11 April 2026
Beranda blog Halaman 42200

Menyelamatkan Mereka yang Rentan Miskin Akibat Sakit (Bag. 2)

Jakarta, Aktual.co —  Banyak orang mampu, tapi hanya sekadar untuk menutupi kebutuhan perekonomian keluarga secara pas-pasan.
Mereka itulah yang disebut “sadikin”, atau “sakit dikit miskin” atau akibat sedikit sakit jadi jatuh miskin, kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan, Riau, dr Endid Pratiknyo.
Dengan demikian, sesungguhnya kemiskinan dan kesehatan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Kemiskinan membuat mereka menjadi sulit mendapatkan layanan kesehatan, sementara kesehatan seketika bisa saja membuat yang kaya raya jatuh miskin.
Ketua IDI Riau Nurzelly Husnedi mengatakan tingginya persoalan kesehatan tersebut harus ditekan dengan berbagai program “jitu” Menkes Nila F Moeloek.
“Yang utama adalah pemerataan penyebaran dokter hingga ke berbagai pelosok desa. Tujuannya adalah untuk memberikan hak kesehatan yang utuh bagi masyarakat pedesaan,” ungkapnya.
Nurzelly Husnedi menyatakan saat ini khusus untuk Provinsi Riau saja sebenarnya terdapat lebih 2.000 dokter, namun belum tersebar secara merata hingga ke pelosok desa.
“Mereka masih menjalankan profesi masing-masing di kota besar khususnya Pekanbaru, selain juga di ibu kota kabupaten di Riau,” kata Nurzelly.
Menurut dia, itu merupakan masalah bersama khususnya pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Sebaran dokter yang tidak merata merupakan salah satu penyebab masyarakat Indonesia belum dapat mencapai taraf hidup yang optimal.
Akibatnya, masyarakat di berbagai pedesaan dan kepulauan terisolasi di Tanah Air banyak yang belum mendapat hak penuh sebagai warga negara Indonesia ataupun sebagai peserta JKN.
Agenda Pembangunan Agenda pembangunan kesehatan 2015-219 adalah mewujudkan akses dan mutu pelayanan kesehatan yang semakin mantap. Artinya setiap orang mendapatkan hak pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan, di tempat pelayanan kesehatan yang terstandar, dilayani ole tenaga kesehatan yang kompten, kata Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof Nila Farid Moeloek dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Zaini Ismail.
Ketika itu, Zaini memimpin upacara peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-50, Rabu (12/11) di Halaman Kantor Gubernur Riau di Pekanbaru.
Menkes mengatakan, pelayanan yang diberikan juga harus menggunakan standar pelayanan, dengan biaya yang terjangkau serta mendapatkan informasi yang kuat atas kebutuhan pelayanan kesehatan.
Untuk mewujudkan hal tersebut, menurutnya diperlukan kebersamaan pemahaman semua pemangku kepentingan, komitmen yang kuat dan kepemimpinan yang konsisten baik ditingkat nasional maupun ditingka daerah.
Sesungguhnya, demikian Nila, pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang, agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud.
Dia juga menambahkan di tengah meningkatnya faslitas pelayanan kesehatan dan bertambahnya jumlah dan kompetensi tenaga kesehatan disemua jenjang fasilitas pelayanan kesehatan, distribusi obat yang semakin membaik, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan kesehatan ini.
“Seperti tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi prevalensi gizi kurang dan stunting, beberapa jenis penyakit menular dan penyakit tidak menular tertentu,” sambungnya.
Momentum peringatan HKN emas tahun ini, Menkes mengajak untuk dapat dijadikan sebagai peningkatan tekad dan semangat semua pihak, untuk lebih memberikan makna pada masyarakat akan pentingnya kesehatan.
Dengan demikian, masyarakat berharap tidak lagi jatuh miskin saat menderita sakit. Dan Nila, menjadi harapan baru masyarakat untuk dapat menguatkan program-program kesehatan khususnya bagi mereka yang terancam oleh nasib “sadikin”, “sakit dikit miskin”!

