Masih ingat betul dalam ingatan, baik itu dari rekam jejak digital maupun cetak, Presiden Joko Widodo seolah "lepas tangan" dalam penanganan kekerasan yang dialami oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Atas kekerasan yang dialami itu, mata kiri Novel cacat akibat disiram air keras oleh pelaku, yang sampai saat ini juga belum dijerat.
Dia pun mengaku telah membaca begitu banyak kelemahan dari opsi yang ditonjolkan oleh KPU itu. Seharusnya, kata dia, KPU melakukan inovasi-inovasi selaku penyelenggara pemilihan umum. "Jadi pertama-tama, saya kritik inovasinya kurang. Yang kedua, kardus ini sebetulnya kalau KPU mengatakan pernah dibuat dan dilakukan ya, KPU harus bisa menjelaskan bahwa memang betul selama ini pakai kardus, lalu memang itu aman," tutur Fahri.
"Akibat dari impor ini usaha usaha membuat rokok oleh rakyat sendiri kehilangan akses bahan baku, mereka tidak memiliki rantai impor sebagai mana yang dimiliki perusahaan perusahaan multinasional. Akibatnya usaha membuat rokok oleh rakyat sendiri secara alamiah mati dan tidak dapat dihidupkan kembali," terangnya.
Terinspirasi dengan gerakan aksi 212 yang terjadi di Indonesia, masyarakat Muslim yang dimotori oleh kaum Melayu di Malaysia juga melakukan hal yang sama. Sabtu (8/12/2018) adalah menjadi momen bersejarah, sekitar 500.000 muslim Malaysia turun ke jalan berkumpul di Merdeka Square, Kuala Lumpur mendesak pemerintah berkuasa yakni koalisi Pakatan Harapan membatalkan rencana untuk meratifikasi ICERD. Aksi ini pun kemudian dikenal dengan sebutan Himpunan 812.
Rencana pemerintah akan melakukan Perubahan Keenam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23/2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara menuai penolakan dari segenap pemerhati tambang.
Mengingat bahwa Aksi Bela Islam 212 pada 2016 pada kenyataanya juga berhasil menumbangkan bekas Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dengan jalan serupa, yakni mem-framing dirinya sebagai penista agama. Terlepas dari hal tersebut, pada kondisi yang ideal, siapa pun termasuk kubu petahana akan melakukan apa pun demi menjaga kekuasaannya menjelang Pilpres 2019, salah satunya dengan cara
memanfaatkan kekuatan politiknya, baik dari media yang dikuasainya dan tersebut adalah hal yang lazim dalam realisme politik.


























