Jakarta, Aktual.com – Dalam kehidupan kita sehari-hari terkadang perilaku kita bermasyarakat kerap terbawa suatu kesalahan bahkan berbuat kesalahan. Tak hanya itu bahwa kehidupan kita juga kerap dipertontonkan orang melakukan kesalahan tepat di depan kita. Tak jarang pula, mereka yang melakukan kesalahan adalah orang terdekat kita. Terkadang, saat mereka melakukan kesalahan akan timbul rasa benci dari dalam diri kita. Terutama, jika yang kesalahan yang mereka lakukan berhubungan dengan diri kita.

Jadi, memanglah begitu keadaan kita sebagai manusia. Namun, sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang mau mengakui kesalahannya kemudian bertaubat darinya.

Bahkan setiap manusia juga memiliki sifat benci lantaran karena ketidak cocokan atau ketidak sesuai harapan seseorang yang terkadang menjadi kekecewaan. Untuk diketahui bahwa sikap benci adalah manusiawi yaitu membenci keburukan seseorang itu suatu hal yang wajar, namun kalau berlebihan tentu menjadi tidak baik, apalagi disertai emosi yang akan menguasai logika, sehingga engkau pun akan bertindak melampau hingga menyakiti.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mencela kumpulan lainnya, boleh jadi yang dicela itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim “ (QS. Al Hujuraat/ 49 : Ayat 11)

Bahkan pada akhirnya hanya akan membuat kita jahat dan selalu berfikir negatif terhadap apa yang orang lain lakukan. Hingga hal tersebut membuat kita terus memikirkannya dan tidak fokus terhadap hidup yang kita jalani.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff/ 61: Ayat 2-3).

Salah satu penyebab hati yang sakit adalah hati yang senantiasa menyimpan benci terhadap sesama. Kalau pun seseorang menyakitimu, maka janganlah benci orangnya, karena yang membuat ia menyakiti adalah sikapnya dan sikap bisa dirubah. Kalau pun engkau marah, maka marah dan bencilah karena sifatnya lalu berusahalah tuk merubahnya.

Benci bisa jadi merupakan sikap positif, saat seseorang membenci sikap atau perbuatan orang lain yang kurang terpuji atau tercela. Bencilah perbuatannya, jangan orangnya, karena hakekat manusia adalah baik dan semua orang pasti pernah berbuat salah, karena akan berakibat kurang harmonisnya hubungan kemasyarakatan.

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah/1: Ayat 44)

Kata orang bijak, Jika menginginkan hati bergembira selalu, hendaknya jangan jadikan hal-hal yang timbul dalam hubungan antar sesama sebagai permasalahan. Dengan Cinta kasih pada sesama akan menghilangkan rasa kebencian diantara manusia.

*Sepenggal cerita para sahabat Rasulullah.

Sebaiknya kita perlu mempelajari perilaku serta adab tiga sahabat Rasulullah yakni Abu Darda, Ibnu Masud, dan Abu Dujanah al-Anshari radhiyallahu anhum.

Dimana pada suatu hari, saat itu  Abu Darda berjalan bersama para sahabatnya. Di tengah jalan, ia melihat seorang pendosa. Para sahabatnya yang lain mencaci orang itu.

Lalu Abu Darda berkata, ‘Bagaimana menurut kalian jika kalian menemukan dosa itu pada hati kalian, apakah kalian akan mengeluarkannya?’Mereka menjawab, ‘Tentu saja’

Abu Darda berkata, ‘Makanya, janganlah kalian mencaci saudara kalian. Sebaiknya pujilah Allah karena Dia-lah yang telah menyelamatkan kalian dari dosa’. Mereka bertanya, ‘Apakah engkau tidak membenci orang itu?’

Abu Darda menjawab, ‘Innama ubghidhu amalahu, fa idza tarokahu fa huwa akhi -sesungguhnya yang aku benci adalah perbuatannya. Jika ia sudah meninggalkan perbuatannya, maka ia tetap saudaraku’.

Lain lagi dengan Ibnu Masud. Ia pernah berkata, ‘Jika kalian melihat seseorang melakukan perbuatan dosa, maka janganlah kalian ikut-ikutan menjadi backing syetan terhadap orang itu, dengan mengatakan, ‘Ya Allah, balaslah perbuatannya. Ya Allah, laknatlah ia. Namun, mohonlah kepada Allah agar kalian mendapatkan afiat (keselamatan dari dosa). Sesungguhnya kita ini, para sahabat Nabi, tidak akan mengatakan sesuatu terhadap seseorang sampai kita tahu tanda kematiannya. Jika akhir hidup orang itu ditutup dengan kebaikan, maka tahulah kita bahwa ia sudah mendapat kebaikan. Jika hidup orang itu berakhir dengan keburukan, maka kita menjadi takut mendapat yang seperti itu’.

Begitulah sikap mulia Abu Darda dan Ibnu Masud dalam menyikapi pelaku dosa. Padahal kalau dilihat dari persfektif kesucian pribadi mereka, tentu saja keduanya lebih pantas untuk mencaci para pelaku dosa. Sebagaimana kita ketahui, Abu Darda adalah sahabat Rasulullah yang terkenal dengan figur yang rajin ibadah. Begitu pula dengan Ibnu Masud, yang punya suara indah, yang membuat Rasulullah menangis ketika mendengar Ibnu Masud membaca al-Quran di hadapannya. Bukan hanya itu, meskipun Ibnu Masud punya betis yang kecil, namun jika nanti ditimbang pada hari Kiamat, maka berat betisnya yang kecil itu akan melebihi beratnya Bukit Uhud. Ini menjadi tanda bahwa pemilik betis itu adalah orang mulia.

Lain lagi dengan orang yang bernama Abu Dujanah. Suatu hari ia sakit. Para sahabat yang lain datang menjenguknya.

Yang mengherankan, meskipun wajahnya pucat akibat sakit yang dideritanya, wajah Abu Dujanah tetap memancarkan cahaya.

Para sahabat bertanya, ‘Ma li wajhika yatahallalu? – Apa yang membuat wajahmu senantiasa bercahaya?’

Abu Dujanah menjawab, ‘Ada dua amal yang selalu aku pegang teguh dalam hidup ini. Pertama, aku tidak pernah berbicara dengan sesuatu yang kurang bermanfaat. Kedua, hatiku  selalu menilai sesama Muslim dengan hati yang tulus’.

Abu Darda, Ibnu Masud, dan Abu Dujanah menjalani hidup sesuai hati mereka, bukan sesuka hati mereka. Tentu saja, ada beda antara hidup SESUAI hati dengan hidup SESUKA hati.

Setiap hati akan bercerai-berai, kecuali hati yang saling mencinta atas dasar kecintaan kepada Allah, dan surga adalah tempat yang paling pantas untuk bersatunya hati seperti ini.

(Andy Abdul Hamid)