Artikel ini ditulis oleh:

Riedl Sebut Lestusen Pemain Serba Bisa

Jakarta, Aktual.co — Pelatih Timnas Indonesia, Alfred Riedl menyebut Manahati Lestusen sebagai pemain serba bisa, sehingga bisa ditempatkan pada beberapa posisi di Timnas Indonesia yang akan bertanding di Piala AFF 2014 di Hanoi, Vietnam, 22 November.

Pemain Persebaya Surabaya yang sebelumnya menjadi tulang punggung Timnas Indonesia U-23 itu bisa bermain di posisi bek tengah, gelandang bertahan bahkan bisa bermain di posisi bek kiri. Posisi ini sudah sering dipakai di klub.

“Manahati bisa dipasang di bek kiri. Selain dia ada Rizki Rizaldi Pora,” kata Alfred Riedl setelah memimpin latihan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (12/11).

Kedua, kata Riedl, pemain ini berpeluang besar masuk dalam 22 pemain yang akan dibawa ke Vietnam. Hal ini terjadi karena dua pemain spesialis bek kiri yaitu Ruben Sanadi dan Tony Sucipto tidak dipanggil menjalani pemusatan latihan.

Khusus untuk Manahati, performa mantan pemain CS Vise ini cukup bagus, baik saat membela timnas maupun klub. Selain kokoh dalam bertahan, pemain asal Tulehu, Ambon ini juga aktif membantu dalam melakukan serangan.

Saat ini, Timnas Indonesia masih menyisakan 26 pemain yang menjalani pemusatan latihan. Sebelumnya ada tiga pemain yang sudah dicoret yaitu Andritany Ardhiyasa, Teguh Amirudin dan Dedi Hartono. Pencoretan dilakukan setelah latihan usai di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Rabu.

Sebanyak 26 pemain selanjutnya akan dipantau kembali perkembangannya termasuk saat pertandingan uji coba melawan Suriah di Jakarta pada Sabtu (15/11). Setelah itu akan ada lagi pencoretan terakhir sebelum timnas bertolak menuju Hanoi.

“Ada tiga pemain lagi yang akan dicoret. Kemungkinan besar di posisi pemain tengah. Untuk posisi lain saya kira sudah cukup,” kata pelatih asal Austria itu.

Saat ini ada 11 pemain yang berebut untuk dibawa ke Hanoi di antaranya adalah Bayu Gatra, Irfan Bachdim, Firman Utina, Ahmad Bustomi, Evan Dimas, Hariono, Immanuel Wanggai, Ramdani Lestaluhu, dan Muhammad Ridwan.

Artikel ini ditulis oleh:

Puncak Mahameru Berpotensi Kaluarkan Lahar Dingin

Lumajang, Aktual.co — Akibat meningkatnya aktivitas Gunung Semeru dalam tiga bulan terakhir, saat ini di puncak gunung tertinggi di pulau Jawa tersebut terdapat jutaan metrik ton material vulkanik berupa pasir dan bebatuan yang siap meluncur melalui DAS di kaki Gunung Semeru jika hujan menguyur.

Besarnya debit pasir dan bebatuan itu, bisa melebihi 9 juta metrik ton hasil aktivitas vulkanik selama musim kemarau ini.

Hal ini disampaikan Hendro Wahyono, Kabid Pencegahan, Kesiapsiagaan dan Logistik BPBD Kabupaten Lumajang.
Dua hari ini hujan mulai mengguyur wilayah Kabupaten Lumajang. Yang patut diwaspadai adalah adanya potensi bencana lahar dingin yang sangat berbahaya bagi warga yang bermukim di sekitar DAS (Daerah Aliran Sungai) di kaki Gunung Semeru.

“Diantaranya, DAS Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar. Kali Glidik, Kali Rejali, Kali Mujur, Kali Pancing dan Besuk Sat,” katanya. Di seluruh DAS itu, kemungkinan terjadi luncuran lahar dingin yang membawa material vulkanik berupa pasir dan bebatuan dalam jumlah besar bisa sewaktu-waktu terjadi.

Pasalnya jika sewaktu-waktu lahar dingin menerjang, maka potensi bahayanya akan sangat tinggi terhadap keselamatan jiwa masyarakat, khususnya yang tinggal didekat DAS. “Apalagi, berdasarkan laporan yang disampaikan PVMBG melalui pemantauan Gunung Api Semeru di Pos Pantau Gunung Sawur, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, saat ini kubah lava di puncak kawah Jonggring Saloko penuh,” ungkap Hendro Wahyono.

Tumpukan material vulkanik itu mengendap di bibir kawah sehingga ketika diguyur hujan akan meluncur dalam bentuk lahar dingin. Melihat debitnya yang sangat besar, maka potensi bahayanya juga sangat tinggi.

Dengan kondisi itu, Hendro menambahkan, masyarakat dihimbau untuk tidak beraktifitas disekitar DAS yang terhubung dengan gunung Semeru ketika kawasan puncak tertutup mendung. Ataupun, ketika lahar dingin menerjang, akan diawali dengan suara gemuruh dari atas Gunung.

“Jika itu terjadi, maka masyarakat kita imbau menjauh dari DAS. Ini demi keselamatan jiwa mereka sendiri,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Menyelamatkan Mereka yang Rentan Miskin Akibat Sakit (Bag. 1)

Jakarta, Aktual.co — Banyak orang mampu, tapi hanya sekadar untuk menutupi kebutuhan perekonomian keluarga secara pas-pasan.
Mereka itulah yang disebut “sadikin”, atau “sakit dikit miskin” atau akibat sedikit sakit jadi jatuh miskin, kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan, Riau, dr Endid Pratiknyo.
Dengan demikian, sesungguhnya kemiskinan dan kesehatan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Kemiskinan membuat mereka menjadi sulit mendapatkan layanan kesehatan, sementara kesehatan seketika bisa saja membuat yang kaya raya jatuh miskin.
Pemerintah memang telah meluncurkan berbagai program berkaitan dengan kesehatan bagi masyarakat, salah satunya adalah Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang telah dimulai sejak awal 2014.
Progam ini dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Secara nasional sejak awal Oktober, jumlah peserta JKN menembus angka 126 juta orang dan terbanyak merupakan peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang merupakan masyarakat kalangan kurang mampu.
Program ini terbilang sukses, namun satu yang menjadi kelemahan adalah peserta JKN yang menetap di pelosok desa, terlebih pada pulau-pulau terisolasi belum dapat menikmatinya secara penuh karena di daerah itu tidak memiliki layanan kesehetan memadai, tanpa dokter.
Merekalah “Sadikin”, warga yang sebenarnya miskin, dan akan lebih sengsara ketika jatuh sakit karena sebelum mendapatkan layanan kesehatan saja, mereka harus mengeluarkan uang banyak demi menempuh perjalanan jauh menuju pusat kota.
“Cara yang tepat untuk mengatasi persoalan itu adalah dengan melakukan pemerataan dokter hingga ke sejumlah wilayah pelosok desa,” ucap Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Provinsi Riau Nurzelly Husnedi, Selasa (28/10).
Nurzelly mencontohkan, di Riau saja masih banyak daerah jauh dari perkotaan seperti Pulau Rupat, Bengkalis dan sejumlah daerah lainnya di 12 kabupaten/kota yang belum memiliki fasilitas kesehatan memadai. Ditambah tidak ada dokter yang menetap di daerah-daerah terpencil seperti itu.
Menurut dia, itulah sebenarnya yang menjadi tugas utama Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek. Dia diharapkan mampu untuk membangun regulasi dalam pemerataan penempatan dokter hingga ke pelosok desa di Tanah Air.
