13 April 2026
Beranda blog Halaman 39794

Pengendara Motor Mulai Ditilang di Thamrin

Jakarta, Aktual.co —Sejumlah pengendara roda dua yang kedapatan melintasi ruas jalan MH Thamrin-Monas diamankan petugas dari Satuan Lalu Lintas Polda Metro Jaya saat penerapan tilang yang mulai diberlakukan pada Minggu (18/1). “Dari operasi yang kami mulai sejak pukul 11 tadi telah ada sekitar 50 pengendara yang kami berikan surat tilang,” kata Komandan Peleton Unit Urai Satuan Lalu Lintas Polda Metro Jaya Ipda Fatur Roji saat ditemui di Bundaran HI, Jakarta.

Fatur mengatakan, para pengendara yang terjaring dalam operasi kali ini akan dikenakan pasal 287 tentang pelanggaran rambu-rambu lalu lintas dan mereka akan diberi surat tilang. “Semua pengendara kami berikan surat tilang berwarna merah untuk langsung dilimpahkan pada pengadilan agar disidangkan,” katanya.

Kendati diberikan surat tilang berwarna merah untuk disidangkan dan dikenakan denda sesuai putusan pengadilan, polisi juga menyediakan tanda bukti pelanggaran tersebut yang berwarna biru. Surat tilang berwarna biru tersebut akan langsung dikenakan denda maksimal sejumlah Rp500 ribu serta dibayarkan di Bank BRI terdekat untuk selanjutnya bukti pembayaran itu digunakan untuk mengambil dokumen yang ditahan saat operasi oleh polisi.

Sementara itu, salah satu pengendara motor yang ditemui saat dokumen kendaraannya diamankan polisi mengaku belum mengetahui penerapan tilang mulai diberlakukan hari ini. “Saya belum mengetahui hari ini dimulai penerapan tilang di jalur ini karena sebulan terakhir saya tidak pernah melalui jalur ini,” kata salah satu pengendara motor Andre (20) sesaat setelah ditilang oleh petugas.

Pemberlakuan penerapan tilang pada tanggal 18 Januari 2015 di sepanjang Jalan MH Thamrin (Bundaran HI) sampai ke Merdeka Barat (Monas) merupakan pengembangan dari masa sosialisasi aturan larangan masuk di jalur tersebut selama Desember 2014.

Tantowi Yahya: Brasil dan Belanda Harus Menghargai Hukum di Indonesia

Jakarta, Aktual.co —Wakil Ketua Komisi I DPR RI Tantowi Yahya menyatakan, pemerintah Belanda dan Brasil harus menghargai penegakan hukum di Indonesia terkait pelaksanaan hukuman mati terhadap enam pengedar narkoba. “Kedua kepala negara (Belanda dan Brazil) juga harus menghargai, pelaksanaan hukuman mati tersebut merupakan bentuk penegakan hukum yang berlangsung di Indonesia,” kata Tantowi melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (17/1). Dia menyebutkan sebanyak 40 orang meninggal setiap hari akibat narkoba.

Tantowi mengatakan, hukuman mati untuk para pengedar narkoba tidak hanya di Indonesia, tapi juga berlaku di Cina, Singapura, Vietnam, Malaysia, dan negara-negara lainnya. Menurut dia, hak Pemerintah Brasil dan Belanda untuk menarik Duta Besarnya di Indonesia atas ketidaksetujuannya terhadap eksekusi hukuman mati terhadap warga negara mereka. “Upaya yang telah dilakukan Presiden Dilma Rousseff dan Raja Willem Alexander yang juga telah berkomunikasi dengan Presiden Joko Widodo merupakan upaya yang sungguh-sungguh untuk melindungi warga negaranya,” ujarnya.

Tantowi menilai hal tersebut merupakan hal yang wajar dan apabila setelah pelaksanan hukuman mati telah berimpilkasi terhadap ditariknya duta besar mereka di Indonesia, maka itu merupakan hak kedua negara tersebut. Politisi Partai Golkar itu berharap sikap kedua negara tersebut merupakan reaksi sesaat.

Menurut dia pemerintahan Jokowi harus mengintensifkan komunikasi dalam kerangka menjelaskan pelaksanaan hukuman mati merupakan bagian dari penegakan hukum. “Hal itu harus dilakukan apabila nantinya penarikan tersebut berdampak terhadap hubungan diplomasi kedua negara,” katanya.

Sebanyak 250 Investor Ditargetkan BEI di Papua

Jayapura, Aktual.co —Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Jayapura, pada 2015 menargetkan 250 investor di Papua. “Jadi kemungkinan di tahun ini kita targetkan lebih dari 200 investor, walaupun belum ditetapkan namun tahun ini diperkirakan 250 investor untuk wilayah Papua”, kata Kepala Kantor BEI Jayapura Kresna Aditya Payokwa, saat dihubungi Antara melalui telepon di Jayapura, Minggu (18/1).

Kresna mengatakan, setiap tahunya BEI perwakilan Jayapura rutin mengadakan rapat koordinasi (Rakor), dan rapat tersebut akan diadakan pada bulan Maret. “Setiap tahunnya kita mempunyai rapat koordinasi pada tiap 17 kantor perwakilan di setiap Provinsi,” ujar Kresna yang biasa disapa Oka.

Ia mengatakan, setiap tahunya juga ada pertemuan antara kepala-kepala kantor perwakilan di Indonesia, dan nanti di setiap pertemuan itu akan ditentukan targetnya. “Biasanya setiap tahun kita adakan pertemuan sepuluh persen untuk target di setiap wilayah,” katanya.

Menurut Kresna, walaupun belum ada pertemuan koordinasi dari kantor pusat untuk target bagi masing-masing Kantor perwakilan, namun pria yang akrab disapa oka, tetap optimis akan targetnya di tahun 2015. “Walaupun belum ditetapkan tapi kami lihat dari data tahun kemarin (2014) sudah ada perkembangan 200 investor sehingga tahun ini akan lebih lagi,” tuturnya.

Selain target yang ingin dicapai, tujuannya agar masyarakat Papua dapat menjadi investor di pasar modal. “Memang kita punya target agar masyarakat di Papua dapat menjadi investor dan akan semakin baik, khususnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Papua”, jelasnya.

Ini Jawaban Majalah Satir Turki untuk “Charlie Hebdo”

Jakarta, Aktual.co —Majalah satir Turki Cafcaf memberi jawaban unik atas arogansi Charlie Hebdo yang kembali menampilkan karikatur Nabi Muhammad di halaman depannya. Bukan dengan cara keras ataupun dengan balik menghina.

Para editor majalah Cafcaf lebih memilih untuk mengingatkan para pemimpin dunia yang begitu reaktif atas serangan terhadap kantor majalah penghina Nabi yang menewaskan 12 orang, tapi diam atas pembantaian terhadap Muslim di Gaza, Afghanistan, China, dan lain-lain. Tak pernah terjadi dalam sejarah, para pemimpin dunia beserta jutaan pengunjuk rasa berkumpul dalam satu tempat bergandengan tangan mengutuk pembantaian yang dilakukan Israel atas warga Gaza.

Bahkan dunia tak pernah merespon diskriminasi terhadap Muslim Rohingya dengan demo sebesar itu meski PBB mengakui mereka sebagai etnis minoritas paling teraniaya di dunia. Majalah Cafcaf menanggapi cover Charlie Hebdo dengan mengatakan “Non, rien n’est pardonne” (Tidak, tidak ada yang dimaafkan sama sekali). Ini merespon cover Charlie Hebdo yang mengatakan “Tout est pardonne” (Semua sudah dimaafkan).

Di bawah headline tersebut, Cafcaf memuat karikatur mereka yang tertindas di Afghanistan, Gaza, Chechnya, Irak, Suriah, Mesir, dan China. Gambar seorang anak Gaza yang darahnya masih mengalir dengan luka di mana-mana berada di posisi paling depan.

“Arogansi telah menjadi kebiasaan bangsa Eropa. (Mereka) menempatkan diri mereka lebih tinggi di atas orang lain. Mereka bebas dan tak boleh dipertanyakan. Dan, pada gilirannya telah memancing respon yang signifikan dari seluruh dunia,” kata majalah itu dalam sebuah pernyataan.

Megawati Kaget dan Kecewa, Dengar KPK Jadikan Budi Gunawan Tersangka

Jakarta, Aktual.co — Penetapan Komjen Pol Budi Gunawan sebagai tersangka tentu membuat publik bersimpati. Begitu juga yang dirasakan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

“Pasti kagetlah. Ya kaget, kecewalah. Itulah suasana hatinya,” kata Ketua DPP PDIP Trimedia Panjaitan kepada wartawan di Jakarta, Minggu (18/1).

Kepada pers seusai dia berbicara di Aktual Forum, Trimedia mengakui bahwa PDI Perjungan kaget saat  mendapat kabar bahwa KPK mendadak menetapkan Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka korupsi.

Kekagetan itu juga dirasakan oleh Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati yang cukup mengenal dekat Budi Gunawan. Karena ketika menjabat Presiden kelima RI, Budi menjadi salah satu ajudan Megawati.

Meski demikian, lanjut Trimedya, Megawati tidak akan mencampuri keputusan presiden terkait masalah ini. Karena meskipun PDI Perjuangan berharap Budi Gunawan bisa tetap dilantik, namun Megawati tidak mau mendesak Jokowi.

“Beliau menyerahkan pada presiden apa pun keputusannya,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Aktivis dan Budayawan di Medan Deklarasikan “Serikat Boemi Poetra”

Medan, Aktual.co —Sejumlah aktivis, budayawan dan wartawan di Kota Medan mendeklarasikan sebuah gerakan bernama Serikat Boemi Poetra di Pelataran Taman Makam Pahlawan, Minggu (18/1). Inisiator Gerakan Tengku Zainuddin usai deklarasi yang digelar sederhana dan singkat kepada Aktual.co mengatakan gerakan yang coba dibangun adalah gerakan yang diawali dari penyelamatan budaya bangsa.

“Bentuk gerakannya kita mengedepankan nilai budaya, menurut hemat kami budaya kita itu adalah akar negara, tatkala budaya itu hilang bagaimana nasib negara. Selama ini propaganda yang dilakukan negara mengatakan bahwa budaya bangsa, tapi apa benar budaya itu aman?. Sederhananya, Boemi Poetra mempertahankan, mengamankan budaya,” ujar Zainuddin.

Dikatakannya, gerakan yang dibangun akan membasiskan kegiatan-kegiatan yang menyentuh segala sisi kehidupan, yang dipandang dari sudut kebudayaan. Misalnya melaksanakan Fokus Gorup Discusion (FGD). “Kegiatannya menyentuh segala kehidupan, dari sudut budaya.

Kami akan melakukan FGD misalnya, membahasa soal ada budaya yang hilang. Batik contohnya, yang ketika dicaplok Malaysia, presiden keluarkan statemen. Pertanyaanya, kalau budaya bangsa hilang, bagaimana pertanggung jawaban negara?,” tandasnya. Gerakannya yang akan dilakukan, lanjut Zainuddin, meski secara legal formal bukan organisasi baku, namun Serikat Boemi Poetra akan menghimpun kalangan bumi putra dari berbagai lintas profesi.

“Boemi putra itu sederhana, masing-masing memiliki keyakinanya, dia tumbuh dan berkembang. Dari bahsa sansekerta, pribumi, dengan Bhineka Tunggal Ika. Timbul pertanyaan, yang mana yang berbeda, bumi putra yang akan menyempurnakan itu. Dia akan melebur kepentingan etnis,” terangnya.

Sementara itu, Kordinator Perhelatan Deklarasi, Indra Gunawan menambahkan gerakan Boemi Poetra lahir dari diskusi intens beberapa tokoh budayawan, aktifis dan wartawan yang terus berkembang. Dari diskusi itu, lanjut Indra, diperoleh kesimpulan bahwa kaum Boemi Poetra saat ini sudah sangat tertekan dari segala sendi.

“Butuh kesadaran kolektif mengatasi keterpurukan bumi putra di negeri sendiri. Hari ini, secara umum generasi bumi putra sudah kehilangan ras percaya diri. Merasa tidak mungkin bangkit sampai kapanpun,” urainya.

Menurutnya, situasi itu dipicu banyak faktor. Namun yang paling mendasar yakni, gagalnya bumi putra mempertahankan budaya sendiri. Generasi bumi putra, lanjutnya, tanpa disadari, terbentuk dengan pola yang adaptif. “Gerakan ini adalah gerakan bersama. Lokomotifnya hanyalah ide, bukan personal dan bukan pula lembaga yang terstruktur. Karenanya bisa dimahfumi jika pendeklarasiannya dihelat sangat sederhana,” imbuh Indra.

Sejumlah aktivis, budayawan dan jurnalis tampak hadir, di antaranya Teja Purnama, mantan Ketua Badko Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sumut, Robert Situmorang, mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen Kota Medan, Darma Lubis, Ketua Ikatan Mahasiswa Boemi Poetera, Rony Dermawan.

Berita Lain