8 April 2026
Beranda blog Halaman 39331

Hujan Deras, Sebagian Wilayah Kota Pamekasan Terendam Banjir

Jakarta, Aktual.co — Hujan deras yang melanda Kota Pamekasan selama lima jam lebih menyebabkan sebagian wilayah di dalam Kota Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Minggu (1/2) sore, terendam banjir.

“Saat ini banjir mulai memasuki halaman kantor pemkab timur yang terletak di Jalan Jokotole, Pamekasan,” kata warga setempat Abdurrahim.

Banjir menggenangi beberapa titik, antara lain di Jalan Brawijaya, atau di depan kampus lama STAIN Pamekasan di sekitar monumen Arek Lancor dan di Jalan Jokotole, Pamekasan.

Genangan air di sejumlah titik ini mulai terjadi sekitar pukul 15.30 WIB dan hingga pukul 17.00 WIB belum ada tanda-tanda akan surut dan bahkan cenderung semakin tinggi.

Di Jalan Brawijaya, ketinggian air mencapai 50 centimeter lebih, bahkan air mulai memasuki halaman kantor KPU Pamekasan, sedangkan di Jalan Jokotole dan di halaman kantor pemkab Pamekasan mencapai ketinggian antara 30 cm hingga 40 cm.

Akibatnya, warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai yang selama ini biasa banjir kini mulai waswas, karena genangan air sungai, seperti Sungai Kalisemajid dan Kalijombang, kini semakin tinggi.

Artikel ini ditulis oleh:

Marwan: Tarmizi Jangan Ngaku Dirjen PDM Lagi!

Jakarta, Aktual.co — Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Ja’far meminta agar Tarmizi A Karim jangan lagi menyebut diri sebagai dirjen Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) yang selama ini ada di Kementerian Dalam Negeri. Pasalnya, dirjen PMD sudah tidak ada dan fungsinya telah dipindah ke Kementerian Desa.
“Sekarang Dirjen PDM sudah tidak ada, kan sudah dilebur ke Kementerian Desa. Nomenklaturnya sudah berubah sekarang, jadi (Tarmizi) jangan ngaku-ngaku dirjen lagi. Dia sudah terlikuidasi dengan sendirinya setelah Kepres Nomor 12 tahun 2015 keluar minggu lalu,” ujar Marwan di gedung Transmigrasi, Kalibata, Jakarta, Minggu (1/2).
Marwan menambahkan, gedung dirjen PMD di jalan Pasar Minggu, Jakarta beserta sumber daya manusia dan resources yang ada harus mengikuti program-program yang ada di Kementerian Desa. Hal ini mengacu penerbitan Kepres nomor 12 tahun 2015 yang baru keluar pemerintah. Dalam Kepres itu, Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi memiliki enam dirjen, satu badan, sekjen, Irjen, serta 5 staf ahli.
“Kepres harus segera ditindaklanjuti. Soal gedung, sumber daya dan resources yang ada di jalan Pasar Minggu besok Senin akan kita tindaklanjuti. Prinsipnya harus ngikut (nomenklatur program) kementerian desa, sebagaimana fungsinya” tegas politikus PKB ini.
Kementerian Desa akan memiliki dua Dirjen terkait desa. Yakni Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, serta Dirjen Pembangunan Kawasan Pedesaan.
“Di Kemendagri memang ada yang khusus menyangkut desa. Tapi itu yang adminsitrasi pemerintahan saja. Kalau program dan pelaksanaannya di sini (Kementerian Desa),” katanya.
“Soal pengalihan aset itu besok kita kebut.  Biasalah, Kemendagri selalu nakal begitu,” tuntas Marwan.

Artikel ini ditulis oleh:

GMKI Minta Jokowi Susun ‘Road Map’ Penanggulangan Bencana Gunung Sinabung

Medan, Aktual.co — Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) meminta presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menyusun ‘Road Map’ penanggulangan bencana Gunung Sinabung.

Hal itu ditegaskan sekretaris Pimpinan Pusat (PP) GMKI Dessy Datang kepada Wartawan, saat peringatan Hari Relawan GMKI di Desa Payung, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, Minggu (1/2).

“Pembuatan ‘Road Map’ Bencana Gunung Sinabung dapat memberikan pengaruh positif dalam mengantisipasi bencana seperti sebelum-sebelumnya serta untuk mengantisipasi korban-korban selanjutnya atau pun perhatian kepada pengungsi dengan mempertimbangkan kebutuhannya,” ujar Dessy.

Menurut Dessy, bencana Sinabung sudah sepatutnya dijadikan sebagai bencana nasional. Pasalnya, hingga kini Gunung Sinabung masih terus mengeluarkan semburan awan panas.

Dessy menambahkan, penanganan pengungsi oleh Pemerintah Kabupaten Karo maupun pemerintah pusat dinilai masih belum maksimal. Khususnya, penanganan pengungsi yang akan direlokasi.

Sementara itu, terkait peringatan setahun jatuhnya korban relawan dari GMKI, Dessy mengungkapkan, peristiwa itu menjadi momentum refleksi secara internal bagi organisasi GMKI. Peristiwa itu, lanjutnya, tidak boleh menyurutkan pengabdian dan pelayanan GMKI terkhusus pelayanan di masyarakat.

“Kami meminta kepada seluruh kader merefleksikan diri agar lebih semangat dalam mengwujudkan visi dan misi GMKI dalam pelayanan masyarakat,” katanya lagi.

Peringatan Hari Relawan GMKI itu turut dihadiri tujuh Keluarga Relawan GMKI yang menjadi Korban bencana Gunung Sinabung yang terjadi 2013 lalu. Peringatan itu sekaligus peletakan batu pertama pendirian monumen Hari Relawan.

Artikel ini ditulis oleh:

Pimpinan KPK Bukan Nabi/Malaikat

Seorang pejalan kaki menyeberang menggunakan jembatan penyebrangan orang (JPO) yang dipasang spanduk bertuliskan “Pimpinan KPK Bukan Nabi/ Malaikat di JPO Jalan Salemba, Jakarta, Minggu (1/2/2015). Seruan lewat spanduk semacam ini banyak tersebar di sudut ibukota. AKTUAL/MUNZIR

Ribuan Tenaga Honorer di Sumut Belum Terdaftar BPJS

Medan, Aktual.co — Diperkirakan sekitar ribuan tenaga honorer di Sumatera Utara belum terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

Hal tersebut terungkap dalam keterangan pers Ombudsman RI Perwakilan Sumut yang diterima Aktual.co, Minggu (1/1).

“Kita heran pada pemerintah kenapa tidak mendaftarkan tenaga honorernya di BPJS. Padahal Undang-Undang mewajibkan seluruh masyarakat Indonesia jadi peserta BPJS,” ujar Kepala Perwakilan Ombudsman Sumut Abyadi Siregar.

Dikatakannya, terungkapnya kasus itu, setelah pihaknya menggelar rapat bersama Kepala Departemen Pemasaran dan Kepesertaan BPJS Sumut Sri Yulizar Pohan akhir pekan lalu.

Dimana dalam pertemuan itu, terungkap bahwa saat ini belum ada Instansi pemerintah di Sumut yang mendaftarkan tenaga honorernya menjadi peserta di BPJS, kecuali tenaga honorer Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Penyebabnya, disebutkan dikarenakan persyaratan menjadi peserta BPJS bagi tenaga honorer yaitu 2 persen dari gaji pokok dan tunjangan tetap, tidak dapat dipenuhi. Sebagai contoh, gaji tenaga honorer di Pemko Medan tidak mencapai UMK.

“Padahal, kalau menurut BPJS, sebenarnya hal ini dapat dilakukan kalau ada surat jaminan  dari Dinsosnaker,” kata Abyadi.

Abyadi menegaskan, terkait kasus tersebut, pihaknya akan mempertanyakan komitmen pemerintah provinsi dan kabupaten kota dalam memberi jaminan kesehatan pada tenaga honorer.

“Pemerintah mengimbau perusahaan mendaftarkan karyawanya di BPJS, tapi dia sendiri tidak. Kalau memang tidak sanggup memberi jaminan kesehatan sesuai UU, jangan terima honorer. Jangan diterima tapi dianiaya,” kesalnya menegaskan.

Selain soal honorer, Ombudsman juga mempertanyakan kesimpangsiuran status kepesertaan penyapu jalan di Dinas Kebersihan Kota Medan.

Sebabnya, dari laporan yang diterima Ombudsman, para penyapu jalan di Dinas Kebersihan Medan honornya dipotong untuk membayar iuran BPJS. Namun, menurut Yulizar, tidak ada penyapu jalan menjadi peserta BPJS.

“Untuk kasus ini, kita akan panggil Dinas Kebersihan Medan pekan ini untuk mempertanyakannya,” tandasnya

Artikel ini ditulis oleh:

Terkait Soal Anggaran DKI, Ini Tanggapan Uchok Atas Pernyataan Ahok

Jakarta, Aktual.co — Pengamat politik anggaran, Uchok Sky Khadafi membalas pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Thajaja Purnama (Ahok). Uchok menyebut Ahok tidak paham tentang anggaran DKI Jakarta sebenarnya. Sekaranya, ia ‘menyerang’ Ahok.

“Yang nggak negerti tentang silpa (sisa dana anggaran) itu, si Ahok. Nggak sampai otak dia untuk menghitung silpa,” cetus Uchok, kepada Aktual.co, Minggu (1/2).

Uchok menilai, penyerapan anggaran Jakarta itu sangat rendah. Otomatis, sisa anggaran tersebut tinggi.

“Tapi, dalam RAPAPBD atau APBD yang sudah disahkan, silpa yang tercatat kecil banget ya. Ini artinya, atau saya mau bilang, ada silpa yang disembunyikan di depan mata publik,” tegas Uchok.

Sehingga, Uchok meminta penegak hukum untuk berani menelusuri dugaan penyalahgunaan tersebut.

“Dan aparat hukum wajib untuk memanggil Bos Ahok agar diperiksa atas dugaan hilang silpa ini,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, Ahok menyebut analisis Uchok tentang silpa tahun 2014 yang tak masuk di 2015 sebagai ‘kebodohan’.

“Itu orang otaknya nggak sampai, suruh baca baik-baik,” begitu kata Ahok saat dimintai konfirmasi beberapa hari lalu.

Namun demikian, Uchok menganggap banyak anggaran di APBD yang perlu dibongkar, karena diduga terdapat korupsi. Salah satu yang menurutnya perlu disoroti adalah terkait jumlah sisa anggaran.

Di 2014, APBD DKI sebesar Rp72,9 triliun, tapi baru terealisasi 40 persen saja. Tapi, di APBD 2015 yang baru disahkan, sisa anggaran (2014) hanya sebesar Rp8,9 triliun.

Padahal kalau berdasar perhitungan secara kasar, jika penyerapan hanya 40 persen dari Rp72,9 triliun, berarti silpa-nya adalah sekitar Rp28 triliun.

Dan, bukan Rp8,9 triliun. Uchok juga menyesalkan, mengapa DPRD tidak membongkar sisa anggaran sebesar Rp19,1 triliun.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain