Massa yang tergabung dalam Komite 1 Mei Untuk Kemerdekaan, Kesejahteraan, dan Kesetaraan (KOMITMEN) menggelar aksi unjuk rasa Peringatan 20 Tahun Reformasi di depan Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (20/5). Mereka menyerukan berbagai tuntutan diantaranya mewujudkan demokrasi yang lebih jujur dan adil. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Putu Supadma Rudana menilai ketokohan nasional mengiringi keberhasilan reformasi yang sudah berjalan 20 tahun, salah satunya di era kepemimpinan Presiden Keenam Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.

“Dari 1998 hingga 2018 semua itu merupakan paket kesatuan, dimana era kegemilangannya diraih saat zaman pemerintahan SBY selama 10 tahun,” kata Putu dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (20/5).

Hal itu dikatakannya saat menjadi salah satu narasumber dalam diskus survei Indo Barometer tentang 20 tahun reformasi di Jakarta, Minggu.

Putu berpendapat bahwa survei tersebut tidak dapat dipisahkan secara ketokohan di dalam reformasi tersebut karena merupakan satu kesatuan utuh.

Menurut dia pascareformasi, di pemerintahan SBY pertama kalinya presiden terpilih dalam proses demokrasi dan itu menunjukan suatu konsep yang baik sejak 2004.

“Selama 10 tahun pemerintahan SBY, pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata 6 persen. Lapangan kerja meningkat, pengangguran menurun, pendapatan per-kapita masyarakat meningkat tajam selama 10 tahun,” ujarnya.

Selain itu, menurut Putu, dalam 10 tahun kepemimpinan SBY, pemberantasan korupsi dan penegakan hukum tidak tebang pilih.

Keadilan ditegakkan kepada segenap anak bangsa dengan memberikan program Bantuan Langsung Tunai (BLT), Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), Kredit Usaha Rakyat (KUR), Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dan Beras untuk Rakyat Miskin (raskin).

Sebelumnya, Indo Barometer merilis survei nasional bertajuk “Evaluasi 20 Tahun Reformasi”. Salah satu aspek yang digunakan dalam survei Indo Barometer adalah tingkat kepuasan publik atas kinerja Presiden Indonesia.

Presiden Kedua RI Soeharto menempati posisi pertama sebagai presiden yang paling berhasil di Indonesia. Hasil survei memperlihatkan Soeharto dipilih oleh 32,9 persen responden.

Adapun posisi kedua ditempati oleh sosok proklamator, Presiden Soekarno 21,3 persen, lalu ketiga, keempat dan kelima ditempati oleh Joko Widodo (17,8 persen), Susilo Bambang Yudhoyono (11,6 persen) dan BJ Habibie (3,5 persen).

Sementara di posisi keenam, yakni Abdurrahman Wahid (1,7 persen) dan posisi terakhir ditempati oleh Megawati Soekarnoputri (0,6 persen).

Survei ini dilaksanakan pada 15-22 April 2018 di 34 Provinsi Indonesia dengan melibatkan 1.200 responden, dengan margin of error sebesar plus minus 2,83 persen, pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Responden survei adalah warga negara Indonesia yang sudah mempunyai hak pilih berdasarkan peraturan yang berlaku, yaitu warga yang minimal berusia 17 tahun atau lebih atau sudah menikah pada saat survei dilakukan.

Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner dengan sistem “multistage random sampling”.