3 April 2026
Beranda blog Halaman 42208

Seabad Gong Kebyar Kawal Budaya Bali Mendunia (Bag. 2)

Jakarta, Aktual.co — Bagi Bali tiada hari tanpa alunan suara gamelan dan gerak lincah orang menari. Alunan musik tradisional itu ibarat denyut nadi Pulau Dewata.
Geliat tari ibarat ritme kehidupan. Puspa ragam ekspresi seni tari tersaji dalam ritual keagamaan, aktivitas budaya, adat dan peristiwa sosial lainnya maupun yang digelar secara khusus sebagai tontonan wisatawan.
Menari bukan hanya dilakoni oleh gadis-gadis cantik dan perjaka-perjaka tampan. Dalam ritual agama Hindu yang dianut masyarakat Bali, orang-orang tua hingga anak-anak pun tampil menari.
Seratus tahun terakhir ini, kehadiran gong kebyar dengan segala perubahannya seakan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan berkesenian, ritual keagamaan, dan dinamika masyarakatnya.
Untuk memberi arti pada seabad gong kebyar memfokuskan pada dua hal, yakni pengaruh gong kebyar pada seni pertunjukan Bali, dan gong kebyar dalam konteks ekspresi budaya masyarakat Pulau Dewata.
Kedua hal itu, menurut Kadek Suartaya, yang juga kandidat doktor program pascasarjana Kajian Budaya Universitas Udayana dianalisis melalui pendekatan kajian teks dan konteks, sebab gong kebyar sebagai sebuah teks tentu memiliki keterkaitan dengan konteks sosial-kultural-religius kehidupan manusia, dalam hal ini manusia Bali.
Saling Mempengaruhi Suartaya yang sering memperkuat tim kesenian Bali mengadakan lawatan ke mancanegara itu menjelaskan, gong kebyar yang lahir di Bali utara dengan cepat menyebar ke penjuru Bali.
Perkembangan pesat gong kebyar bukan hanya secara fisik namun juga secara konsep estetik, terutama secara fungsional. Secara fisik, gong kebyar telah dikenal luas di Bali pascakemerdekaan RI, baik gong kebyar buatan baru atau gong kebyar yang didaur dari gamelan-gamelan yang telah ada sebelumnya.
Pada awalnya, bentuk fisik gong kebyar milik sebuah desa atau banjar, umumnya dengan tungguh instrumen yang masih bersahaja sering disebut lelengisan atau tanpa ukiran dan warna prada.
Hingga dimulainya lomba gong kebyar atau utsawa merdangga pada tahun 1968, utusan masing-masing kabupaten dan kota di Bali masih tampil dengan fisik gamelan yang sederhana.
Kendati dalam bentuk fisik yang sederhana, biasanya gong kebyar yang dibeli dengan susah payah itu oleh warga desa atau banjar pemiliknya, dipelihara dengan telaten. Tidak sembarang warga, terutama anak-anak, dibolehkan memainkan gamelan.
Sebab untuk dapat mengikuti trend gong kebyar yang merebak di Bali itu memerlukan biaya dan pengorbanan yang berat pada situasi krisis ekonomi yang sedang terpuruk.
Selain biaya uang, masyarakat yang ingin memiliki gong kebyar juga berkorban perasaan yang harus melebur gamelan yang telah dimiliki seperti semarapagulingan atau palegongan misalnya agar dapat berkebyaria.
Namun begitu kuatnya pesona gong kebyar memaksa masyarakat desa atau banjar mengikhlaskan gamelan warisan leleluhurnya diubah menjadi gong kebyar.
Ansambel gong kebyar sangat berpengaruh kepada gamelan lainnya. Pengaruh fisikal dari perkembangan kebyar itu dibarengi pula dengan pengaruh estetik musikal. Estetika ngebyar menjalar pada ekspresi musikal sejumlah gamelan Bali yang lainnya.
Ngebyar, kata dia, secara teknis musikal dalam seni tabuh didefinisikan sebagai sesuatu ungkapan secara serentak, keras, cepat, ramai, riuh, lincah, aksentuatif, sarat kejutan, dan seterusnya.
Dari sudut etimologis, kebyar sebagai sebuah istilah dalam bahasa Bali dapat dipandang secara audio dan visual. Secara audio kebyar adalah bunyi yang keras serentak dan secara visual kebyar adalah sinar sesaat yang terang benderang.
Karakteristik musikal ngebyar, secara sadar dan tak sadar, mewarnai estetika sebagian seni karawitan Bali seperti tampak dalam gender wayang, angklung, joged bumbung, dan balaganjur.

Artikel ini ditulis oleh:

Masuki Musim Penghujan, Harga Cabai di Yogyakarta Melonjak

Yogyakarta, Aktual.co — Setelah sempat melonjak akibat isu kenaikan harga BBM, memasuki harga cabai di pasar tradisional kota Yogyakarta, musim penghujan ini kembali naik signifikan. Bahkan harga jenis cabai tertentu saat ini mencapai Rp55 ribu per kilogram.

Dari pantauan di pasar tradisional Beringharjo Yogyakarta, Senin (10/11/2014) kenaikan harga paling signifikan terlihat pada jenis cabai kriting merah. Menurut salah seorang pedagang, Desi, harga cabai kriting merah naik dari Rp40-45 ribu menjadi Rp50-55ribu per kilogram.

Juga untuk cabai rawit merah naik dari Rp35 menjadi Rp40 ribu per kilogram. Sementara harga cabai jenis teropong berkisar Rp42 ribu per kilogram.

Sebaliknya harga cabai jenis rawit putih justru menurun dari Rp35 ribu menjadi Rp30 ribu per kilogram.

Selain dipengaruhi isu rencana kenaikan BBM, menurut pedagang, kenaikan sejumlah harga cabai juga dipengaruhi oleh pergantian musim dari kemarau ke musim penghujan yang terjadi saat ini. Sehingga, membuat cabai semakin sulit ditemukan.

“Memang kalau memasuki musim penghujan biasanya akan naik. Karena barang menjadi mudah busuk. Sehingga otomatis harga juga menjadi naik,” katanya. (Haadi)

Artikel ini ditulis oleh:

Seabad Gong Kebyar Kawal Budaya Bali Mendunia (Bag. 1)

Jakarta, Aktual.co — Bagi Bali tiada hari tanpa alunan suara gamelan dan gerak lincah orang menari. Alunan musik tradisional itu ibarat denyut nadi Pulau Dewata.
Geliat tari ibarat ritme kehidupan. Puspa ragam ekspresi seni tari tersaji dalam ritual keagamaan, aktivitas budaya, adat dan peristiwa sosial lainnya maupun yang digelar secara khusus sebagai tontonan wisatawan.
Menari bukan hanya dilakoni oleh gadis-gadis cantik dan perjaka-perjaka tampan. Dalam ritual agama Hindu yang dianut masyarakat Bali, orang-orang tua hingga anak-anak pun tampil menari.
Karena menari adalah kesukacitaan yang mengasyikkan sebagai sebuah persembahan sekaligus ekspresi estetik.
Pemerhati seniI Kadek Suartaya, SSKar, MSi, mengemukakan bahwa gong kebyar salah satu instrumen gamelan Bali yang telah seratus tahun mengawal budaya Bali dan kini keberadaannya telah mendunia.
Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang lahir di daerah “gudang seni” Bali, yakni Kabupaten Gianyar, 53 tahun silam ini menjelaskan gamelan gong kebyar yang muncul tahun 1914 atau 1915, telah menapak Benua Eropa pada tahun 1931.
Dalam ruang jelajah berikutnya, kata ahli gamelan Bali dan kerawitan ini, gong kebyar menyebar ke Benua Amerika, Asia, dan Australia. Di tanah kelahirannya Pulau Dewata, gong kebyar selain dimiliki oleh setiap desa atau banjar, juga oleh sanggar-sanggar seni pribadi, kantor pemerintah hingga sekolah-sekolah.
Gamelan berusia seabad ini juga dapat dijumpai di penjuru Nusantara, seperti di kota-kota besar Jakarta, Surabaya, dan Bandung hingga di lingkungan komunitas etnik Bali, seperti di Lampung, Palu, dan tanah Papua.
Gong kebyar pada awalnya berkembang di Bali utara. Kebaruan dan kecemerlangan yang diekspresikan gamelan yang dikembangan dari gamelan kuna gong gede, dengan cepat merebak ke seluruh Bali.
Setidaknya pada tahun 1930-an, uforia gamelan itu telah bergemuruh dalam pentas gong kebyar antarkerajaan se-Bali. Karakteristik musikal gong kebyar itu turut pula mempengaruhi prinsip-prinsip keindahan ansambel gamelan Bali yang lainnya, baik barungan gamelan yang lebih tua usianya, seperti gender wayang hingga gamelan yang lebih muda seperti gamelan joged bumbung.
Begitu kuatnya arus gong kebyar yang menggelinding dari Buleleng, sempat melibas keberadaan gamelan khas Bali selatan. Sekitar tahun 1950-1960 tidak sedikit gamelan semarapagulingan, palegongan, panyalonarangan misalnya, dilebur menjadi gamelan gong kebyar.
Paling Populer Michael Tanzer, peneliti dari Amerika Serikat dalam bukunya, “Gamelan Gong Kebyar: The Art of Twentieth-Century Balinese Music” (2000) menyebut gong kebyar sebagi genre gamelan paling populer dan berpengaruh dari seluruh musik pada abad ke-20 yang berkembang di Pulau Bali.
Dalam bab pendahuluannya Tanzer menegaskan, gong kebyar memiliki sikap mandiri yang tegas dan penuh sadar diri, terbebas dari berbagai katagori dan fungsi musik sebelumnya, suatu sikap yang secara jelas terdengar dalam gerakan dan ritme musik, bahkan pada perkenalan pertama.
Rupanya sejak awal kelahiran gong kebyar memang diciptakan sebagai musik instrumentalia dan wadah bagi para komponisnya untuk mengekspresikan diri, kebebasan mencipta lagu baru, membuat aransemen yang rumit sebagai pertanda kreasi baru.
Gong kebyar memiliki keunikan, baik dari segi musikalnya maupun dalam konteks sosial budayanya. Kehadiran dan perjalanan gong kebyar di tengah masyarakat Bali beriringan dengan dinamika kebudayaan Bali, sejak prakemerdekaan hingga sekarang. Sebagai sebuah nilai budaya atau simbol masyarakat.
Gong kebyar turut serta mengawal budaya Bali dalam segala perubahan sosio-kulturalnya. Karakteristik budaya Bali dengan sinergi agama-estetika-solidaritasnya, menyertakan gamelan gong kebyar dalam berbagai ekspresi dan aktivitas masyarakat.
Demikian pula sebaliknya, sebagai ekspresi budaya, gong kebyar hadir sebagai representasi yang signifikan pada peristiwa dan prilaku budaya masyarakat Bali.
Sebab, musik pada dasarnya adalah suatu lambang dari hal-hal yang berkaitan dengan ide-ide maupun perilaku suatu masyarakat.

Artikel ini ditulis oleh:

Tunggu Rekomendasi Ahok, Kemendagri Pikirkan Cara Pembubaran FPI

Semarang, Aktual.co — Mendagri Tjahjo Kumolo menyatakan belum menerima surat rekomendasi dari Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama soal pembubaran organisasi massa Front Pembela Islam (FPI).

“Ya sudah kita tunggu saja dulu. Katanya sudah masuk Kemendagri tapi sampai kemarin malam, saya cek belum ada,” kata Mendagri di Semarang, Selasa (11/14).

Plt Gubernur DKI Jakarta sepengetahuan Mendagri memang mengirimkan perihal surat rekomendasi tersebut kepada Kemendagri. “Dia mengajukan dulu ke Menteri Hukum dan HAM. Kita tunggu saja dulu, saya belum baca,” ujar Tjahjo.

Mendagri menuturkan Kemendagri masih memikirkan cara yang tepat untuk membubarkan organisasi massa yang kontroversial tersebut. Setiba surat dari Plt Gubernur DKI Jakarta tadi di meja kerjanya, Mendagri memastikan bakal meminta staf ahli di Kemendagri untuk menelaah celah hukum yang bisa menjadi landasan pembubaran FPI.

