9 April 2026
Beranda blog Halaman 39467

Pedofil Anak Dihukum Pancung di Arab Saudi

Jakarta, Aktual.co —Seorang pedofilia yang telah memperkosa delapan anak perempuan dieksekusi pancung oleh pemerintah Arab Saudi. Seperti dilansir Emirates24|7, Senin (26/1) seorang guru sekolah setempat itu dinyatakan bersalah telah memperkosa delapan anak perempuan yang berusia antara 6 dan 12 tahun selam empat tahun belakangan.

Surat kabar lokal melaporkan Mousa Al Zahrani, ayah enam anak telah dipenggal di depan umum di Jeddah setelah ia dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan setempat. Pada awal tahun 2014, pengadilan banding mengukuhkan putusan pengadilan sebelumnya dan memvonis guru berusia 42 tahun dengan hukuman mati. Pengadilan menjatuhkan hukuman setelah ada beberapa korban yang berhasil mengingat wajahnya.

Polisi Saudi menangkap guru itu pada tahun 2011 setelah perburuan besar-besaran dilakukan di seluruh negeri. Pelaku berhasil ditangkap hanya seminggu setelah melakukan kejahatan terakhirnya di Jeddah. Gadis sembilan tahun, Maha menceritakan penderitaannya kepada polisi dan meminta mereka untuk menghukum mati pemerkosanya. Surat kabar Arab Saudi lainnya mengatakan pelaku menggunakan permen untuk membujuk para korban memenuhi nafsu bejatnya di dalam mobil miliknya.

Kini Giliran Arits Cantik Olga Lidya Beri Dukungan ke KPK

Jakarta, Aktual.co — Dukungan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kian mengalir. Setelah akademisi, LSM, tokoh masyarakat hingga tokoh agama, kini kalangan selebritis pun tak ketinggalan memberikan dukungan untuk KPK.
Kali ini, KPK kembali di datangi selebriti cantik Olga Lidya untuk mendukung KPK.
“Saya kesini untuk menndukung KPK,” ujar dia, di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (27/1).
Seperti diketahui dukungan untuk KPK terus berdatangan, tidak hanya dari kaum akademisi, LSM, aktivis anti korupsi, tokoh masyarakat dan agama namun beberapa artis Indonesia juga turut mendukung KPK.
Bahkan saat ini beberapa mahasiswa dari Universitas Indonesiamendirikan tenda di lobby gedung anti rasuah tersebut.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Menlu Retno Sambangi Murid-murid di Malaysia

Jakarta, Aktual.co —Dalam rangkaian kunjungan ke Kuala Lumpur dan Sabah, Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi berkesempatan berdialog dengan murid-murid dan guru di Community Learning Center (CLC) di Kota Ki Manis. Kota tersebut berada sekitar 1 jam dari pusat Kota Kinabalu.

Anak-anak itu tinggal di kota Ki Manis karena orang tuanya adalah Buruh Migran Indonesia (BMI) yang bekerja di berbagai perkebunan di kawasan tersebut. Jumlah murid di CLC adalah sekitar 187 orang anak usia Sekolah Dasar.

Retno yang hadir bersama Dubes RI Kuala Lumpur Herman Prayitno, Konjen RI di Kota Kinabalu Ahmad Irfan, Direktur PWNI dan staff Kemlu lainnya bertemu dengan koordinator CLC, Suwandi Permana serta empat orang guru Indonesia yang menjadi sukarelawan di tempat tersebut.

Dalam kesempatan dialog, diperoleh berbagai masukan, antara lain mengenai keberlangsungan CLC. Isu ini telah disampaikan oleh Retno kepada Menlu Malaysia dalam pertemuan bilateral di Kota Kinabalu, 26 Januari 2015. Masalah Perijinan ini merupakan isu yang sangat penting untuk diselesaikan guna menjamin hak pendidikan bagi Buruh Migran Indonesia di Malaysia.

Dalam keterangan pers Kemlu yang diterbitkan Selasa (27/1/2015), dikatakan, Jumlah CLC di Sabah ada sekitar 207 buah, di mana 24 CLC merupakan CLC non ladang yang belum memiliki izin pendirian dari Pemerintah Malaysia. Adapun Jumlah siswa CLC di Sabah yakni tingkat Sekolah Dasar berjumlah 6950 siswa, Sekolah Menengah Pertama 3000 siswa, dan Sekolah Indonesia Kota Kinabalu 780 siswa. Dikatakan pula bahwa BMI di Sabah bekerja di berbagai sektor, baik profesional, formal, informal, sektor jasa, ABK, maupun perladangan/perkebunan.

“Sektor pekerjaan yang paling banyak dimasuki oleh BMI adalah sektor perladangan/perkebunan (53%) dan pekerjaan professional adalah sektor yang paling sedikit (1%),” tulis rilis Kemlu RI tersebut. Sementara BMI di wilayah Sabah sebagian besar berasal dari Timor (NTT), Tana Toraja dan Makasar (Bugis) serta Jawa Timur.

Akademisi: Imunitas Boleh, Asal…

Jakarta, Aktual.co — Dekan Fakultas Hukum (FH) Universitas Sriwijaya, Palembang, Amzulian Rifai menyarankan agar para penegak hukum di Indonesia diberikan hak kekebalan hukum. Hal itu disampaikan Azmulian di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Selasa (27/1).
“Perlu imunitas terbatas untuk para pimpinan penegak hukum termasuk KPK,” ujar Amzulian, di gedung KPK, Jakarta, Selasa (27/1).
Dia menjelaskan, bahwa imunitas terbatas yang akan didapatkan para penegak hukum, bukan semata-mata memberikan kebebasan untuk melakukan pidana. Ia mengatakan, hak tersebut bisa langsung ditanggalkan jika penegak hukum tersebut malakukan kejahatan.
“Kecuali jika tertangkap tangan, imunitas tersebut bisa langsung dicabut,” jelasnya.
Untuk diketahui, kedatangan Azmulian adalah untuk memberikan dukungan terkait permasalahan yang tengah melanda para pimpinan di ke lembaga pimpinan Abraham Samad itu.
Dia pun datang tidak sendiri. Azmulian didampingi dengan lima Dekan yang berasal dari berbagai Universitas di Indonesia. Kedatangan mereka sekaligus untuk mendeklarasikan sebuah forum yang diberi nama Forum Dekan.
Berikut Anggota Forum Dekan:
1. Prof DR Topo Santoso (Dekan FH Universitas Indonesia)2. Prof DR M. Zaidun (Dekan FH Universitas Airlangga)3. Prof Amzulian Rifai (Dekan FH Universitas Sriwijaya)4. DR Zainul Daulay (Dekan FH Universitas Andalas)5. DR Ahmad Sudiro (Dekan FH Universitas Tarumanegara)6. Prof DR Farida Patitingi (Dekan FH Universitas Hasanuddin).

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Tripoli Mendapat Serangan Orang Bersenjata

Tripoli, Aktual.co —Sekelompok orang bersenjata menyerbu sebuah hotel mewah di Tripoli, Libya yang biasa dihuni warga asing, Selasa (27/1/), meledakkan sebuah bom mobil dan menewaskan sedikitnya tiga orang. Aparat keamanan Libya mengepung hotel Corinthia di pusat kota Tripoli dan suara baku tembak terdengar jelas dari tempat yang tak jauh dari hotel tersebut.

“Seorang penjaga keamanan hotel tewas ketika bom mobil meledak di luar hotel itu dan dua orang lainnya tewas ketika orang-orang bersenjata itu menyerbu masuk,” kata juru bicara aparat keamanan Libya, Issam al-Naass. Sementara lima orang lainnya terluka termasuk dua pekerja hotel asal Filipina yang terjebak ledakan bom mobil. Saat ini sejumlah amulans terlihat berkumpul di sekitar hotel.

Dalam sebuah pernyataan singkat lewat Twitter, cabang Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Tripoli mengklaim menjadi dalang serangan tersebut. Sejauh ini belum diketahui apalah masih ada tamu di dalam hotel tersebut, yang merupakan pusat kegiatan diplomatik dan pemerintahan di Tripoli.

“Situasinya masih berkembang, apa yang kami dengar adalah apa yang juga disiarkan berita,” kata juru bicara jaringan hotel Corinthia yang berbasis di Malta, Matthew Dixon. “Kami mendoakan semua karyawan dan tamu kami, namun kami belum memiliki informasi lebih banyak,” tambah Dixon.

Sementara itu, ketua bidang kebijakan luar negeri Uni Eropa Feredica Mogherini mengecam serangan bersenjata di Libya itu. Dia menyebut serangan tersebut sebagai sebuah aksi terorisme tercela yang merusak upaya menciptakan kedamaian dan stabilitas di Libya.

Pada Senin (26/1), dimulai putaran pembicaraan baru di Geneva, Swiss antara faksi yang saling berseteru di Libya untuk menerapkan sebuah peta jalan untuk membentuk sebuah pemerintahan bersatu. Negeri di Afrika Utara ini terkungkung konflik sejak revolusi rakyat menggulingkan Moammar Khadaffy pada 2011. Sejak saat itu faksi-faksi dan milisi-milisi bersenjata terlibat perebutan kota-kota penting dan sumber daya minyak negeri tersebut.

Warga Gaza Masih Tinggal di Reruntuhan

Jakarta, Aktual.co —Misi PBB untuk Jalur Gaza mengatakan pada Selasa (27/1) bahwa mereka kekurangan sumbangan dana dari dunia internasional. Keterlambatan ini membuat molornya pembayaran pembangunan puluhan ribu rumah yang hancur akibat invasi Israel pada Juli-Agustus tahun lalu.

“Warga betul-betul tidur diantara reruntuhan, anak-anak meninggal karena hypothermia,” kata Robert Turner, direktur operasi bagi Badan Bantuan dan Pembangunan PBB (UNRWA) di Gaza dalam sebuah pernyataan. Ia menambahkan, UNRWA hanya menerima US$135 juta dari US$720 juta yang dijanjikan oleh pendonor untuk membantu 96 ribu pengungsi yang rumahnya rusak atau hancur dalam perang selama 50 hari tahun lalu itu.

“Tidak jelas mengapa dana ini tidak datang,” kata Turner, tanpa mengidentifikasi siapa saja sumber dana. “Sementara ada beberapa sumber dana yang tersedia untuk mulai membangun rumah yang hancur total, badan (UNRWA) kewalahan untuk membiayai perbaikan dan subsidi sewa.”

Sejauh ini, menurutnya, UNRWA telah mengeluarkan US$77 juta untuk 66 ribu keluarga untuk memperbaiki rumah mereka atau mencari alternatif sementara, namun kini karena dana yang menipis, UNRWA “terpaksa menghentikan sementara bantuan dengan dana tunai.” Hanya sedikit dari total US$5,4 miliar dana yang disepakati untuk merekonstruksi Gaza di konferensi internasional Kairo pada Oktober lalu yang telah mencapai Gaza, sementara ribuan warga Palestina tinggal di tenda-tenda penampungan dekat rumah mereka yang hancur.

Ribuan lainnya harus tinggal di reruntuhan rumah mereka, dengan menggunakan atap plastik untuk melindungi diri dari hujan. Sekitar 20 ribu yang rumahnya rusak total juga masih tinggal di bangunan sekolah milik PBB.

“Warga (Gaza) putus asa dan masyarakat internasional bahkan tidak dapat memberikan bantuan minimal—misalnya perbaikan rumah di musim dingin—apalagi pencabutan blokade, akses ke pasar atau kebebasan bergerak,” kata Turner. Dia mengatakan UNRWA memerlukan US$100 juta dengan segera di kuartal pertama 2015 untuk memperbaiki kerusakan kecil pada rumah dan untuk subsidi sewa.

Mesir dan Israel mempertahankan blokade Gaza, dengan kedua negara beralasan pembatasan itu untuk keamanan. Israel memonitor impor bahan bangunan dengan ketat ke wilayah itu, mengatakan Hamas bisa menggunakan bahan bangunan tersebut untuk membangun kembali terowongan antara Palestina dan Israel yang digunakan Hamas untuk menyerang. Pertempuran politik internal antara Hamas dan Otoritas Palestina yang didukung Barat, juga menjadi faktor utama lambannya rekonstruksi Gaza.

Berita Lain