Jakarta, Aktual.com — Ada orang mengejar bahagia dengan memenuhi kesenangan gairah konsumsi dan gaya hidup. Memburu makanan lezat hingga ufuk horison. Merasakan segala minuman hingga yang paling memabukkan. Melampiaskan hasrat birahi dengan menggilir aneka corak pasangan. Menjajal segala model penampilan hingga reparasi paras.

Ada orang memburu bahagia dengan memenuhi hasrat kuasa. Api ambisi terus berkobar mengejar jabatan. Berbagai organisasi dimasuki sejauh bisa dikuasai.  Potensi pesaing disingkirkan demi keabadian kedudukan. Syahwat kuasa tak kenal usia senja.

Apakah dengan itu puncak kebahagian insani bisa diraih?
Bila mimpi bahagia bisa dicapai dengan memenuhi hasrat konsumsi dan kuasa, hewan di rimba raya pun sanggup mengejarnya.

Ketahuilah bahwa manusia dengan hewan tertentu memang memiliki kemiripan. Kromosom manusia dan simpanse sekitar 98 persen identik. Dengan otak mamalia purba, manusia bisa bak binatang: tega membunuh sesamanya bila kekasih atau makanannya direbut. Seperti hewan, manusia juga cenderung berkumpul dengan mereka yang warna kulitnya sama.

Tetapi sadarilah, manusia masih memiliki neokortek yang tak dipunyai binatang. Dengan itu, manusia bisa mengembangkan etika, estetika dan ilmu pengetahuan. Dengan itu pula manusia bisa mengaktualisasikan dirinya demi meraih kebahagian tertinggi.

Kebahagian tertinggi itu terletak pada kesanggupan untuk memberi dan meraih makna hidup. Tidak cukup makan sendiri, tapi merasa lebih bermakna bila bisa berbagi makanan pada sesama. Tidak cukup meraih hasrat kuasa, tapi merasa lebih bermakna bila bisa malayani harapan banyak orang.

Kebahagiaan tertinggi itu teraih manakala kita bisa menjadi lebih besar dari diri sendiri; terhubung dengan realitas kehidupan, menciptakan kehidupan yang lebih bermakna bagi kebahagiaan hidup bersama.

(Eka)