Petugas mengevakuasi korban ledakan di Terminal Kampung Melayu, Jakarta, Kamis (25/5/2017). Akibat dari ledakan bom di Kampung Melayu sebanyak 5 orang tewas. Dua orang yang tewas diduga pelaku, 3 orang lainnya adalah personel Polri. AKTUAL/Munzir

Jakarta, Aktual.com- Indonesia Police Wath (IPW) mempertanyakan kredibilitas dan profesionalitas institusi kepolisian atas serangan teroris di Polda Sumatera Utara (Sumut), insiden ini menandakan kendornya kesiagaan kepolisian hingga dengan persenjataan seadanya teroris mampu menyerang kepolisian yang nota bene memiliki instrumen dan persenjataan yang lengkap.

“Pasca serangan bom di Kampung Melayu Jakarta Timur, para teroris ternyata makin super nekat. Keberhasilnya membunuh tiga polisi dan melukai dua polisi lainnya di Kampung Melayu sepertinya menjadi inspirasi bagi para teroris untuk meningkatkan serang ke jajaran Polri. Terbukti, di Hari Raya Idul Fitri, di saat masyarakat bergembira dalam silaturahmi, para teroris melakukan serangan ke Polda Sumut. Hanya dengan senjata seadanya, yakni sebilah pisau. Ironisnya, mereka berhasil membunuh seorang perwira polisi,” kata Ketua Presedium IPW, Neta S Pane yang diterima Aktual.com, Senin (26/6).

Sebagai catatan, rentetan kasus ini menjadi perihal buruk bagi Polri menjelang Hari Bhayangkara 2017, dan harusnya ini dijadikan dasar evaluasi internel Polri.

“Dari kasus ini, publik jelas merasa prihatin karena anggota polisi ternyata tidak bisa melindungi dirinya sendiri, saat diserang pelaku kejahatan di markasnya sendiri. Lalu bagaimana polisi bisa melindungi orang lain atau masyarakat dari serangan pelaku kejahatan,” ujar Neta.

Selanjutnya Neta khwatir, dengan begitu mudahnya melumpuhkan kepolisian pada setiap aksi penyerangan yang dilakukan oleh teroris, peristiwa buruk itu menjadi inspirasi dari berbagai pihak, utamanya kelompok teroris untuk semakin berani menyerang kepolisian.

“Belajar dari kasus Polda Sumut, Polri perlu mengimbau jajarannya untuk bersikap senantiasa waspada dan meningkat kepekaan serta selalu terlatih menghadapi berbagai situasi, sehingga anggota polisi tidak menjadi bulan-bulanan teroris atau pelaku kejahatan lainnya. Bagaimana pun, jika ada polisi terbunuh oleh pelaku kejahatan tentu akan menjadi keprihatinan tersendiri bagi publik dan sekaligus menjadi kecemasan terhadap profesionalisme sistem keamanan,” pungkasnya.

(Dadangsah Dapunta)

(Eka)