(ilustrasi/aktual.com)

Jakarta, Aktual.com – Polemik tingkat kemiskinan di Indonesia dinilai cenderung mengarah pada pencitraan pemerintah. Pasalnya, tingkat kemiskinan yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) kemudian diperkuat oleh pemerintah standar pengukuran dinilai tidak logis.

Dalam tulisan sebelumnya telah diurai, BPS mengungkapkan angka kemiskinan Indonesia mencapai 9,82 persen dengan jumlah penduduk miskin Indonesia per Maret 2018 adalah 25,95 juta orang atau 10 persen dari populasi total jumlah penduduk Indonesia.

(Baca: Kemiskinan turun, bagaimana realitasnya?)

Standar yang digunakan BPS untuk mendefinisikan kemiskinan yaitu ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar, yang diukur dari pengeluaran. Angka rata-rata per bulan Maret 2018, garis kemiskinan adalah Rp401.220 per kapita per bulan. Sebagai perbandingan, DKI Jakarta garis kemiskinan berada di Rp593.108 per kapita per bulan, kemudian NTT Rp354.898 per kapita per bulan.

Secara rata-rata, satu rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4,59 anggota rumah tangga. Artinya, apabila masing-masing anggota keluarga memiliki pendapatan Rp401.220 maka total pendapatan Rp1.842.086 per rumah. Sedangkan untuk DKI Jakarta, apabila GK per kapita Rp593.108 maka rata-rata pendapatan di bawah Rp3.081.772. Sebagai perbandingan, GK NTT per keluarga Rp2.121.634.

Komponen Garis Kemiskinan (GK) terdiri dari; Pertama GK Makanan yang setara dengan pemenuhan kebutuhan kalori 2100 kkal per kapita perhari, meliputi Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi. Kedua, GK Non Makanan yaitu kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan (51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di perdesaan).

“Selama September 2017 – Maret 2018, Garis Kemiskinan naik sebesar 3,63 persen, yaitu dari Rp387,160,- per kapita per bulan pada September 2017 menjadi Rp 401,220,- per kapita per bulan pada Maret 2018,” ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam paparannya di Jakarta.

Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Pada Maret 2018, komoditi makanan menyumbang sebesar 73,48 persen pada garis kemiskinan. Apabila dilihat lebih dalam, di Perkotaan beras menyokong 20,95 persen lebih rendah daripada di pedesaan 26,79 persen. Satu hal yang menarik adalah penyumbang terbesar kedua adalah rokok kretek filter, di perkotaan menyokong 11,07 persen dan di pedesaan 10,21 persen. Angka ini lebih tinggi daripada telur ayam ras sekitar 4,09 persen untuk kota dan 3,28 persen untuk pedesaan.

Selanjutnya, Memanusiakan Orang Miskin

(Ismed Eka Kusuma)