“Saya cukup mengenal Menkes Nila F Moeloek yang merupakan orang berpengalaman, kami mengucapkan selamat atas terpilihnya beliau,” jelas Nurzelly Husnedi.
Dia mengungkapkan pihaknya mengharapkan Menkes yang berpengalaman itu mampu mengembangkan kesehatan masa depan agar jauh lebih baik, salah satunya adalah pemerataan dokter di daerah-daerah.
Nila F Moeloek resmi ditunjuk sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia dalam Kabinet Kerja Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk periode 2014-2019 pada 26 Oktober.
Wanita berusia 61 tahun itu disebut Presiden Joko Widodo sebagai sosok kaya pengalaman. Dia adalah istri dr Farid Anfasa Moelok, Menteri Kesehatan era Presiden B.J. Habibie pada 1997 hingga 1999.
Nila juga aktif mengajar di program doktor pascasarjana Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Terakhir dia menjabat sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Dalam lima tahun terakhir, Nila juga berkiprah besar untuk Millenium Development Goals (MDGs).
MDGs mengemban berbagai tugas global yang demikian vital seperti kemiskinan absolut, belum terjangkaunya pendidikan, kesenjangan gender, penyebaran HIV/AIDS dan penyakit menular lain, hingga kerusakan lingkungan.
Bebas “Sadikin” Sasaran dari Program MDGs juga sebenarnya berkaitan erat dengan orang-orang “Sadikin” (sakit dikit miskin) yang menetap di kawasan pelosok desa dan daerah-daerah terisolasi. Mereka mengalami kemiskinan berbagai sisi, mulai dari pendidikan yang minim, hingga layanan kesehatan yang sangat terbatas.
Sebelumnya Asisten Utusan Khusus Presiden Indonesia untuk tujuan pembangunan milenium (MDG), Diah Saminarsih mengatakan ada tiga target tujuan pembangunan millennium yang sangat sulit dicapai pada 2015. Seperti menurunkan angka kematian ibu melahirkan, menurunkan penyebaran virus HIV/AIDS serta mengakses air bersih dan sanitasi dasar.
Menurut Diah, hal itu disebabkan berbagai faktor di antaranya pembangunan yang belum merata sehingga infrastruktur maupun layanan kesehatan antara satu daerah dengan daerah lainnya berbeda.
Menurut data pemerintah, sejauh ini bahkan angka kematian ibu melahirkan selalu tinggi setiap tahun. Minimnya tenaga kesehatan di daerah terutama daerah terpencil di Indonesia merupakan salah satu penyebabnya.
Pengetahuan tentang kesehatan yang tidak memadai juga membuat banyak warga memilih jalan pintas saat hendak melahirkan. Salah satunya adalah menggunakan jasa dukun beranak agar tidak bernasib seperti “sadikin”.
Untuk mencapai tujuan MDGs mengenai kesehatan ibu, Indonesia harus menurunkan angka kematian ibu saat melahirkan menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada 2015, dari angka saat ini yaitu 228 per 100.000 kelahiran.
Pencapaian target MDGs terkait HIV AIDS kata Diah juga sulit dicapai oleh Indonesia pada 2015 karena dalam lima tahun terakhir jumlah penderita penyakit mematikan itu di Indonesia terus bertambah. Penyakit ini dilaporkan juga banyak menjangkiti masyarakat yang minim pengetahuan kesehatan sehingga tidak memiliki daya tangkal.
Menurut data Kementerian Kesehatan, saat ini ada sedikitnya 6.300 kasus AIDS dan 20.000 kasus HIV sejak 1987. Namun sejumlah pemerhati kesehatan memastikan angka sebenarnya jauh lebih besar.

Artikel ini ditulis oleh:

PT LI Pastikan Kompetisi DU Selesai Akhir November

Jakarta, Aktual.co — PT Liga Indonesia (PT LI), selaku operator kompetisi Divisi Utama (DU) memastikan bahwa, turnamen sepakbola kasta kedua itu akan selesai sebelum awal Desember 2014.

Sekretaris Jenderal PT LI, Tigor Shalom Boboy, mengatakan bahwa pihaknya telah menentukan waktu dan tempat digelarnya babak semifinal dan final DU.

“Iya pokoknya akhir November harus sudah beres. Untuk partai final tetap akan digelar di Sidoarjo, Jawa Timur,” ungkap Tigor ketika ditemui di kantor PT LI, Kuningan, Jakarta, Rabu (12/11).

Meski begitu, inti permasalahan PT LI adalah pada kontestan partai semifinal, Pusamania Borneo FC dan Persis Solo. Hingga kini, peserta resmi yang akan berlaga di semifinal baru ada dua yakni, Pusamania Borneo FC dan Persis Solo. Sedangkan dua klub lagi belum bisa ditentukan.

Seperti diketahui, kompetisi DU yang sudah memasuki babak delapan besar itu sedang terhenti setelah mencuatnya “sepakbola gajah” yang diperagakan oleh PSS Sleman dan PSIS Semarang. Kedua klub itulah yang menjadi biang keladi terhentinya kompetisi DU.

Selain itu, permasalahan yang melibatkan PSGC Ciamis dan Persiwa Wamena, semakin menambah rentetan keburukan sepakbola di kompetisi itu.

Keempat klub tersebut, memang berada pada grup yang sama. PSS dan PSIS sudah memastikan diri melaju ke babak semifinal DU. Namun, karena “sepakbola gajah”, Komdis memutuskan untuk mendiskualifikasi kedua tim tersebut dari DU musim 2014.

Seharusnya, dengan keputusan yang ditetapkan Komdis, PSGC dan Persiwa mendapatkan limpahan jatah tiket ke babak semifinal. Bukannya malah memanfaatkan, kedua klub itu malah berulah.

PSGC dan Persiwa juga melakukan hal kontroversial dengan tidak menggelar pertandingan terakhir babak delapan besar DU. Alhasil, kelakuan itu membuat keduanya terpaksa harus masuk ruang sidang Komdis.

Menaggapi hal tersebut, Tigor mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu keputusan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI. Disampaikan Tigor, jika PT LI tidak mau disalahkan untuk mengambil keputusan, apabila Komdis belum menentukan keputusannya.

“Liga tidak bisa mementukan, karena belum membaca keputusan Komdis dan Komisi Banding. Kita takut nantinya malah salah tafsir,” jelasnya.

“Sesuai regulasi PT LI, PSGC dan Persiwa akan menggantikan PSS dan PSIS di babak semifinal. Namun, kami tetap menunggu keputusan Komdis. Karena kami juga tidak mau semifinal nanti terjadi hal serupa,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Maling Sapi Bersenjata Pistol, Diringkus Polisi

 Lumajang,Aktual.co- Anggota Polsek Senduro Polres Lumajang-Jatim, berhasil menangkap komplotan pencurian hewan.

Dalam penangkapan yang dibantu warga ini, 3 pelaku berhasil diamankan. Mereka adalah Hindun (37), warga Desa Pakel, Kecamatan Gucialit, Rokhim (23), warga Desa Ranuwurung, Kecamatan Randuagung dan Budi (26), warga Desa Jenggrong, Kecamatan Ranuyoso.

Penangkapan ini berawal dari informasi Satuhan (35), warga dusun Darungan Kidul RT 001 RW 001, desa Sarikemuning Kec. Senduro yang menyebutkan Rabu (12/11), sekitar pukul 01.30 Wib, kehilangan 2 ekor sapinya saat ia memberi makan. Seketika, korban berteriak dan mengundang warga untuk berkumpul dan memburu larinya pelaku.

Warga membawa clurit dan pentungan langsung berangkat melakukan pengejaran. Sementara, yang lain menghubungi petugas Polsek setempat.

Dari kecepatan informasi kejadian, Petugas Polsek langsung bergabung dengan massa melakukan pengejaran. Tidak berselang lama, polisi yang dibantu belasan warga akhirnya berhasil menangkap 3 pelaku dan juga mengamankan 2 ekor sapi yang dicurinya.

“Ketiga pelaku berusaha kabur dengan melakukan perlawanan pada warga dan petugas. Berkat kesigapan dan keberanian  petugas bersama warga, akhirnya ketiga pelaku berhasil dibekuk bahkan nyaris dimassa,” ujar Riadi, warga setempat.

Untuk mengindari amukan masa, 3 pelaku langsung diglandang ke Mapolsek Senduro untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kanit Reskrim Polsek Senduro, Nurkhamzah dalam keterangan membenarkan soal penangkapan tersebut. Dari tangan tersangka, berhasil mengamankan sejumlah barang bukti berupa satu unit mobil Daihatsu Luxio Nopol BA-1731-DT, 2 ekor sapi limusin, dan sebuah senjata pistol jenis Softgun.

“Kita masih terus melakukan penyelidikan lebih lanjut dan mengungkap sindikasi komplotan maling ini,”tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain