19 April 2026
Beranda blog Halaman 38102

Wakapolri: Tak Ada Surat Kesepakatan Tunda Kasus BW-AS

Jakarta, Aktual.co — Bambang Widjojanto beberapa waktu lalu menolak diperiksa Bareskrim sebagai saksi untuk tersangka kasus mengarahkan saksi memberikan keterangan palsu di sidang sengketa Pilkada Kotawaringin Barat di Mahkamah Konstitusi dengan tersangka Zulfahmi Arsyad.
Bambang menolak diperiksa karena mengaku mempunyai surat sakti yang disepakati pimpinan penegak hukum untuk menghentikan sementara kasus pimpinan KPK. Namun Polri beberapa kali menyanggah surat sakti tersebut.
Wakil Kepala Polri Komjen Pol Badrodin Haiti menegaskan tak ada surat kesepakatan antar pemimpin penegak hukum untuk menghentikan penyidikan kasus yang menjerat BW dan AS. 
“Dari kemarin sudah saya jelaskan itu bukan surat sakti tetapi kesepakatan kita bahwa kasus BW dan AS tetap lanjut proses penyidikan karena kedua kasus ini sudah pada tahap penyidikan,” kata Badrodin di Mabes Polri, Jumat (13/3).
Oleh karena itu tidak ada alasan bahwa Polri untuk menghentikan penyidikannya. Hanya persoalannya, lanjut Badrodin, Polri masih akan menunggu situasi mereda terkait dugaan kisruh KPK dan Polri lalu melanjutkan kembali proses penyidikan kasus tersebut. 
Badrodin memastikan, paling lambat satu bulan ke depan penyidikan kasus Bambang dan Samad akan selesai. “Paling bulan depan atau akhir bulan depan bisa dilanjutkan,” katanya.
Badrodin melanjutkan surat sakti yang dimaksud Bambang itu terkait penundaan kasusnya yang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Sedangkan untuk penyidikan kasus lain yang memerlukan keterangannya tak bisa ditangguhkan.
“Kesepakatannya itu kan dia sebagai tersangka. Kalau saksi kasus yang lain boleh saja, masa harus menunggu itu.”

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Ahok Bantah Keberadaan Yayasan ‘Ahok Center’

Jakarta, Aktual.co —Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) membantah kabar yang menyebut adanya kucuran dana dari Pemprov DKI ke Ahok Center. Tak hanya itu, mantan Bupati Belitung Timur tersebut juga membantah keberadaan Ahok Center. 
“Nggak pernah ada. Kamu cari deh seluruh dunia ada enggak Ahok center?” kata dia, di Balai Kota, Jumat (13/3).
Jelas dia, Ahok Center yang pernah ada hanyalah kumpulan relawan yang mendukungnya. Dia pun menantang pihak yang melontarkan tudingan untuk membuktikan keberadaan Ahok Center. “Bisa nggak buktikan Ahok Center kalau nggak buktikan ada ngga terima duit? Di bank mana nggak nama Ahok Center? Ada rekening bank? Terus di mana?” ungkap dia.
Dia heran tudingan soal keberadaan Ahok Center muncul kembali. Sebelumnya, tudingan serupa sudah pernah muncul saat pembangunan Rumah Susun Marunda. Di mana Ahok Center ikut ambil bagian dalam proses pembangunan rusun dan menerima kucuran dana.
“Waktu itu orang mau nyumbang rusun. Yang terima siapa? BPKAD sama Dinas Perumahan. Cuma relawan kita minta ngawasin dicuri apa enggak (sumbangan), sampai apa enggak, dia catet. Jadi itu nggak ada duit. Gila kok dituduh terima duit,” ucap dia.
Sebelumnya, tudingan mengenai adanya aliran dana corporate sosial responsibility (CSR) ke Ahok Center dilontarkan Anggota DPRD DKI, M Sanusi. Dia meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) audit yayasan yang didirikan Ahok dua tahun lalu itu.
“Ada dana triliunan rupiah yang dikumpulkan yayasan Ahok Center dan hingga kini tidak ada pertanggungjawaban ke publik. Apa bisa yayasan tersebut mengumpulkan dana jika Ahok tidak menjadi wakil gubernur dan juga saat ini gubernur?” ujar politisi Gerindra itu, Senin (9/3) lalu.
Beber Sanusi, Ahok Center memiliki aktivitas yang besar, hampir setara dengan program-program yang dibiayai Pemprov DKI. Misal, untuk pembangunan Waduk Pluit banyak dapat kucuran dari Ahok Center. Kata dia, Ahok Center mengumpulkan dana triliunan dari para pengusaha dan pengembang yang akan melakukan investasi. “Baik kawasan apartemen, perumahan, dan lainnya di daerah Jakarta.”

Artikel ini ditulis oleh:

Transparansi Dipertanyakan, Pertamina Klaim Tender Minyak Mentah Hal Rutin

Jakarta, Aktual.co —   Pertamina melalui unit usahanya Integrated Supply Chain (ISC) kembali melakukan tender minyak mentah untuk kebutuhan bulai Mei  2015. Vice Presiden Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro, ketika dikonfirmasi oleh tim Aktual.co terkait dengan tender kedua tersebut, hanya melayangkan komentar singkat dan normatif.

“Sejak ISC ditetapkan sebagai pelaksana tunggal tender pengadaan minyak mentah di Pertamina, tender pengadaan adalah hal rutin, dimana volume timing akan disesuaikan untuk mendapatkan hasil pengadaan yang optimal,” ujar Wianda kepada Aktual di Jakarta, Jumat (13/3).

Lebih lanjut ketika ditanyakan terkait tranparansi tender minyak mentah tersebut, Wianda belum memberikan jawaban. Transparansi tender minyak mentah menyangkut waktu pengumuman tender minyak, lokasi dan tempat agar mudah diakses dan dilihat semua pihak.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Aktual, ISC telah melakukan penawaran tender minyak mentah untuk empat kilang yang berada di Cilacap, Balongan dan Balikpapan. Tiga kargo minyak mentah tersebut berkapasitas 950MB, sedangkan satu kargo berkapasitas 600 MB. Namun, yang sangat disayangkan adalah ISC-Pertamina tidak memberikan transparansi kepada publik, dimana tempat dan waktu pengumuman pengadaan tender.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Datangi KPK, Jimly Ingin Bertemu Ruki

Jakarta, Aktual.co — Anggota tim sembilan,  Jimly Asshiddiqie sambangi gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat (13/3). Dia yang tiba di lembaga antirasuah sekitar pukul 16.15 WIB mengaku ingin bertemu dengan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua KPK, Taufiequrachman Ruki.
“Saya hanya mau ketemu pak Ruki,” ujar Jimly di gedung KPK, Jakarta, Jumat (13/3).
Namun, Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) itu enggan menyebutkan pembahasan apa yang akan dibicarakan dengan Plt Ketua KPK.
“Nanti saja ya setelah bertemu,” ujar mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK).
Seperti diwartakan sebelumnya, mantan Wakil Ketua KPK, Tumpak Hatorangan Panggabean sudah lebih dulu tiba di gedung KPK sekitar pukul 13.45 WIB. Dia juga mengatakan jika dirinya ingin bertemu dengan pimpinan KPK.
“Tidak ada agenda apa-apa, hanya ingin bertemu saja (dengan Pimpinan KPK),” ujar Tumpak.
Belum diketahui maksud dari kedatangan dua orang Anggota Tim Sembilan bentukan Presiden Joko Widodo. Diduga pertemuan ini masih untuk mendiskusikan kondisi yang berkembang saat ini di KPK.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Jenderal AS Minta Assad Mundur untuk Redakan Perang di Suriah

Jakarta, Aktual.co — Hampir empat tahun, perang saudara di Suriah antara militer pemerintah Presiden Bashar Al-Assad dan pasukan oposisi berkecamuk.

Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda perdamaian. Bahkan, saat ini ada kelompok ISIS yang mencoba menguasai Suriah yang membuat konflik semakin runyam.

Untuk hal tersebut, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Amerika  Jenderal Psaki meminta Assad yang bersikeras tetap menduduki tahta Presiden meski didesak mundur oposisi, untuk hengkang dari negaranya jika perang tetap terjadi hingga memasuki tahun ke-5 pada 15 Maret 2015 mendatang.

“Selama empat tahun, rezim Assad menghadang seruan reformasi dengan cara yang brutal dan otoriter,” kata Jen Psaki, seperti dimuat Al-Arabiya, Jumat (13/3).

Presiden Amerika Serikat Barack Obama menegaskan perang saudara di Suriah tak akan usai, jika Assad yang telah berkuasa selama 15 tahun itu masih bersikeras menduduki kursi Presiden.

“Kita harus memikirkan bagaimana nasib rakyat Suriah yang berjuang untuk masa depan yang menghormati hak dasar, toleransi dan mendambakan kemakmuran di negaranya,” kata Jen Psaki.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon sebelumnya mengatakan kini perhatian dunia internasional untuk Suriah berkurang lantaran perang yang tak kunjung usai setelah empat tahun. Dia berharap pertempuran segera berakhir.

“Rakyat Suriah terus menderita atas apa yang terjadi di negara mereka. Pembunuhan dan pengrusakan terus terjadi,” kata Ban Ki-moon.

Jumlah korban di Suriah terus bertambah. Hingga kini, tercatat setidaknya ada 210 ribu orang yang tewas sejak perang terjadi pada 15 Maret 2011, termasuk 76 ribu yang tewas  pada 2014 lalu. Selain itu, lebih dari 7,6 juta lainnya mengungsi.
 
Berbagai upaya damai dari organisasi internasional, termasuk 20 kelompok hak asasi manusia (HAM) yang menyerukan perdamaian ke kedua kubu di Suriah melalui mediasi. Namun, langkah tersebut belum membuahkan hasil yang signifikan.

Artikel ini ditulis oleh:

Tak Bela Figur Populer, Kemendagri Diminta Sinergikan Kepala Daerah dengan DPRD

Jakarta, Aktual.co — Kementerian Dalam Negeri harus mensinergikan kepala daerah dan DPRD terkait perbedaan persoalan yang terjadi di tiap daerah.
Hal ini dikatakan pengamat politik Idil Akbar, Jumat (13/3). Menurutnya, kemendagri tak boleh memihak dan tak membela figur yang lebih populer.
“Kemendagri juga harus liat kesitu, jangan hanya membela mana yang lebih populer,” kata Idil.
Dia menambahkan, jika kemendagri selalu memberi pembelaan terhadap kepala daerah tertentu dampaknya tak akan baik di masyarakat.
“Akan berdampak ke daerah, ketika kepala daerah  mandek dengan DPRD akan lari ke mendagri, ini tdk bagus juga.
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyebutkan bahwa pihaknya berpegangan pada draf anggaran yang sudah melalui e-budgeting, alias APBD versi Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). 
“Pegangan Kemendagri adalah pengajuan hasil pembahasan anggaran di paripurna dengan menggunakan e-budgeting,” ucap dia.
Sementara, Ahli hukum tata negara, Dr Margarito Kamis berpendapat , meski keputusan itu harus dihormati, namun dia tak menampik kemungkinan apa yang diputuskan Kemendagri bisa jadi preseden buruk kedepannya. Dimana, daerah lain juga bisa melakukan hal serupa yang dilakukan Ahok, yakni dengan mengajukan anggaran sendiri tanpa lewat persetujuan DPRD.
“Ya memang ini bisa jadi preseden buruk. Karena bisa jadi nanti ada daerah yang seperti itu dan mengatakan ‘Loh kan Ahok saja bisa, memang kamu (kemendagri) pakai peraturan yang mana?’. Ya kita lihat saja nanti,”  ujar Margarito.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain