14 Januari 2026
Beranda blog Halaman 42207

KPK Kembali Periksa Bupati Karawang Ade Swara

Tersangka Bupati Karawang, Ade Swara keluar dari mobil tahanan saat tiba di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Jumat (31/10/2014). Penyidik KPK kembali memeriksa Ade Swara terkait dugaan kasus pemerasan uang USD 424.349 kepada PT Tatar Kertabumi terkait izin pembangunan mal di Karawang dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).AKTUAL/JUNAIDI MAHBUB

Lagi, Wacana Pemekaran Provinsi Aceh Pase Raya

Banda Aceh, Aktual.co — Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Aceh Utara, T Hasansyah mendukung pemekaran Provinsi Aceh Pase Raya. Sebelumnya, rencana pemekaran wilayah telah diwacanakan oleh elit politik di Aceh yaitu Provinsi Aceh Leuseur Antara (ALA) dan Provinsi Aceh Barat Selatan (Abas).
“Saat ini, tim telah menyusun rencana pemekaran Provinsi Aceh Pase Raya. Kita rencanakan, kami mendukung penuh pemekaran provinsi itu. Tujuannya untuk kesejahteraan rakyat Aceh juga,” sebut  kepada Aktual.co, Jumat (31/10).
Disebutkan, kabupaten yang masuk dalam Provinsi Aceh Pase Raya yaitu Kabupaten Bireuen, Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Aceh Timur, Kota Langsa dan Kabupaten Aceh Tamiang. 
Disebutkan, pihaknya meminta agar Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah merestui pemekaran provinsi baru itu. Sehingga, percepatan pembangunan dan kesejahteraan rakyat Aceh segera terwujud.
Selain itu, sambung T Hasansyah, pihaknya meminta anggota DPR RI asal Aceh, mendukung pemekaran wilayah di bumi Serambi Mekkah itu. Diharapkan, Presiden Joko Widodo juga merespon wacana pemekaran provinsi di Aceh.
“Kita harap,niat pemekaran wilayah ini dimaknai positif oleh pemerintah pusat. Ini semata-mata untuk kesejahteraan rakyat,” pungkasnya.

Terkait Pemerasan, Istri Bupati Karawang Kembali Diperiksa KPK

Tersangka Anggota DPRD Karawang dan juga istri Bupati Karawang Ade Swara, Nur Latifah turun dari mobil saat tiba di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Jumat (31/10/2014). Nur Latifah akan diperiksa penyidik terkait dugaan kasus pemerasan uang sebesar USD 424.349 kepada PT Tatar Kertabumi untuk izin pembangunan mal di Karawang dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). AKTUAL/JUNAIDI MAHBUB

Menteri ESDM: Biaya Kelebihan Kuota BBM Akan Ditanggung Kemenkeu

Jakarta, Aktual.co — Menteri ESDM, Sudirman Said memastikan kuota BBM subsidi sebesar 46 juta kilo liter tidak akan cukup hingga akhir tahun ini. Konsumsi BBM subsidi dipastikan melebihi kuota karena tingginya konsumsi masyarakat.

Kendati demikian, Sudirman menjamin BBM subsidi hingga akhir tahun akan tetap disalurkan. Ia meminta Pertamina tetap mencari cara untuk menyalurkan BBM subsidi meski kuota telah habis.

“Stok cukup seluruh Indonesia hingga akhir tahun dan tidak ada rush. Memang menurut laporan terakhir, sekarang per hari ini sedikit melampaui kuota per hari. Diperkirakan akan terjadi pelampauan kuota,” kata Sudirman di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (31/10).

Ia mengakui Pertamina sebagai korporasi yang mencari untung akan kesulitan menyalurkan BBM subsidi yang sebenarnya sudah habis kuota. Akan tetapi  ketika ditanyai terkait kerugian yang akan ditanggung dari penambahan kuota, Sudirman hanya menyebut bahwa dirinya memastikan Pertamina tetap aman dan bisa berhubungan langsung dengan Kementerian Keuangan untuk mengurus dana subsidi.

“Tapi Pertamina sebagai pihak distribusi BBM subsidi berapapun harus disuplai karena permintaan masyarakat. Soal kelebihan itu Pertamina dengan Kemenkeu yang mengurusnya,” tukasnya.

Lebih lanjut Sudirman mengaku  bahwa dirinya juga sudah bicara mengenai hal ini kepada Pertamina. Dalam pertemuan ini, Pertamina menyatakan kesiapannya untuk mencukupi suplai bagi masyarakat.

“Kemarin kita sudah bicara, Pertamina ngerti banget dan mereka siapkan stok cukup. Jangan sampai stok kurang. Kita tetap lakukan pengendalian dengan perangkat kartu ini, kartu itu, tapi kita pastikan penambahan kuota memastikan tidak kekurangan BBM subsidi,” tutupnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Jakarta Monorail Tak Terbuka, Ahok Bakal Hentikan Proyek

Jakarta, Aktual.co —Bergantinya gubernur di DKI ternyata belum mampu merubah nasib proyek monorail yang terkatung-katung sejak jaman Gubernur Fauzi Bowo. 
Padahal sinyal mengenai bakal kembali dilanjutkannya proyek senilai Rp15 triliun itu sempat mencuat di jaman Gubernur Joko Widodo. 
Di mana pada Oktober tahun 2013 lalu peletakan batu pertama di proyek mangkrak itu dilakukan Jokowi di daerah Kuningan, Jakarta Selatan.
Namun, sampai sang gubernur akhirnya hengkang ke istana sebagai presiden, kelanjutan proyek yang digarap oleh PT Jakarta Monorail (JM) itu kembali meredup.
Pengganti Jokowi, yakni Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang untuk sementara ini menduduki kursi nomor satu di jajaran Pemprov DKI, justru mengatakan akan memutus kerjasama dengan PT JM.
Alasan Ahok untuk menghentikan megaproyek transportasi massal di Jakarta tersebut antara lain soal ketidakterbukaan PT JM untuk membeberkan data keuangan mereka. 
Padahal, kata Ahok, terbukanya PT JM untuk membeberkan data keuangan diperlukan agar Pemprov DKI bisa menilai apakah mereka mampu secara dana untuk meneruskan proyek monorail.
Di mana persyaratannya adalah mereka harus punya minimal 5persen dari total proyek senilai Rp15 triliun itu.
Sedangkan untuk bisa melakukan peminjaman uang di bank saja, kata Ahok, sebuah perusahaan harus bisa menyediakan 30 persen dari total dana yang dipinjam. 
“Makanya kita mau minta data keuangan mereka. Kita tanya mana duit kamu? Kalau tidak mau ngasih ya sudah saya tolak,” ujar Ahok di Balaikota DKI, Kamis (30/10) kemarin.
Mengapa Ahok sebut menolak? ternyata lantaran dia menganggap sejak tahun 2011 di jaman Fauzi Bowo, sebenarnya hubungan Pemprov DKI dengan PT JM sudah putus. “PT JM 2011 sudah nyatakan wanprestasi, kemudian diputus oleh Pak Fauzi Bowo.”  
Tetapi, usaha PT JM untuk ngotot melanjutkan proyek ternyata tak berhenti. Di jaman Gubernur Jokowi mereka kembali mengajukan kontrak baru. Pengajuan ini ternyata diizinkan kembali di Juni tahun 2013. Alasannya, Jakarta butuh transportasi massal. 
Masalah lama kembali muncul. Karena kelanjutan proyek itu ternyata hanya sampai di seremonial peletakan batu pertama saja, dan kembali mangkrak hingga kini. PT JM pun dianggap tak serius ingin menyelesaikan proyek.
Selain itu, Ahok ternyata menemukan kalau draft kontrak baru yang diberikan PT JM ternyata berbeda dengan isi di draft kontrak sebelumnya.
Karena isinya berbeda, Ahok pun menganggap perlu dilakukan lelang kembali. Di sinilah posisi PT JM jadi serba salah.
“Kalau beda, apakah masih boleh diberikan izin? Kan kalau ini gak pake proses tender atau lelang. Seharusnya kalau beda dengan yang lama harus lelang dong. Tapi kalau sama dengan yang lama, yang lama aja gak beres soal duitnya,” ujar Ahok.
Ditegaskan Ahok, dengan begitu maka dirinya sebenarnya bukanlah memutuskan kontrak dengan PT JM. “Tetapi menolak tawaran dia (PT JM) memperbaharui kontrak.” 
Pusing dengan terus mandeknya proyek, Ahok pun mengaku kalau saat ini pihaknya sedang mempelajari lagi semua data-data yang akhirnya diberikan PT JM. Untuk kemudian proyeknya akan dihentikan. 
“Kita lagi siapin, lagi pelajari semua datanya. Mungkin November (keputusannya).”
Sebelumnya, Direktur Utama PT Jakarta Monorail John Aryananda mengatakan kalau saat ini pihaknya tinggal menunggu izin pengerjaan monorel dari Pemprov DKI Jakarta saja. 
Sebab semua kelengkapan dokumen yang diminta Pemprov DKI, diakuinya sudah diserahkan September lalu.
“Intinya kami sudah berusaha. Disetujui atau tidak, lihat saja dalam pembahasan dokumen nanti,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Artikel ini ditulis oleh:

DPR Tandingan Tak Boleh Gunakan Ruang Rapat Paripurna, PKB Minta Sekjen Dicopot

Jakarta, Aktual.co — DPR tandingan yang ditunggangi oleh lima fraksi, yakni PDIP, NasDem, PKB, Hanura, dan PPP gagal menggelar rapat di Ruang Sidang Paripurna Gedung Nusantara II DPR RI, hari ini, Jumat (31/10).
Kegagalan mereka menggunakan ruangan paripurna itu, lantaran Sekjen DPR Winantuningtyastiti menegaskan tidak adanya agenda paripurna yang resmi hari ini. 
Menanggapi pernyataan itu, Politikus PKB Abdul Kadir Karding mengusulkan agar Sekjen DPR Winantuningtyastiti dicopot karena tak memfasilitasi DPR tandingan menggelar rapat.
“Saya akan mengusulkan nanti dievaluasi atau dicopot,” kata dia di gedung DPR, Jakarta, Jumat (31/10).
Menurut Karding, Sekjen DPR tak memasuki ranah politik. Sekjen DPR harus memfasilitasi para anggota DPR dalam berkegiatan.
“‎Jangan masuk ranah politik,” kata Karding.
‎Akibat tidak bisa melaksanakan rapat di Ruang Sidang Paripurna Nusantara II DPR, DPR tandingan akhirnya menggelar rapat di Ruang Badan Musyawarah Gedung Nusantara DPR. Menurutnya, hak-hak konstitusi anggota DPR telah dilanggar oleh Sekretaris Jenderal DPR.‎‎”(Sekjen) telah melanggar fungsi dia sendiri, telah melanggar hak konstitusi untuk memfasilitasi supaya seluruh hak-hak anggota DPR terpenuhi,” kata Karding. 

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain