeda dengan DS, Elia Massa Manik juga tidak memberikan ruang bagi Ari Soemarno. Massa membuat road map strategy kedaulatan energy, namun dibalik semua itu, tersimpan langkah penting yaitu meniadakan peran calo-calo minyak impor yang berkumpul di ISC.

Karenanya, walaupun tidak mempunyai alasan yang jelas, Elia Masa Manik dipecat oleh Rini. Adapun beberapa kasus yang menjadi asumsi penyebab pencopotan yakni tumpahan minyak Balikpapan dan kelangkaan Premium, dirasa tidak pantas untuk dijadikan dasar pencopotan, pasalnya tumpahan minyak di Balikpapan merupakan kejadian Force Majeur, begitu pun dengan kasus kelangkaan Premium juga karena tidak ada anggaran subsidi dari pemerintah.

Selanjutnya dari beberapa nama yang telah menjadi pembicaraan untuk menempati kursi Pertamina setelah ditinggal Massa Manik, terdapat nama Sofyan Basir. Akan tetapi, kendati seumpama nantinya Sofyan Basir yang terpilih, diyakini kontrol akan tetap berada di tangan Ahmad Bambang (saat ini menjabat Staf Khusus Menteri BUMN) sebagai kepanjangan tangan Ari dan Rini.

Pada akhinya binsis impor minyak tersebut bertujuan mengumpulkan pundi-pundi untuk menyokong berbagai pihak di Pilpres dan imbalnya tentu untuk mengamankan posisi jabatan dalam pemerintahan terpilih. Demikian dinamakan politik kekuasaan dan energi.

Namun Ari Soemarno membantah keras saat Aktual.com meminta klarifikasi atas artikel yang dimuat di Kompasiana tersebut. Dia merasa menjadi korban fitnah oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.

“Ngapain kasih klarifikasi. Jelas itu bukan news dan ditulis di Kompasiana yang merupakan tulisan orang gak jelas yaitu ghostwriter. Namanya aja ghostwriter atau penulis setan, jadi ngapain ditanggapin, nanti kita sama sama jadi setan. Selama ini sudah sering saya dan keluarga saya diserang/difitnah seperti itu, tapi ini yang paling brutal, bohong dan kalap,” sesalnya.

Sebagai catatan, terkai hal ini Aktual.com belum mendapat konfirmasi dari Menteri BUMN, Rini Soemarno.

Penolakan Terhadap Sofyan Basir dan Keresahan FSPPB

Halaman Selanjutnya…

(Dadangsah Dapunta)