“Setiap usulan dari daerah, tetap kami pelajari dan kami telaah,” tegas Tjahjo.

Plt Gubernur DKI Jakarta yang akrab disapa Ahok pernah mengirimkan surat rekomendasi Kemenkumham dan Kemendagri soal pembubaran FPI. Sebaliknya FPI menolak Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta, karena menilai agama yang dianutnya tidak sesuai dengan aspirasi mereka. (Uki)

Artikel ini ditulis oleh:

Perdamaian KIH-KMP Jalan Tengah Terbaik

Jakarta, Aktual.co — Anggota Fraksi Partai Amanat Nasional Saleh Partaonan Daulay mengatakan fraksinya akan menerima kesepakatan damai antara Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat di parlemen.
“PAN Insya Allah akan menerima walau ada beberapa catatan yang masih perlu diperdalam. Salah satu perumusnya kan Ketua Umum PAN Hatta Rajasa,” kata Saleh Partaonan Daulay melalui pesan singkat di Jakarta, Selasa (11/11).
Ketua DPP PAN itu meyakini Hatta akan mencari jalan tengah terbaik dalam menyelesaikan permasalahan antara KMP dan KIH sehingga DPR bisa segera bekerja bersama dengan pemerintahan Jokowi Widodo-Jusuf Kalla.
Nota kesepahaman damai antara KMP dan KIH sudah dibicarakan lintas partai. Karena itu, Ketua Komisi VIII DPR itu mengatakan kalaupun ada yang belum sepakat, kemungkinan hanya karena ada beberapa klausul yang dinilai perlu diperjelas.
Sebelumnya, KIH dan KMP bersepakat untuk mengakhiri konflik di DPR dengan beberapa kesepakatan. KIH dikabarkan akan mendapatkan jatah 21 pimpinan dalam alat kelengkapan dewan.

Artikel ini ditulis oleh:

PAN: Pola Pemilihan AKD Tak Berubah

Jakarta, Aktual.co — Wakil Ketua Umum PAN Dradjad Wibowo mengatakan pola pemilihan di Alat Kelengkapan Dewan (AKD) tidak diubah meskipun ada rencana revisi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPRD, dan DPD untuk menyelesaikan kekisruhan di DPR.
“Memang ada perubahan UU MD3 dan tata tertib dewan namun pemilihan pola paket belum akan diubah,” kata Drajat, di Jakarta, Selasa (11/11).
Dradjad mengatakan hal itu berarti sama dengan polanya seperti yang terjadi pada tahun 1999 dan 2004 bukan 2009.
Menurut dia, perubahan UU MD3 dan tatib itu untuk mengakomodir kepentingan KIH sehingga dicapai kesepakatan untuk menyatukan parlemen.
“Tentu saja PAN sudah membahas perubahan itu dan ada beberapa poin inti,” ujarnya.
Dia menjelaskan perubahan dalam UU MD3 dan tatib khususnya terkait dengan jumlah pimpinan komisi dengan penambahan satu wakil ketua. Dradjad mengatakan KIH akan mendapatkan 16 kursi wakil ketua di masing-masing komisi.
“KIH akan mendapat 16 wakil ketua, formatnya wakil ketua ditambah satu dari yang sudah ada saat ini,” katanya.
Selain itu Dradjad mengatakan Ketua Umum PAN Hatta Rajasa dan Zulkifli Hasan berperan dalam mendamaikan kekisruhan antara KMP dan KIH. Kedua tokoh itu menurut dia berperan penting dalam membangun pembicaraan antara kedua kubu tersebut.
“Ketum PAN (Hatta Rajasa) dan Bang Zul (Zulkifli Hasan) berperan kunci dlm pembicaraan antara KMP dan KIH,” ujarnya.
Sebelumnya politisi PDI Perjuangan Pramono Anung mengatakan pertemuan antara pimpinan Koalisi Indonesia Hebat dengan Koalisi Merah Putih di ruang Ketua DPR pada Senin (10/11) menghasilkan tiga kesepakatan.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain