Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi, Ruhana bahkan turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda.

Kiprahnya di dunia jurnalistik dimulai dari surat kabar Poetri Hindia pada 1908 di Batavia yang dianggap sebagai koran perempuan pertama di Indonesia.

Ruhana pun mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan.

Ruhana Kuddus pernah dua kali diusulkan Pemprov Sumbar sebagai pahlawan nasional dari provinsi itu dan terakhir diusulkan pada 2018, meski sudah memenuhi syarat namun belum beruntung ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Tokoh lainnya adalah Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa Yi Koo) yang lahir di Buton Sulawesi Tenggara awal abad ke-18 Masehi.

Sultan Himayatuddin berjuang melawan Belanda untuk menegakkan kedaulatan dan terutama membebaskan bangsanya dari belenggu penguasaan Belanda.

Perjanjian-perjanjian dari raja-raja terdahulu telah membuat rakyat Buton sengsara dan kerajaannya hanya memilki kedaulatan semu.

Sultan Himayatuddin berjuang melawan penguasaan Belanda dengan memimpin perlawanan gerilya di Gunung Siontapina. Ia wafat dan dimakamkan di Gunung Siontapina pada 1776.

(Zaenal Arifin)